
Terima kasih sudah mampir di cerita recehku yang pertama ini.
Dan author akan lebih berterima kasih lagi kalau kalian sudi berikan like, komen dan vote nya, apa lagi di tambah bunga dan kopi
Maaf ya kalau author maruk, Happy reading 😘😘😘😘
💦💦💦💦💦
Rangga melangkah memasuki ruang divisinya.
Hari ini ia sudah berencana akan tetap tinggal sampai waktu kerja usai, nyaman rasanya berada di ruangan yang penuh kenangan dan teman-teman yang sudah dekat bagai saudara.
Dua tahun lamanya Rangga habiskan waktu di ruangan itu.
Dua kembar yang selalu menemaninya dalam suka maupun duka dan mereka selalu saling membantu jika ada yang sedang mengalami kesusahan.
Danu memandang lekat ke arah Rangga.
Pria yang dua tahun menemaninya dan sudah seperti saudara sendiri, rupanya menyimpan rahasia besar yang bahkan dirinya sendiri tak menyadarinya.
Danu memeluk erat Rangga.
"Biarkan aku memelukmu sebagai rekan kerjaku untuk terakhir kali"ujar Danu dengan suara bergetar.
"Kenapa terakhir, bukanya kita masih berada dalam satu gedung?"jawab Rangga protes.
"Iya kali, gue masih bicara elu, gue, sama lu jika jabatanmu sudah berada di atas kepala gue"jawab Danu ketus.
Rangga hanya nyengir kuda, padahal hatinya juga tak ingin mereka berubah sikap padanya.
Dika menghela nafas panjang, hatinya begitu terkejut setelah mendengar cerita dari kembarannya, setelah meeting.
"Selamat bro, lu memang pantas mendapatkannya"ucap Dika dengan lapang sambil menepuk pundak Rangga.
Tak dapat di pungkiri, hati Dika bergetar perih saat wanita yang selama ini di damba, menjadi milik sahabatnya sendiri.
"Aku hanya ada satu permintaan untuk kalian"Rangga memandang kedua sahabatnya bergantian.
"Jangan jauhi aku, apapun kelak keadaanku di depan, karena kalian adalah sahabat-sahabat terbaikku"ucap Rangga bijak.
"Tegurlah aku jika memang aku salah, ingatkan aku jika ternyata jalanku tak lagi lurus, dan peluk aku jika sedih sedang menyapaku, hanya kalian yang bisa mengubahku, tetaplah di sisiku hingga ajal memisahkan kita ".
Ketiga pria itu pun saling berpelukan penuh haru.
Waktu pun beranjak sore, Rangga kini dengan leluasa menunggu Shanum di area parkir tanpa harus bersembunyi karena kini semua telah terbuka, jati diri bahkan juga statusnya kini.
Shanum tersenyum senang saat melihat Rangga tengah menunggu kedatanganya.
Keduanya saling berpelukan erat, dengan lembut Rangga mencium puncak kepala Shanum.
"Kita mampir dulu ke rumahmu"ucap Rangga.
"Rumahku?"tanya Shanum heran.
"Iya rumah yang ku beli untukmu"ujar Rangga lalu merangkul Shanum untuk masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Kini Rangga sudah bisa mengajak Shanum tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Setelah empat puluh lima menit akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah yang kini sudah menjadi hak milik Rangga, atas nama Shanum.
Meski rumah dalam keadaan kosong, namun Rangga telah menugaskan orang untuk selalu merawat dan membersihkan rumah itu secara rutin, jadi tak heran, meski tak berpenghuni namun lantai dan perabotan selalu tampak bersih.
Shanum tersenyum senang, saat memasuki rumah.
Pandangannya menyisir ke seluruh ruangan.
"Sayang, ku pikir dinding rumah ini masih terlihat kosong".
Shanum memandang dinding ruangan yang berwarna putih dan polos tanpa hiasan yang menempel.
Rangga ikut melihat ke dinding di ruangan, memang masih tampak kosong.
Tiba-tiba senyum Rangga terbit "Minggu depan dinding ruangan ini tak akan lagi kosong"ucap Rangga.
Shanum menautkan kedua alisnya tak mengerti arah perkataan Rangga.
Rangga tetap tersenyum tanpa membalas kalimat Shanum.
"Ish"Shanum mengurai tangan Rangga lalu melangkah ke lemari yang terketak di dalam kamar.
"Apa yang kau cari?"tanya Rangga melihat Shanum membuka lemari baju.
"Aku mau mandi, badanku lengket"satu garis lengkung membentuk senyum manis, terbit dari bibir Rangga.
Rangga melangkah mengikuti Shanum masuk ke dalam kamar mandi.
Mata Shanum membulat saat tiba-tiba menyadari ternyata Rangga sudah berada di belakangnya.
Rangga tersenyum smirk, lalu melangkah menuju closet dengan langkah dibuat setenang mungkin.
"Aku mau buang air kok"jawab Rangga santai.
Shanum masih diam tak bergerak karena masih menunggu air di bathtub penuh.
Rangga masih santai duduk di closet yang bersebelahan dengan bathub, karena hanya terpisah oleh sekat transparan, Rangga bisa melihat Shanum masih berdiri di tepi.
Padahal Rangga sama sekali tidak sedang buang air.
Sampai kapan kau akan berdiri di situ sayang, batin Rangga berucap.
Gemas rasanya melihat sang istri masih saja malu padanya, suaminya sendiri.
"Sayang apa kau masih lama"tanya Shanum yang merasa jengah karena terus berdiri tegak dengan kedua tangan menutupi area intimnya.
"Ehm masih lama sayang, kau mandi lah dulu, jangan hiraukan aku"jawab Rangga dari balik sekat dengan bibir tersungging licik, tanpa Shanum sadari.
Shanum ragu melepas kain yang masih tersisa melekat di tubuhnya.
Beberapa kali ia melirik ke balik sekat, mendengar Rangga berdendang lirih membuat Shanum memantapkan langkahnya memasuki bathub setelah melepas semua kain di tubuhnya.
Beberapa menitpun berlalu, Shanum yang tengah asik mengusap tubuhnya dengan sabun kini perhatiannya teralih dan seakan lupa bahwa sang suami masih duduk manis di sebelahnya, menunggu dia lengah.
__ADS_1
Dengan gerakan perlahan Rangga bangkit dari duduknya.
"Ishh"Rangga mengibaskan kakinya yang terasa kebas karena terlalu lama duduk.
"Ehmm hmm"
"Aaakkhhh"Rangga membekap mulut Shanum yang tampak begitu terkejut.
"Sttt jangan keras-keras, takut ada yang denger, ntar di kira ada rampok di rumah ini"bisik Rangga.
"Kau masih di situ sayang?"tanya Shanum dengan wajah yang masih terlihat shock.
Rangga mengangguk pelan sambil melucuti bajunya satu persatu di hadapan Shanum yang masih berendam di bathub.
"Sayang apa yang akan kau lakukan"wajah shock Shanum kini berubah panik, dengan santai Rangga melangkah masuk ke dalam bathub dan bergabung dengan Shanum.
Ukuran bathub yang besar mempermudah Rangga untuk duduk di belakang Shanum.
"Badanku juga lengket"jawab Rangga santai.
"Tapi kau kan bisa tunggu aku selesai dulu sayang"ucap Shanum kesal.
"Akan menyingkat waktu jika kita mandi bersama"tengkuk Shanum meremang saat bibir Rangga menyentuh kulitnya.
Bahkan kini tangan kreatif suaminya sudah tampak lincah, mengusapkan sabun di seluruh tubuh Shanum.
Meski berusaha keras namun akhirnya ******* lembut lolos dari mulutnya.
Tangan Rangga yang sudah semakin pintar mencari titik lemah tubuh Shanum mulai bergerak semakin liar, gelenyar di tubuhnya membuat debaran jantungnya semakin kencang.
Tonjolan benda yang kini mengeras pun jelas Shanum rasakan di bagian belakang tubuhnya.
Rangga yang sudah di landa gairah yang memuncak, dengan enteng mengangkat tubuh ramping Shanum dan mendudukan di atas tubuhnya.
Erangan halus keluar dari bibir Shanum saat benda tumpul telah masuk sempurna ke dalam inti tubuhnya.
Bunyi irama air yang seiring gerakan tubuh keduanya membuat suasana kamar mandi kini tak lagi hening.
Erangan dan ******* membaur menjadi satu dengan gemericik air akibat dari gerakan nakal tubuh Rangga.
Rangga mengangkat tubuh Shanum dan melepas penyatuan, lalu mengisyaratkan agar Shanum kini duduk menghadapnya.
Dengan mata sayu Shanum menuruti apa yang Rangga intruksikan.
Mata indah Shanum terpejam, senyum puas terbit di bibir Rangga.
Sensasi yang begitu memabukan kini mereka rasa.
Andai tahu jika gaya seperti itu sungguh mengasikan, ingin rasanya setiap mandi akan Rangga lakukan.
Shanum pun terlihat begitu menikmati sentuhan dan gerakan yang Rangga berikan.
Tubuh Shanum menegang saat Rangga memeluknya erat, keduanya pun mencapai puncak secara bersamaaan.
Nafas Shanum memburu, dengan jelas terasa cairan hangat memasuki rahimnya.
__ADS_1
Rangga tersenyum puas dan pengecup dahi sang istri dengan lembut.
Keduanya lalu berpindah ke bawah shower untuk membilas tubuh mereka.