
Hardy membuka matanya setelah mendengar deru mesin mobil di area parkir mansion lewat jendela ruang utama.
Matanya nanar menatap Harun yang terlihat begitu letih.
"Bagaimana Shanum Har, bagaimana kabar putriku"wajah penuh dengan ke khawatiran menyongsong kedatangan Harun.
"Nona Shanum sudah melewati masa kritisnya Tuan, dan akan di pindahkan ke kamar rawat jika kondisi sudah stabil"jawab Harun, wajah yang terlihat letih namun kewajiban yang harus di patuhi.
Harun tak dapat melupakan pertolongan Hardy, karena kebaikan lelaki di hadapannya itulah Harun kini dapat hidup dengan layak.
Andai tak ada Hardy yang menolongnya dari masa terpahit dalam hidupnya, belum tentu saat ini ia bisa menikmati hidup dengan penuh rasa syukur.
Hardy menghela nafas berat, andai hari ini tidak ada rapat penting tentang kelangsungan Wijaya Corp, tentu ia akan segera menemui putri tercintanya melewati masa kritis dan menemaninya sepanjang waktu.
"Tenanglah Tuan, ada Tuan Rangga, dan Tuan Devon yang menjaga non Shanum, dan ehmm"
"Dan siapa Run?"tanya Hardy cepat melihat wajah sang asistennya yang kebingungan.
Harun pun menceritakan tentang pria yang telah menolong nona mudanya dan membawanya ke rumah sakit elit.
Hardy menyimak penuturan Harun dengan penuh perhatian dan kedua alis mengerut.
"Sekarang kita harus bersiap ke kantor, dan aku yang akan mewakili Shanum kali ini, jika mereka tidak menerima maka aku akan bongkar semua siapa dalang di balik semua kejadian ini"ucapan Hardy tampak tegas dan dingin, kali ini ia tak akan memberi mereka kesempatan untuk Hendy dan antek-anteknya beraksi sesuka hati.
"Segeralah kau bersihkan dirimu, kita berangkat ke Wijaya Corp tiga puluh menit lagi"perintah Hardy.
Harun pun mengangguk hormat.
__ADS_1
Sementara di Rumah sakit, Rangga masih setia duduk di samping Shanum, genggamannya tak pernah lepas dari tangan kecil Shanum.
Drrt drrt.
Rangga mengambil ponselnya.
"Keluar dan makanlah dulu, kau harus mengisi perutmu, Shanum untuk sementara biar aku yang menjaganya"
Pesan yang di kirim Devon yang berada di balik pintu.
Rangga pun menoleh saat Devon menunjukan bungkusan dari balik pintu kaca dan menyuruhnya keluar.
Perut yang sejak kemarin sore belum terisi, terasa perih kini Rangga rasakan.
Setelah memandang Shanum sekilas, Ranggapun segera keluar dari ruangan Shanum di rawat.
*
*
Hardy memasuki ruang rapat, di mana semua peserta telah duduk dengan berkas masing-masing yang berada di depan meja nya.
Sebelumnya dari balik kaca ruangan Hardy sempat melihat beberapa peserta rapat tampak berbisik-bisik, namun Hardy mengacuhkan semuanya.
Meski ada beberapa peserta rapat yang terlihat tidak puas karena ketidak hadiran CEO tuan rumah, namun berkat ke akuratan data dan jumlah keuntungan yang naik beberapa persen dari tahun lalu, membuat para investor pun tak bisa menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya.
Keuntungan yang mereka dapat tahun ini berkali lipat dari tahun lalu, maka ketidak hadiran CEO Shanum tidak menjadi masalah besar untuk mereka, selagi kerja sama dengan Wijaya Corp mendatangkan keuntungan besar bagi mereka maka dengan senang hati para investor bahkan rela menambah dana untuk penanaman saham di Wijaya Corp.
__ADS_1
Senyum Hardy mengembang puas, dari sudut matanya ia dapat melihat wajah salah satu peserta meetinh yang penuh kekecewaan, yah Hardy mengenal salah satu investor yang merupakan orang suruhan Hendy.
Hardy pun mengakhiri rapat dengan senyum puas, begitupun Harun yang kini merasa lega, pengorbanannya ternyata tak sia-sia.
"Run, kau istirahatlah, rapat telah usai, aku akan melihat keadaan Shanum di rumah sakit"ujar Hardy.
Harun pun mengangguk hormat.
*******
Rangga kini bisa sedikit lega, Shanum telah di pindahkan ke ruang rawat, hingga ia bisa lebih merasa tenang, meski Shanum masih tertidur karena pengaruh obat bius setelah di lakukan operasi pada bahunya.
"Ngga, kau istirahatlah, kondisi Shanum sudah semakin membaik, jagalah kondisi tubuhmu, biar aku yang akan menjaganya"kata Devon.
"Baiklah, aku akan memejamkan mataku sebentar, tolong bangunkan aku jika Shanum telah sadar"jawab Rangga dan Devon pun mengangguk pelan.
Ruang rawat yang luas dan terdapat meja dengan sofa panjang memudahkan Rangga untuk membaringkan tubuh dan melepas penat yang mendera nya.
Bayangan menikmati malam pertama yang syahdu bersama Shanum terpaksa tertunda.
Wajah cantik yang terlihat pucat dengan tubuh terbaring lemah membuat hati Rangga begitu perih, rasa bersalah karena tak dapat melindungi sang istri tercinta begitu mengganggu pikirannya.
"Maafkan aku sayang, aku ternyata belum bisa melindungimu, maafkan suamimu yang bodoh ini"gumam hati Rangga lirih, tak terasa matanya kini berkabut, dadanya pun terasa begitu sesak.
💗💗💗💗💗💗
Sabar ya baang ..malam pertamamu terpaksa tertunda dulu 😘😘
__ADS_1