
Rangga terdiam dalam kamarnya, beberapa kali Kevin memanggilnya pelan, namun enggan rasanya Rangga menyahut.
Kevin semakin gusar, daftar pertanyaan yang sudah di catat dalam memori otaknya terpaksa ia tahan.
Entah kenapa Rangga berubah murung setelah kepulangan bersama sang ibu dari tempat yang tak Kevin ketahui.
Sedangkan bu Hana tampak cerah dengan senyum manis selalu menghiasi wajahnya.
Kevin hanya dapat menelan rasa kecewa, sampai detik ini rasa penasaran pada hubungan antara Rangga dengan CEO perusahaannya masih mengganjal di dadanya.
"Awas aja lu Ngga"geram Kevin di balik pintu kamar Rangga, meski pelan namun sang penghuni kamar masih dapat mendengarnya.
"Bodo amat, gue juga pusing"Rangga bermonolog dengan hati kesal.
Teringat Tuan Hardy dan ibunya berinteraksi begitu hangat, bagai sepasang kekasih yang lama tak berjumpa, bahkan sesekali tawa renyah keluar dari mulut keduanya, Rangga hanya dapat tertawa masam saat melihatnya secara sembunyi-sembunyi, saat Shanum mengajaknya untuk duduk menjauh dari mereka, karena merasa tak paham pada apa yang sedang diperbincangkan sehingga mereka begitu terlihat bahagia.
Jika dengan tertidur berharap dapat menghilangkan rasa gundah dan kesal di hatinya, namun sepertinya pagi ini pun hatinya masih dongkol.
Menurut rencana, pagi ini Hana akan kembali pulang ke kampung halamannya, kiranya dua hari bersua dan berada dekat dengan sang putra dapat mengobati rasa rindunya.
Setelah sarapan pagi dan mengemasi barang bawaannya, Hana dan putra keduanya itu pun segera ke mobil yang sudah Rangga carter untuk mengantar kepulangan ibu dan adiknya itu.
"Kamu jaga kesehatan ya Ngga, jangan telat makan"pesan ibu nya sebelum berangkat, Kevin pun mengangguk setelah menyalami ibu sahabatnya itu.
Kevin masih melambaikan tangan melepas kepergian ibu dari sahabatnya itu dengan haru.
Berbeda dengan Rangga yang kini melangkah ke dalam rumah dengan wajah murung.
"Eh kali ini jangan harap kau lepas dari genggamanku semudah itu Ferguso"Ucap Kevin sambil berlari menyusul Rangga masuk ke dalam rumah, kali ini rasa penasarannya harus segera terjawab, pikirnya.
"Nama Tuan Tanah siapa lagi yang lu pakai buat manggil gue hah?"Rangga bertanya sewot, masih dongkol rasa di hatinya, hingga tak sadar, kevin lah yang menjadi pelampiasannya.
Apalagi setelah mendengar bisikan ibunya sesaat sebelum mobil berangkat.
__ADS_1
"Jaga Sha-sha dengan baik"ucap Hana dengan senyum manis.
Masih terus terngiang bisikan itu di telinga Rangga,entah apa maksudnya itu.
"Lu lagi PMS Ngga, sewot amat jawabnya?"Kevin berucap dengan rasa dongkol.
Rangga hanya melihat sekilas ke arah Kevin dan berlalu dengan tatapan wajah dingin.
Kini Kevin hanya dapat membulatkan mulutnya melihat tingkah Rangga yang kini terasa sungguh mengerikan.
Drttt drrtt
Lamunan Rangga buyar seketika saat getaran ponsel mengagetkannya.
"Huh apalagi ini" ucap Rangga setelah membaca pesan dari Tuan Hardy, yang menyuruhnya segera datang ke mansion siang ini.
Jika biasanya ia akan merasa bahagia dan hati berbunga jika Hardy memanggilnya ke mansion karena Shanum saat ini berada di mansion ayahnya itu.
Cuaca langit tampak mendung, mendadak muncul ide gilanya.
"Maaf Tuan, sekarang sedang hujan, bisakah di tunda besok ...."pesan yang belum selesai ia ketik, tapi kembali di hapusnya.
Tak etis rasanya, bahkan ia seperti manusia yang tak tahu terima kasih jika ia menolak panggilan orang yang telah banyak menolongnya itu.
Dengan jaket dan mantel hujan yang sudah di persiapkannya di jok motor, akhirnya Rangga pun berangkat ke mansion Hardy.
Sementara di mansion Hardy, seorang pria paruh baya berwajah gagah dan penuh wibawa tampak terdiam di hadapan Hardy.
"Entah apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan putra ku itu, tapi satu yang aku pinta Dy, ku harap persahabatan kita tak akan luntur sampai kapanpun"ucap pria di hadapan Hardy dengan wajah yang tampak memelas, pria yang tak lain adalah pemilik perusahaan besar di negara xx, dan sekaligus sahabat dari Hardy.
Hardy pun menghela nafas berat, rasa kecewa di hatinya masih terasa di dada yang membuat beberapa hari ini semangat hidupnya terasa down.
Kebahagiaan sang putri yang sudah lama di rencanakan ternyata kini hancur tak tersisa, sedangkan rapat tahunan para direksi sudah tinggal beberapa hari lagi.
__ADS_1
Rapat direksi tahunan di mana ia telah berjanji bahwa saat itu ia akan mengumumkan pernikahan putri satu-satunya itu dengan Devon yang tak lain adalah putra dari pengusaha besar Dirga Sanjaya,sahabatnya sendiri.
"Nasi sudah menjadi bubur, kita sebagai manusia hanya dapat berencana, selebihnya Sang Maha Kuasa yang berhak memutuskan"ujar Hardy dengan bijak, meski rona wajah kecewa masih sedikit terlihat.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari arah pintu.
"Ya masuklah"perintah Hardy dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Masuklah Ngga"lanjutnya lagi, setelah melihat pemuda bertubuh tegap dengan tatapan tajam memandang ke arahnya.
Rangga melangkah dengan tenang ke arah kedua pria paruh baya itu.
Tatapan Rangga terpaku pada pria di depannya, sekilas kemiripan jelas terlihat dari bentuk bibir pria itu, yang sangat identik dengan tuan Devon.
Begitupun Dirga yang tengah menatap sang pemuda yang tengah mengulurkan tangan ke arahnya untuk bersalaman.
Mata indah dengan tatapan tajam, mengingatkannya pada seseorang yang begitu di kaguminya.
"Apakah kau bisa menerka siapa dia Ga?"tanya Hardy pada sahabat yang tengah menatap netra Rangga tak berkedip.
Dirga hanya menggeleng tampak ragu.tolong kasih imunnya dong biar outhos semangat lagi up nya makasih 😘😘😘
"Kenalkan, dia lah calon suami putriku"
Deg.
💖💖💖💖💖💖
Hayooo siapa yang sudah salah duga 😘😘
jangan lupa vote nya yaaa.
__ADS_1