
Rangga kini duduk dengan wajah menunduk, sungguh ia merasa tidak enak pada ayah mertuanya.
Hardy memalingkan wajahnya agar senyumnya tak terlihat oleh menantu.
Mungkin Rangga menganggap ia telah marah padanya setelah melihat perbuatan Rangga yang sedang memeluk Shanum dengan erat sedangkan bahu Shanum sedang dalam terluka.
"Bagaimana kondisimu Sha?"tanya Hardy lalu duduk di samping ranjang pasien.
"Sudah lebih baik yah"jawab Shanum lalu melihat ke arah ibu mertuanya dan Ardi sang adik ipar.
"Bagaimana keadaanmu neng, maaf ibu baru jenguk kamu sekarang"ujar Hana dengan mata berkaca-kaca.
Di usapnya puncak kepala menantunya dengan lembut.
"Nggak apa-apa bu, maaf kalau Shanum sudah merepotkan ibu, baru jadi menantu sehari sudah bikin ibu sedih"ujar Shanum penuh haru, baru kali ini ia mendapat perhatian selayaknya perhatian dari seorang ibu pada anaknya.
Meski badannya masih terasa sakit namun ia rela menjalaninya jika mendapat kasih sayang dan perhatian yang begitu besar dari suami dan ibu mertuanya.
Sudut mata Shanum melirik ke arah Rangga yang masih tampak tegang setelah ayah Hardy menegurnya.
"Sayang, tolong ambilkan minum, aku haus"pinta Shanum.
Rangga tergagap dan segera mengambil gelas yang berada di atas meja di samping Hardy.
Hardy melihat ketegangan di wajah menantunya pun akhirnya tersenyum.
"Kenapa wajahmu tegang seperti itu Ngga?"tanya Hardy dengan menahan senyum.
"Tenanglah, aku tidak sungguh marah padamu Ngga, hanya sekedar mengingatkanmu kalau ingin cepat belah duren, kau harus menjaga istrimu dengan extra hati-hati, biar cepat sembuh dan malam pertama yang tertunda bisa cepet terlaksana"ucap Hardy dengan senyum di wajah.
Sebagai seorang lelaki ia pun sadar bagaimana rasanya menahan gejolak yang sudah menumpuk di kepala dan bagian inti tubuhnya, apalagi setelah mereka sah sebagai sepasang suami istri.
"Ayah, apaan sih"bisik Shanum dengan wajah merona mendengar ucapan frontal dari sang ayah.
"Nak ayah sudah tua, ayah ingin cepat-cepat menimang cucu, kau harus cepat sembuh biar ayah tidak terlalu lama menunggunya"sambung Hardy lagi dengan polosnya.
Rangga kini tersenyum lega, rupanya ayah mertua tidak benar-benar marah padanya.
"Di tolong ambil bungkusan yang tadi ibu bawa,"perintah Hana pada putra bungsnya .
"Iya bu"Ardi lalu membuka bungkusan dan menyodorkan pada Hana.
"Neng, ini ibu bawa sop ikan gabus, katanya baik buat pemulihan bagi orang yang baru operasi, pagi-pagi ibu pesan sama pelayan di mansion supaya membeli ikannya di pasar "Hana membuka bungkusan berisi sop ikan gabus lalu menyuapkan pada Shanum.
Tercium aroma wangi masakan ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Hmm enak bu, ternyata daging ikan gabus kayak daging ayam yah"ucap Shanum berbinar, baru pertama ia memakan ikan di masak sop.
"Iya, kapan-kapan kalau kalian pulang ke kampung, pasti akan ibu masakin gabus ini, banyak di kampung mah, harganya juga murah, tidak seperti di kota, udah ikannya kecil-kecil, harganya mahal lagi"tutur Hana.
Shanum tersenyum sambil terus mengunyah sop yang terasa sungguh lezat di lidahnya.
"Bu, Rangga nggak di kasih?"tanya Shanum merasa kasihan melihat Rangga yang hanya melihatnya tengah menikmati masakan ibunya.
"Nggak usah, ini masakan khusus buat yang sedang sakit, biar cepat pulih"jawab Hana.
"Kamu makan cake durian itu saja Ngga, tadi bibi di mansion juga membuat cake durian untuk kalian"ujar Hana.
Sinar mata Rangga pun berbinar senang, lalu membuka bungkusan berisi cake durian kesukaannya.
Rangga menyodorkan pada sang ayah mertuanya, namun Hardy menggeleng pelan.
"Ayah tidak menyukai durian Ngga, apalagi mencium aroma cake itu, ayah merasa mual"Hardy menutup hidungnya.
Sontak Rangga segera menutup kembali dengan rapat, bungkusan cake durian tersebut agar aromanya tidak menyebar ke seluruh ruangan.
Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menatap sang ibu dengan wajah memelas, sungguh Rangga begitu menyukai durian, namun jika memakannya tentu Hardy akan ikut mencium aroma yang membuatnya mual.
"Kau bisa memakannya di luar bersama adikmu"ucapan Hana membuatnya tersenyum lebar.
Ide bagus, dengan begitu ia bisa memakannya dengan puas, batin Rangga.
"Neng, ibu nggak bisa nungguin kamu sampai sembuh, ibu harus pulang, sudah terlalu lama ibu meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, konter Ardi juga sudah beberapa hari tutup tidak enak sama pelanggan"nada ucapan lembut dari Hana.
"Tidak apa-apa bu, Shanum di sini sama Rangga juga Ayah" jawab Shanum.
"Kamu jaga kesehatan, dan jangan terlalu lelah, makan yang banyak yah" nasihat yang membuat hati Shanum terasa hangat karena perhatian ibu mertuanya yang begitu baik.
"Bilang sama ibu kalau Rangga membuatmu kesal"
Shanum mengangguk haru matanya kini berembun, bahagia rasanya memiliki mertua sebaik ibu Hana.
"Oiya ini baju buat ganti kamu neng, juga punya Rangga sudah ibu pisahin jadi biar gampang ngambilnya"Hana dengan telaten membenahi barang bawaannya untuk di masukan ke lemari pasien.
"Ibu nanti pulang sama siapa?"tanya Shanum.
"Ardi sudah memesan travel, ayah mu tadi mau nganter cuma kasihan dari semalam istirahat cuma sebentar karena mikirin kamu, belum lagi tadi meeting tahunan yang tidak boleh di tinggal, begitupun asisten Harun, ibu suruh istirahat saja, dari kemarin bolak balik terus belum sempet istirahat"Ujar Hana dengam bijak, Shanum pun mengangguk mengerti.
"Sha, aku anter ibu dulu yah sampai gerbang rumah sakit"ujar Rangga yang kini sudah berada di ruangan kembali.
"Iya, hati-hati ya bu, Di jaga ibu ya"Shanum melambaikan tangannya, Ardi pun tersenyum sambil mengacungkam jempolnya ke arah Shanum yang kini sudah menjadi kakak iparnya.
__ADS_1
Hardy melangkah kembali ke dalam ruangan setelah ikut mengantar besannya sampai di pintu pembatas ruangan.
"Ngga, aku pulang dulu, aku titip putriku karena memang sekarang sudah menjadi tanggung jawabmu, jaga dia "ucap Hardy tenang namun tegas.
Rangga mengangguk hormat.
"Huff, akhirnya.."ucap Rangga lega.
"Kenapa sayang, sepertinya kau senang sekali ayahku pergi"tanya Shanum penuh selidik.
"Ehmm tidak, aku hanya ingin menikmati waktu kita berdua"jawab Rangga dengan senyum smirk.
"Tadi ibu bawa baju ganti kan?"tanya Rangga.
"Iya itu di lemari"Shanum mengedikan bahunya.
Rangga pun membuka lemari dan mengambil baju milik Shanum dan miliknya.
Shanum memandang Rangga penuh tanda tanya.
"Ehh eh mau ngapain kamu?"tanya Shanum panik melihat Rangga berdiri dan mengulurkan kedua tangannya ke tubuhnya.
"Mau mengganti bajumu sayang, nggak enak pake baju dari rumah sakit"jawab Rangga santai sementara Shanum sudah ketar -ketir melihat Rangga yang kini berubah begitu menakutkan.
"T tidak, biar perawat saja yang gantiin bajuku"kata Shanum terbata.
"Kenapa harus perawat, bukankah aku suamimu?"tanya Rangga kini berubah tegas, kesal hatinya melihat penolakan Shanum, padahal ia hanya akan mengganti bajunya.
"Aku malu".
"Kenapa harus malu, toh semua yang ada di tubuhmu akan menjadi miliku"nada bicara Rangga semakin membuat Shanum merinding.
"Iya ..tapi kan"ucapan Shanum tak selesai saat Rangga menekan jari telunjuknya di bibir Shanum.
"Ssttt,"
Dengan perlahan Rangga mulai melepas satu persatu kain yang melekat di tubuh Shanum, lalu menggantinya dengan baju yang telah di bawa ibunya.
Mempunyai istri cantik memang membuat repot, meski tubuhnya tak berdaya tapi masih sanggup membuat bagian tubuhku yang lain berdiri sempurna, batin Rangga.
Meski wajahnya terlihat tenang namun debaran jantungnya sungguh sedang bekerja tak karuan.
Saat melepas baju pasien dari tubuh Shanum tadi tangan Rangga sempat bersentuhan dengan benda kenyal nan lembut milik Shanum, selimut yang menutupi tubuhnya pun beberapa kali tersingkap.
Glek.
__ADS_1
πππ
Rangga panas dingin sementara Shanum sudah seperti kepiting rebusπππ