
Hana tak mengerti kenapa tiba-tiba Rangga berwajah murung.
Hingga makan malam usai Tak sedikit pun Rangga tersenyum, bahkan ia pamit lebih dulu ke kamar tanpa menunggu Shanum yang masih menikmati salad buah buatan Hana.
Rangga menuju kamar dan segera menyikat gigi, ia tak mau bersitatap dengan Shanum yang hanya akan membuat hatinya kembali perih.
Hatinya begitu panas saat ibu bocah ingusan itu ternyata masih sangat perhatian pada Shanum.
Rangga tak dapat menutupi kekesalan hatinya, ia ingin Shanum hanya miliknya dan menjadi menantu kesayangan ibu satu-satunya.
Rangga melihat pesan di ponsel saat David memberikan laporan hasil evaluasi yang di kerjakannya telah selesai.
Shanum yang sudah di landa rasa kantuk berjalan menuju kamarnya lalu membersihkan gigi dan mengganti baju dengan baju tidur, Rangga yang lebih dulu ke kamar pun sudah terlelap.
Setelah membersihkan gigi dan mengganti baju dengan baju tidur, Shanum pun tidur di samping Rangga.
Esok harinya, Hana yang bangun lebih pagi, tampak sedang mempersiapkan sarapan,
Rangga keluar dari kamar tanpa Shanum, dan wajahnya masih terlihat murung.
Sebagai seorang ibu, Hana menyadari perubahan sikap Rangga, tapi iapun tak ingin mengorek kehidupannya terlalu dalam, biarlah ia menjadi dewasa seiring berjalannya waktu, batin Hana.
Rangga berangkat setelah menyalami sang ibu terlebih dahulu.
"Shanum belum bangun Ngga?"
"Tadi pagi sudah bu lalu tidur lagi, masih ngantuk katanya" ucap Rangga lalu melangkah keluar dari mansion setelah menyalami sang ibu.
Evaluasi yang sudah selesai, di serahkan oleh David ke bagian personalia agar segera di buatkan Surat Keputusan pengangkatan karyawan.
Untuk tahun ini pengangkatan karyawan tetap, tak lebih banyak dari tahun lalu.
Banyak para karyawan yang bekerja belum sampai satu tahun dan tentu belum bisa di angkat sebagai karyawan tetap.
Menunggu hasil evaluasi, para Karyawan merasa cemas, sebagian besar mereka tentu berharap menjadi karyawan tetap, yang tentunya akan mendapat berbagai gajih dan tunjangan lain-lain.
Rangga pun pernah merasa di posisi itu.
David yang baru beberapa bulan bekerja, dengan santai melihat daftar karyawan yang memenuhi kriteria untuk di angkat sebagai karyawan tetap.
Ia ikut bahagia saat rona bahagia mereka terpancar saat menerima Surat Keputusan pengangkatan karyawan turun.
Dari balik kaca jendela ruangan, Rangga melihat karyawan yang berjingkrak gembira mendapat surat tersebut.
Bahkan ada yang sujud syukur di halaman gedung.
Semua karyawan memiliki impian yang juga harapannya di tempat mengais rezeki.
Bekerja dengan tenang dengan gajih yang cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan putra putri mereka ke sekolah yang lebih baik adalah impian setiap karyawan.
__ADS_1
Rangga merasa bersyukur bisa berada di posisi sekarang ini, bahkan gadis cantik yang tak pernah ia sangka adalah CEO nya sendiri akhirnya menjadi pasangan hidupnya.
Tok tok.
Rangga menoleh ke arah pintu yang ternyata David datang dengan berkas di tangannya.
"Belum pulang Vid?"
"Belum pak, ehm ini ada berkas dari perusahaan Testafood yang ingin mengajukan diri untuk menanamkan saham di Wijaya pak."
Rangga menautkan alisnya, rasanya nama perusahaan yang baru pertama ia dengar.
"Apa kau sudah meneliti secara menyeluruh tentang perusahaan tersebut?" tanya Rangga.
"Sudah pak, memang ini merupakan sebuah perusahaan yang belum lama berdiri, bahkan belum sampai lima tahun sejak peresmiannya, namun yang membuat perusahaan tersebut menarik dari perusahaan yang lain, keuntungan yang mereka peroleh dalam kurun waktu yang singkat sangat pesat, bahkan ada beberapa cabang yang sudah di bangun di kota- kota besar lainnya, juga sertifikat bergengsi sudah di dapat perusahaan dengan karyawan kurang dari seribu orang itu pak."
Rangga tertegun, di raihnya laptop dan di ketiknya Testafood di laman pencarian, artikel tentang Testafood sungguh membuat Rangga takjub, pastilah perusahaan tersebut ter rencana dengan baik dan terperinci.
"Hmm baiklah buat rencana meeting dengan pihak Testafood secepatnya, akan sangat menguntungkan bagi Wijaya Corp untuk bekerja sama dengan perusahaan dengan pendapatan untung yang begitu besar."
David mengangguk patuh lalu kembali ke meja kerjanya.
"Vid aku pulang dulu, kirim padaku jawaban dari perusahaan tersebut secepatnya."
Rangga segera melangkah pergi karena memang hari ini ia tak perlu lembur.
Rangga yang hari ini di antar dengan sopir menggunakan waktu sebaik mungkin.
Di bukanya laptop dan kembali ia mencari informasi tentang Testafood dari laman pencarian yang terpercaya.
Sungguh satu perusahaan yang menarik perhatiannya.
Tatapan mata Rangga membulat saat melihat profil CEO dari perusahaan tersebut.
Wanita yang masih berumur tak lebih dari tiga puluh tahun, wajah yang masih terlihat cantik, lulusan dari universitas luar negri ternama.
"Pak kita sudah sampai." Rangga tergagap saat sang sopir memberitahu bahwa mereka sudah sampai di mansion.
Lebih dari satu jam Rangga terjebak dalam kemacetan, namun karena fokusnya teralih pada aktifitasnya Rangga jadi tak merasa terganggu dengan lalu lintas yang padat merayap, dan membuang waktunya percuma.
Hana tersenyum menyambut Rangga.
"Shanum di mana bu?"
"Ada di kamarnya, mungkin sedang membaca buku tentang kehamilannya" jawab Hana lembut.
"Ehm baiklah bu, aku ke atas dulu."
Ceklek.
__ADS_1
Shanum menoleh ke Rangga yang memasuki kamar, wajahnya ceria menyambut Rangga.
"Sayang aku di kasih buku ini dari ibu, bagus banget, semua ilmu tentang kehamilan ada di sini."
Shanum bertutur dengan antusias, Rangga tersenyum senang, dengan adanya sang ibu, membuat Shanum tak lagi merasa kesepian, bahkan ibunya terlihat betah bercengkerama dengan istrinya itu.
"Heum baguslah bisa menambah ilmu lagi tentang kondisimu" jawab Rangga.
Shanum tersenyum senang.
"Kau mandi dulu aku akan siapin makan di bawah."
"Tidak perlu sayang, tadi aku lihat ibu sudah menyiapkan di meja makan, kau teruskan saja membaca bukumu."
Setelah membersihkan tubuhnya kini terasa segar kembali tubuh Rangga.
Rangga melangkah ke meja makan di mana ternyata sudah ada Shanum dan Hana ibunya, Hardy tak ikut makan bersama karena ia belum pulang.
Suasana makan berlangsung dengan khidmat, Shanum terlihat begitu bahagia, ada petunjuk di buku hamil pintar, yaitu satu kegiatan yang di anjurkan di lakukan sebelum tidur, oleh pasangan ibu hamil agar ia merasa nyaman.
Shanum menarik tangan Rangga begitu ia menyelesaikan makannya.
"Ada apa sayang, sepertinya kau begitu bersemangat malam ini."
Senyum smirk Rangga terbit, sudah beberapa hari ia tak melakukan olah raga di ranjang, kini sikap Shanum tampak begitu bersemangat dengan tatapan penuh gairah, Rangga membatin.
Shanum menuntun Rangga agar duduk di sisi ranjang, lalu ia pun duduk menyadarkan tubuhnya di head board, lalu kakinya di taruhnya di atas paha sang suami.
"Sayang lihat gambar ini, bisa kan kau praktekkan?" Shanum menunjukan lembar berisi gambar seorang ibu hamil yang sedang di pijit telapak kakinya dengan lembut oleh sang suami.
Glekk.
Hati Rangga mencelos, kegiatan panas yang sudah berada dalam bayangannya kini musnah.
"Sayang bilang dong dari tadi, jangan buat harapan palsu."
Shanum menatap Rangga yang mencebik kesal.
"Sayang aku janji nanti aku akan kabulkan apa yang kau ingin, jika kau lakukan gerakan dengan benar, dan sesuai dengan gambar di buku."
Mata Rangga sontak berbinar terang.
"Benarkah kau akan mengabulkan permintaanku?"
Shanum mengangguk pasti.
Sementara Rangga tersenyum penuh kemenangan.
Malam ini kau harus mengabulkan jika aku ingin memakanmu sepuasnya.
__ADS_1