Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Larangan Dokter


__ADS_3

Rangga dapat bernafas dengan lega setelah berhasil menyelesaikan setumpuk berkas di atas meja tanpa harus lembur sesuai permintaan sang istri.


David mengangguk hormat setelah Rangga pamit.


Empat puluh lima menit waktu perjalanan, akhirnya sampai Rangga di mansion.


Membayangkan mendapat sambutan mesra dari sang istri sungguh membuat bibirnya selalu tersenyum bahagia sepanjang jalan.


Langkahnya tegap menuju pintu mansion.


Masih tertutup rapat, mungkin Shanum sedang berdandan untuk menyambut kepulangannya, pikir Rangga.


Terlihat lengang di dalam mansion, begitupun di dalam kamar.


"Sayang, aku pulang, di mana kau?" Rangga berucap sambil menyisir kamarnya.


Ceklek.


Kamar mandi pun kosong.


Bergegas Rangga ke ruang dapur mansion, karena hanya di situ ia mungkin dapat mengetahui informasi dimana sang istri berada kini.


"Bi, Shanum di mana bi?" tanya Rangga.


"Oh non Shanum ke rumah sakit Den, ta..."


Sang bibi tak dapat meneruskan kalimatnya tanpa dapat berbuat apa-apa saat Rangga seketika itu juga berlari kencang kembali ke arah mobilnya yang sudah terparkir di garasi, lalu melajukan dengan kecepatan tinggi.


Chiiittt.


Rangga menghentikan laju mobilnya di tepi jalan saat menyadari satu kesalahan fatal, yah ia tak mengetahui di rumah sakit mana Shanum saat ini, sedangkan ponselnya ia tinggal di kamarnya karena sedang lowbat.


Brakk.


Rangga memukul kemudi mobil dengan keras sambil merutuki kebodohannya.


Akhirnya Rangga memutar balikan mobilnya kembali ke arah mansion, tak mungkin ia mendatangi rumah sakit satu persatu di kota itu.


Dengan cepat ia melajukan kendaraan.


Gerimis yang mulai turun membuat suasana malam kian mencekam.


Umpatan dari pengendara lain yang merasakan cipratan air yang menyembur kencang saat laju mobilnya melewati genangan air, tak di hiraukan oleh Rangga.


Yang saat ini ia inginkan adalah ingin segera mengetahui keadaan istri dan calon buah hatinya.

__ADS_1


Ciiitttt.


Brakkk "Bi bibii.....dima.."


Bibi dan satpam tersenyum melihat pose Rangga yang terlihat lucu.


Dengan mulut menganga lebar dan gerakan tangan terhenti di udara saat memanggil sang bibi.


"Untung den Rangga balik lagi, tadi kita semua cemas saat den Rangga mengemudikan mobil dengan kencang keluar dari area mansion."


Rangga seakan tak memperdulikan kalimat bibi.


Langkahnya cepat ke arah Shanum yang kini sedang duduk manis di sofa ruang tengah .


Di rengkuhnya tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.


Rasa sesak dan jantung yang terasa berhenti berdetak saat sang bibi yang mengatakan bahwa sang istri ke rumah sakit.


"Sayang kau kenapa? Apa kau sakit, katakan bagian mana yang sakit dan apa kata dokter?" Rangga memindai tubuh sang istri seakan mencari luka di seluruh tubuhnya.


Shanum hanya tersenyum mendengar berondongan pertanyaan dari sang suami.


"Aku tidak apa-apa sayang, aku hanya ingin konsultasi dengan dokter."


"Tapi kenapa kau tidak menungguku, atau setidaknya, hubungi aku agar aku bisa mengantarmu ke rumah sakit" rikas Rangga kesal.


"Jangan bilang kau berangkat ke rumah sakit hanya sama pak sopir?" tatapan tajam Rangga membuta Shanum kini berubah dalam mode serius.


Dengan lembut Shanum meraih tangan Rangga dan menariknya menuju lantai atas.


"Sebaiknya kita bicara di kamar."


Rangga hanya diam dan menurut, melihat sang istri ternyata dalam keadaan baik-baik saja, sudah membuat hatinya sedikit lega.


Shanum mengambil handuk lalu di serahkan ke Rangga.


"Kau pasti belum mandi sejak tadi pulang dari kantor, mandi dulu gih, lihatlah kulitmu lengket dan aroma tubuhmu kurang enak di hidungku" terang Shanum sambil menutup hidungnya.


Dengan lesu Rangga melepas kemeja lalu melangkah ke kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Rangga menyelesaikan aktifitas mandinya.


Wajahnya tersenyum saat melihat baju rumahan beserta dalemannya sudah siap di atas ranjang.


"Sayang bagaimana kerjaanmu di kantor?" tanya Shanum.

__ADS_1


"Ehm, sejauh ini lancar kok"


"Apa perutmu sudah lebih baik?"


Rangga mengangguk.


"Apa kau minum obat dan vitamin dari dokter?"


Kembali anggukan kecil Rangga lakukan.


"Apa hari ini kau makan menurut anjuran dokter?"


"Sstt sudah cukup, semua perintah dan anjuranmu sudah ku aku lakukan semua, sekarang giliran aku yang harus menanyakan padamu, katakan semua yang dokter katakan padamu, pantangan dan larangan apa yang harus kau hindari dan jauhi."


Glek


Shanum tak dapat berkutik.


Merasa bosan di mansion tanpa melakukan aktifitas akhirnya Shanum berinisiatif konsultasi ke dokter Obgyn.


Setelah perdebatan keras akhirnya dokter membolehkannya kembali bekerja namun setelah kandungannya melewati trimester awal, hingga ke amanan janin dapat lebih terjaga.


Rangga hanya mendengarkan dengan hati geram dengan gigi merapat erat.


Bagaimana mungkin Shanum meminta untuk tetap bekerja sementara kandungannya yang sangat rentan dan membutuhkan banyak istirahat.


"Aku bosan di mansion sayang" Shanum berusap pelan dengan wajah tertunduk karena tatapan tajam Rangga kini tepat menuju padanya.


"Lalu apa karena kau merasa bosan lalu kau tak menghiraukan kondisi tubuhmu dan kondisi calon anak kita heum?" kali ini kalimat yang Rangga ucapkan terdengar penuh tekanan dan tegas.


"Setidaknya tunggulah dulu agar usia kandunganmu kuat sayang, atau mulai sekarang untuk mengusir kebosananmu, aku akan mengajakmu keliling komplek setiap aku pulang kerja?"


"Atau kau mau kita jalan ke mall setiap sore agar kau tak merasa kesepian lagi? Lanjut Rangga.


"M maafkan aku," hanya kalimat pendek penuh penyesalan yang Shanum katakan.


Baru kali ini ia melihat tatapan kesal yang Rangga tujukan padanya.


"Sudahlah sebaiknya kita istirahat, akupun lelah" ujar Rangga menyudahi kekesalan hatinya, lalu melangkah ke ranjangnya.


"Bukannya kau belum makan?"


Rangga menggeleng lesu, nafsu makannya kini terasa hilang karena rasa kesal yang sempat menjalar di hatinya.


"Tunggu"

__ADS_1


Tubuh Shanum terdiam saat Rangga membisikan kalimat frontal yang membuat wajahnya merona.


"Apa dokter juga melarang, jika ayah sang bayi ingin menengoknya?"


__ADS_2