Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Dia Harus Di Hentikan


__ADS_3

Berbagai hidangan lezat nan menggugah selera kini tersaji di depan mereka, Hardy tampak tersenyum saat melihat Shanum berbinar karena ada satu masakan yang begitu di sukainya.


Namun gerakannya tiba-tiba tertahan, lalu memandang Hardy heran, bukannya sang ayah sangat membenci masakan yang beraroma khas itu, bahkan dulu jika ia ingin menikmatinya ia harus menunggu Hardy melakukan kunjungan kerja ke luar kota yang menghabiskan waktu beberapa hari agar ia dapat menikmati masakan khas nusantara itu.


Itupun masih dengan drama pembersihan seluruh ruangan di mansion karena takut Hardy akan mencium jejak aroma wangi khasnya.


Hardy tersenyum dan mengangguk ikhlas.


Melihat mata indah sang putri kembali bersinar, seakan mataharinya kembali terbit menyinari seluruh hidupnya.


"Apa ayah tidak apa-apa kalau aku makan ini Yah?"tanya Shanum ragu.


Hardy menggeleng pasti.


Dengan semangat Shanum menyendokan rendang jengkol ke arah piringnya, nafsu makan yang hilang selama di rumah sakit, seakan kini telah kembali.


Rasa lapar di perut yang tiba-tiba menyerang setelah melihat rendang jengkol di atas meja makannya.


"Eitts"Rangga menggelengkan kepalanya saat tangan Shanum mengarah ke sebuah piring berisi sambal berwarna merah pekat.


"Kalau untuk yang satu ini, kau tidak boleh"ucap Rangga pasti.


"Sayang, tapi kalau nggak pedas ya nggak enak dong"Shanum berucap dengan nada memelas, namun Rangga tetap menggeleng pasti.


"Ayah, aku mau itu"Shanum mencoba bernego dengan sang ayah, namun jawaban sama yang di dapat, yaitu gelengan kepala tanda larangan untuk memakannya.


"Benar kata suamimu, kesehatanmu belum sepenuhnya pulih, apalagi lambungmu yang lemah, kau harus mulai mendengarkan Rangga Sha, dia melarang karena dia perduli dan menyayangimu"ujar Hardy bijak.

__ADS_1


Shanum mengerucutkan bibirnya saat Rangga mengambil kembali sambal yang sempat di sendoknya tadi.


"Udah makanlah"Rangga berucap lembut.


Hardy tersenyum melihat tingkah putri dan menantunya, bahagia rasa hatinya dapat menikmati kehangatan sebuah keluarga kecil.


Dengan cepat Hardy menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tak ingin Shanum dan Rangga menyadari bahwa matanya kini telah berkaca-kaca.


"Makanlah, kau harus pulih secepatnya, ada tugas besar menantimu"ucap Hardy berwibawa.


Seakan tak mendengarkan ucapan sang Ayah, Shanum mulai mengunyah dengan nikmat rendang kancing levis di atas piringnya.


"Ngga kamu besok mulai masuk, mulai sekarang kamu harus mempersiapkan diri sematang mungkin"ucap Hardy melihat Rangga.


"Semua sudah ku pertimbangkan masak-masak, hanya kau yang patut menduduki CEO di kantor cabang milik ayah di kota C".sambungnya lagi.


"Semua sudah ku kalkulasi, saham milik ayahmu yang berada di Wijaya Corp dan setelah sekian tahun berbunga maka kau adalah sang pemilik saham terbesar kedua setelah milikku"ujar Hardy.


Rangga terdiam, selama ini ibunya merahasiakan siapa sebenarnya ayah kandungnya, yang Rangga tahu, ayahnya adalah seorang putra petani dan hanya meninggalkan sebidang tanah untuk anak dan istrinya hidup, tanpa ia sadari bahwa selama ini ayahnya memiliki saham besar yang sudah di persiapkannya untuk bekal hidup anak dan kedua putranya.


"Tapi aku tidak mau jauh dari Shanum Yah"nada Rangga terdengar memelas.


Hardy tersenyum bijak.


"Tidak harus sekarang, kau bisa menduduki jabatan itu kapanpun kau siap, dan juga katakan pada adikmu, ajaklah dia bekerja di Wijaya Corp, diapun berhak mendapat jabatan tinggi di sana"ujar Hardy lagi.


Rangga menghela nafas panjang, meski dengan iming-iming sebesar apapaun, Ardi tak akan mau berpisah dengan ibu.

__ADS_1


"Kenapa Ngga?"Hardy menyadari ada sesuatu yang mengganjal di hati menantunya itu.


"Ehm, mungkin Ardi tidak akan mau meninggalkan ibu sendiri Yah"jawab Rangga.


Hardy terdiam, memang kedua lelaki itu sangat menyayangi Hana, mereka melindungi dan merawat setiap waktu.


Kau sungguh beruntung memiliki dua putra yang begitu menyayangi dan bertanggung jawab pada ibunya Sat, batin Hardy lirih.


"Baiklah, untuk hal itu biarlah kita pikirkan esok hari, saat ini paling utama adalah memulihkan kondisi Shanum dahulu, lalu kita akan menyeret Hendy ke penjara.


"Uhukkk".


"Ssstttt, pelan sayang"Rangga dengan cekatan menepuk punggung Shanum dengan lembut lalu mengambil minumnya.


"Ayah serius?"tanya Shanum tak percaya.


Hardy mengangguk pasti.


"Perbuatannya harus di hentikan Sha, jangan sampai orang lain yang tak bersalah ikut menjadi korbannya".


"Kita juga berhak hidup tenang tanpa harus takut padanya dan antek-anteknya".


Shanum tersenyum lega malihat nada penuh kepastian keluar dari mulut sang ayah.


"Oiya persiapkan dirimu, mungkin beberapa hari lagi akan ada panggilan dari kejaksaan, ayah sudah melaporkan semuanya, dan kau mungkin akan di mintai keterangan sebagai saksi" ujar Hardy.


Shanum kini menegang, Rangga yang menyadari rona wajah Shanum berubah, segera menggenggam erat tangan yang kini terasa dingin.

__ADS_1


"Tenanglah, jangan takut jika kita berdiri di sisi yang benar, aku akan selalu bersamamu"ucap Rangga lembut.


__ADS_2