
Dengan cepat Rangga membopong tubuh mungil Shanum dan merebahkannya di atas sofa ,sementara Harun sibuk menelfon dokter Han .
Bibir putih pucat dan keringat dingin membasahi kening Shanum .
"Nona ,non bangun non "ucap Rangga pelan sambil mengusapkan tisu di kening Shanum dengan lembut ,perasaan cemas melihat wanita yang selalu menghiasi hari-harinya terbaring lemah tak berdaya ,dengan gerakan pelan Rangga memijit jari tangan Shanum tanpa henti ,berharap gerakan yang ia lakukan dapat menyadarkan Shanum ,namun mata indah itu masih tertutup rapat ,beberapa tetes minyak anginpun telah ia oleskan di pelipis, tengkuk, bahkan ujung hidung mancung Shanum namun tak ada reaksi apapun ,bibir pucat itu masih terkatup rapat .
Sementara Harun sudah berangkat menjemput dokter Han yang kini telah berada di lobi perusahaan .
"Sha bangunlah ,ku mohon ,jangan buat aku cemas seperti ini " Rangga berucap pelan dengan suara sedikit bergetar ,hatinya merasa begitu cemas dengan rasa ketakutan luar biasa ,tak henti-hentinya Rangga mengusap kening Shanum dan mengusap punggung tangannya ,berharap segera siuman .
Beberapa kali Rangga menengok ke arah pintu lift berharap asisten Harun segera datang bersama sang dokter namun harapannya belum juga terlaksana .
"Eggghhh"suara erangan lemah tiba-tiba mengagetkan Rangga .
"Sha ,kau bangun Sha "ucap Rangga penuh semangat melihat Shanum menggerakan bibirnya lemah ,dengan cepat Rangga meraih gelas berisi air minum di atas meja yang telah ia siapkan jika Shanum tersadar .
__ADS_1
"Ngga,Rangga ..kaukah ini ?"tanya Shanum masih dengan suara lemah ,pandangan sekan tak percaya jika pria yang tengah berada di sampingnya adalah Rangga,pria yang diam-diam telah mencuti hatinya.
Senyum Rangga begitu manis,Shanum seakan terhipnotis dengan pesonanya,tangannya menggenggam tangan Rangga erat .
"Iya ,ini aku Sha syukurlah kau sudah sadar ,minumlah "dengan pelan Shanum menundukan kepalanya dan meminum air yang di sodorkan Rangga .
Tok tok tok
Asisten Harun melangkah di iringi dokter Han memasuki ruangan .
Setelah meminta ijin dokter Han mulai memeriksa kondisi tubuh Shanum yang terlihat lemah .
Dengan terpaksa Shanum membuka mulutnya saat dengan lembut Rangga menyuapinya bubur ayam yang telah Asisten Harun beli di tukang bubur ayam di seberang perusahaan .
Rupanya Shanum terkena anemia ,kesibukan membuatnya sering melewatkan waktu makannya ,tak heran jika semakin hari badan Shanum semakin berkurang beratnya .
__ADS_1
Sebenarnya Rangga begitu prihatin melihat keadaan Shanum ,ia begitu kesepian hingga selalu menyibukan diri dengan kerjaan di perusahaan yang akhirnya membuat waktu dan tenaganya terkuras ,hingga makanpun tak teratur .
Dengan susah payah Shanum akhirnya berhasil menelan obat-obat dan vitamin yang di berikan oleh dokter Han .
Terpaksa meeting hari ini Asisten Harun yang mengambil alih .
Tak ingin melihat Shanum sendiri dalam ruangan akhirnya Rangga memutuskan untuk menemaninya ,tawaran Rangga untuk mengantarkannya kembali pulang ke apartemen di tolak secara halus oleh Shanum ,ia tak ingin pekerjaannya terbengkalai karena klien yang akan datang siang nanti merupakan salah satu klien yang telah menanamkan sahamnya paling besar di Wijaya Corp .
Karena itu Shanum tak ingin mengecewakan nya hanya karena kondisi tubuhnya yang sedang sedikit tak sehat .
Sop hangat ,perkedel ,pepes ikan, dan sari buah ,sudah tertata di meja kantor saat jam makan siang.
Mata Shanum melebar kagum dengan apa yang di lihatnya ,berbagai hidangan menggugah selera ,rupanya Rangga telah menyiapkan semuanya, setelah membeli di resto mini tempat langganannya ,sengaja Rangga menyempatkan untuk memesan makanan yang nyaman untuk lambung Shanum .
Mata Shanum berbinar sebentar dan kini berubah redup setelah memindai seluruh hidangan yang tersedia karena ada satu hidangan yang ternyata terlewatkan "Sambalnya mana Ngga?"....
__ADS_1
"Hah?".......