Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Relakan Dia


__ADS_3

Shanum masih duduk di kursi ruang makan dengan perut yang terasa begah, setelah satu gelas susu hamil ia teguk hingga habis tak tersisa.


Siang ini ia sudah berencana pergi ke mall membeli perlengkapan baby nya.


Meski menurut kata orang tua, pamali jika mempersiapkan keperluan bayi sebelum berumur tujuh bulan di kandungan.


Rangga pun tak dapat menolak keinginan Shanum, toh nantinya ia paling hanya membeli camilan kesukaannya yang menjadi kebiasaan barunya semenjak mengandung.


Shanum kini lebih banyak ngemil hingga pipi chuby nya semakin terlihat menggemaskan.


Setelah menempuh perdebatan keras dengan Rangga, akhirnya Shanum mendapat ijin untuk pergi ke mall yang berada tak jauh dari mansion, tentunya dengan kawalan penjaga yang selalu mengikutinya dari jarak yang tak terlalu jauh.


Dengan dress se batas lutut berwarna merah muda bertabur bunga-bunga kecil terlihat sangat pas di tubuh Shanum yang kini sudah mulai terlihat perut yang agak membuncit.


Dengan rambut di kuncir atas memperlihatkan kulit leher putih jenjangnya terekspose sempurna.


Dengan tampilan bak barbie hidup itu Shanum melangkah memasuki salah satu mall besar di pusat kota itu.


Mata indahnya berbinar saat memasuki mall, jika tujuan pertama adalah untuk membeli perlengkapan baby namun matanya tak pernah mau di ajak kerja sama.


Pandangannya selalu tertuju pada stand berbagai makanan yang membuat air liurna seakan menetes.


Banyak pasang mata yang melirik ke arah Shanum, tubuh mungil dengan perut buncit terlihat begitu menggemaskan.


Di salah satu sudut mall yang menyediakan berbagai macam makanan begitu menarik perhatiannya.


Dengan penuh semangat empat lima Shanum menuju ke sebuah toko camilan masa kini, makanan yang berasal dari negri ginseng yang selalu wara-wiri di lihatnya di beranda sosmednya.


Air liur yang seakan menetes saat aroma masakan tersebut menggelitik hidungnya.


Namun senyum yang semula terbit penuh warna kini tiba-tiba berubah muram laksana tertutup awan mendung.

__ADS_1


Tertera satu kalimat berisi kandungan bahan makanan yang membuatnya terpaksa harus mengurungkan niat untuk membeli makanan itu.


Glekk


Entah kenapa hatinya begitu sesak.


Kenapa harus ada bahan itu hiks, batin Shanum kesal.


Kembali ia melanjutkan langkahnya ke foodcourt lain yang menyediakan berbagai asisan buah.


Senyum sang penjaga terlihat ramah dengan anggukan hormat saat Shanum mendatangi mereka.


Shanum tersenyum senang saat sang penjual menyodorkan piring kecil berisi potongan buah untuk di cobanya.


"Saya mau ini, ini , itu dan ini" tunjuk Shanum kalap.


Sang penjual pun tersenyum senang, selain cantik, ramah ternyata pembeli bertampang bak barbie di depannya juga begitu royal.


Belum sempat Shanum memegang tas berisi makanan yang di belinya, dua orang lelaki bertubuh tegap dengan seragam hitam sudah terlebih dahulu merengkuh tas belanjaan dengan badan membungkuk pada Shanum.


"Biar kami yang membawanya nyonya" ucap salah satu pengawal.


Shanum hanya mengangguk, sedikit kikuk karena lirikan penuh tanda tanya dari para penjual foodcourt yang memandang ke arahnya.


Tak mereka kira jika pembeli cantik berwajah barbie itu ternyata di kawal oleh dua pria bertubuh tegap, membuat mereka saling pandang dan bertanya-tanya siapa gerangan wanita cantik dengan dua pengawal yang selalu menjaganya itu.


Kedua penjaga itu pun kembali menjauh agar jarak mereka tak mengganggu aktifitas sang nyonya muda mereka.


Karena dahaga yang kini menyerangnya akhirnya Shanum berhenti di sebuah stand makanan yang menjual minuman kekinian.


Shanum tetap duduk manis menghabiskan minumannya tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang melirik ke arahnya dengan pandangan penuh rasa kagum.

__ADS_1


Hari beranjak sore, Shanum berjalan santai dengan senyum merekah indah mempesona di pandang mata.


Sementara dua penjaga di belakangnya harus rela berjalan dengan tangan masing-masing penuh berisi jinjingan belanjaan Shanum.


"Kita langsung pulang apa makan dulu pak?" tanya Shanum yang merasa tak tega melihat kedua pengawalnya dengan peluh yang membanjiri baju mereka.


"Sebaiknya kita pulang saja nyonya, hari sudah sore, takut nanti tuan Rangga akan marah jika nyonya belum pulang"


Shanum mengangguk pelan, memang benar kalimat penjaganya, namun sudut matanya sempat melirik ke arah salah satu butik yang berada di ujung mall.


Butik ternama yang menarik perhatiannya, sebuah butik yang menyediakan berbagai gaun lengkap dari gaun pengantin hingga baju daster cantik pun ada.


Daster cantik yang berada di butik itu terlihat anggun dan elegan, meski tampak sederhana namun masih menampakan keanggunan yang biasanya terpancar pada ibu hamil.


Di tengah kesibukannya memilih baju hamil dengan para pelayan butik, tampak sepasang mata tak berkedip memperhatikan Shanum dari balik ruangan yang bersekat tirai yang berbuat dari anyaman bambu.


Dengan ramah pelayan butik memilihkan beberapa baju yang menjadi best seller di butik tersebut, Shanum pun dengan senang hati memilih sekaligus beberapa potong baju untuk di belinya.


Biar cukup di pakai sampai usia kehamilannya bertambah besar, pikir Shanum.


Setelah puas Shanum pun melangkah pergi dengan pengawal di belakangnya yang kini semakin bertambah banyak jinjingan di tangan mereka.


Senyum haru terbit dari wajah di balik tirai, setelah ia perintahkan salah satu karyawannya untuk memberikan hadiah special untuk Shanum yang di titipkan lewat pengawalnya.


Andai kau menjadi menantuku, sungguh bahagia rasanya.


Tatapan wanita paruh baya yang tak lain adalah pemilik butik tersebut terlihat berkabut.


Kepingan memorynya pada sang putra yang berada di negeri sebrang kembali berputar.


Dia sudah hidup bahagia nak, relakan dia.

__ADS_1


__ADS_2