
Wajah Joy terlihat begitu bahagia, makan malam impian bersama Shanum terasa begitu berkesan.
Maharani hanya melihat dengan wajah haru, tak ingin mengganggu suasana hati sang putra yang sedang mengingat moment bahagia bersama Shanum, akhirnya Maharani membiarkan sang putra yang tengah asik dengan dunianya sendiri.
Apapun akan mommy lakukan untukmu sayang, gumamnya dalam hati.
Di pandanginya foto sang putra saat menikmati makan malam tadi, foto yang di ambil secara sembunyi-sembunyi oleh orang suruhannya.
Wajah cantik, dan posisi CEO yang di pegang menandakan bahwa bukan hanya kecantikan yang gadis itu punya, namun juga pintar, sungguh pantas jika suatu saat Joy bersanding dengannya, pikir Maharani bangga melihat sosok gadis yang di cintai putranya.
*
*
Shanum melangkah dari parkiran apartemen setelah memarkir mobilnya, cuaca grimis membuat malam terasa dingin.
"Ehmm hmm"suara bariton mengagetkannya.
"Kau sedang apa di sini Ngga?"tanya Shanum dengan mata membulat saat melihat Rangga tengah berdiri tepat di hadapannya dengan baju basah kuyup.
"Aku kangen ....Sha"jawab Rangga dengan bibir bergetar.
"Ayo.."Shanum segera meraih tangan Rangga lalu melangkah cepat ke arah lift dan memencet tombol menuju ke lantai apartemennya.
Meski berusaha agar tetap tenang namun getaran tubuhnya masih dapat Shanum rasakan, bibir yang mulai membiru dan jari tangan pun terlihat mulai berkeriput, entah berapa lama ia di luar dengan tubuh basah kuyup menunggunya.
Shanum pun terlihat gugup saat pintu apartemen sudahterbuka.
Tubuh dan baju yang basah sedangkan ia sama sekali tak memiliki baju lelaki di apartemen.
Setelah memberikan handuk dan menyuruh Rangga untuk membersihkan badan di kamar mandi, Shanum menuju ke lemari pakaian dan mencari baju atau kemeja yang mungkin dapat Rangga pakai.
Semua isi lemari sudah ia leluarkan, tapi tak satu pun baju yang pantas di gunakan untuk Rangga.
Shanum makin gugup, pandangannya ke arah pintu kamar mandi dimana Rangga tengah membersihkan tubuhnya, yang mungkin sebentar lagi selesai.
__ADS_1
Bagaimana ini, mana mungkin ia hanya memakai kimono ini, Shanum bermonolog sambil memandang kimono tidurnya, karena kimono itulah satu-satunya baju yang muat di tubuh Rangga.
Ceklek
"Jangan mendekat" teriak Shanum saat melihat Rangga keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
Shanum tak dapat menahan debar jantung yang tiba-tiba berdetak kencang, dada bidang dengan perut sixpack yang sekilas di lihatnya, membuat wajah putihnya kini berrona merah bak kepiting rebus.
Seumur-umut baru kali ini Shanum melihat tubuh polos seorang pria secara nyata di hadapannya, tentu saja selain di pantai saat ia berlibur.
"Sha...apa kau akan membiarkanku kedinginan seperti ini"tanya Rangga dengan senyum smirk, melihat Shanum masih tertegun memegang baju kimono yang mungkin hendak di berikan padanya, muncul ide gila Rangga.
"E ehmmm ..."ucap Shanum masih terbata tanpa membalikan tubuhnya, hingga wajah Rangga yang kini sedang tersenyum ke arahnya pun tak terlihat.
"Sha...aku dingin Sha"dengan suara bergetar Rangga melangkah perlahan ke arah sofa.
Shanum sontak membalikan tubuhnya dan memandang rangga yang terlihat bergetar karena menggigil kedinginan.
Tak ingin suatu hal buruk terjadi pada pria yang beberapa hari lagi sah menjadi suaminya, Shanum melangkah menyusul Rangga ke arah sofa lalu menyodorkan baju kimononya.
"Pakailah, hanya ini yang kurasa cukup di badanmu Ngga"ujar Shanum.
"Ngga,cepatlah kau pakai kimono ini, agar tubuhmu hangat"Shanum terlihat mulai panik karena Rangga masih menggigil kuat.
"Hhhmm...aku tidak kuat Sha"lalu dengan gerakan sangat perlahan, Rangga membaringkan tubuhnya di sofa, dan matanya pun mulai terpejam.
"Ngga, Rangga...bangun"Shanum mengguncang tubuh kekar Rangga yang kini terbaring lemah, namun tak ada reaksi sama sekali.
Shanum segera mengambil minyak aroma therapy yang ada di dalam kamarnya, lalu menggosokan di tengkuk, dan dada bidang Rangga, semua rasa canggung yang sempat menyergapnya kini hilang berganti rasa cemas yang ada di hatinya.
Dengan lembut Shanum mengoleskan dan memijit pelipis Rangga,berharap dapat menyadarkannya.
"Ngga, sadar dong Ngga "Ucapan Shanum di samping telinga Rangga.
Dengan gerakan ragu-ragu, Shanum mulai memakaikan kimono ke tubuh Rangga, tanpa membuka handuk yang sedang di pakainya.
__ADS_1
Beberapa kali Shanum menepuk pipi Rangga pelan, namun masih belum membuat kesadaran Rangga kembali.
"Rangga...,bangun Ngga hiks hiks"Shanum mulai terisak, perasaan takut kini mendera dadanya, takut akan kehilangan pria yang kini terbaring lemah di depannya.
Shanum meraih ponsel denga air mata yang kini kian deras mengalir dari sudut matanya.
"Hiks ..hiks...Nggak nyambung-nyambung lagi asisten Harun"ucapnya kesal lalu kembali memijit punggung tangan Rangga.
Pandangannya memindai ke arah tubuh yang masih terbaring, kaos kaki pun telah ia gunakan untuk menutupi seluruh kakinya, suhi kening pun tampak normal, namun mengapa Rangga masih tak juga membuka matanya, pikir Shanum kebingungan.
"Tensi juga normal" Shanum bermonolog sambil melihat termometer yang hasilnya pun tak ada kelainan di tubuh Rangga.
Kembali Shanum menggoyangkan termometer lalu kembali menempelkan di ketiak Rangga.
Cup
Rangga meraih tubuh Shanum dengan tiba-tiba, lalu mendaratkan kecupan di pipi Shanum, senyumnya merekah bahagia.
Netra mata keduanya kini saling bertemu, Rangga menatap Gadis yang sudah dua hari ini membuatnya menggila karena rasa rindu yang mendera di hatinya.
Shanum masih diam membeku di atas tubuh Rangga yang kini mendekapnya erat.
Rangga mengusap air mata yang membasahi pipi halus Shanum.
"Maaf aku sudah membuatmu cemas"ujarnya pelan.
Kini jarak keduanya kian menipis saat Rangga kian mendekatkan wajahnya ke arah Shanum.
Dengan perlahan di kecupnya bibir mungil yang selama ini selalu mengganggu mimpinya.
Rangga mengusap sisa salivanya di bibir Shanum, matanya masih lekat memandang gadis yang masih mematung di atas tubuhnya itu.
"Ehmm apa kau merasa nyaman berbaring di atas tubuhku Sha"ucapan Rangga bagaikan petir yang membuyarkan lamunan Shanum.
"Aaakhhh, Ranggaa, apa yang telah kau lakukan padaku"Shanum bangkit dan berteriak sambil menutupi bibirnya yang telah menjadi korban kejahilan Rangga.
__ADS_1
"Curang kau, dasar mesum, awas kau yaaah"Shanum berteriak sambil memukul-mukul tubuh Rangga membabi buta, namun seakan sia-sia tenaganya karena dengan mudah Rangga menahan kedua tangan kecil itu lalu menahannya di depan dadanya.
"Biarin, mesum sama calon istri sendiri nggak apa-apa, sekalian pemanasan"balas Rangga dengan kedipan mata genit, membuat Shanum kembali meronta.