
Anah tersenyum gemas, melihat wajah Linda sudah penuh butiran air keringat.
Wanita sexy tersebut angkat tangan setelah menghabiskna dua mangkuk kecil rujak buah.
"Sshhhhh haahhh, sudah bu pedas" ujarnya pada Shanum.
Sedangkan Shanum sama sekali tak merasa sedikitpun tersiksa dengan rasa pedas tersebut.
Lelaki paruh baya yang mengenakan sorban putih menyudahi do'anya, mereka pun pulang setelah Asep dan dua remaja tetangganya membagikan bungkusan nasi kotak.
Wajah Asep terlihat sangat bahagia, akhirnya tercapai sudah impian mereka untuk bisa merayakan acara selamatan tujuh bulanan bayi yang di kandung sang istri.
Anggukan hormat dari Asep dan senyum haru saat melepas para tamu, tak menyangka ia bisa mewujudkan keinginannnya, acara yang baginya dulu hanya sebuah angan, kini tercapai sudah.
Tinggal lah Rangga, Shanum dan Linda, juga satu orang wanita berumur lebih dari lima puluh tahun, dialah tetangga Anah sekaligus tukang urut yang baik hati, yang selalu memperhatikan Anah, bahkan Asep dan Anah sudah di anggapnya anak mereka sendiri.
"Pak Rangga dan bu Shanum, sekali lagi kami ucapkan beribu-ribu terima kasih atas kebaikan bapak dan ibu, andai tak ada bapak dan ibu, mana mungkin kami bisa mewujudkan impian kami ini" ucap Asep haru.
"Bukan karena kami Bang Asep, tapi semua ini bisa terlaksana karen kebaikan bang Asep dan Anah sendiri, kami hanya lah perantara yang Tuhan kirim untuk memberikan berkahnya pada kalian, dan maaf kami datang dengan tangan kosong" ujar Rangga tersipu.
"Ah mana bisa begitu pak, ini semua adalah pemberian dari bapak, kiriman nasi box juga uang yang bu Shanum berikan sebagai persiapan kelahiran bayi kami, itu sudah lebih dari cukup yang kami terima dari kebaikan bapak dan ibu."
Rangga tersenyum dan perlahan beranjak dari tempatnya duduk.
"Karena hari sudah malam, kami mau pamit pulang bang."
Shanum dan Linda pun bangkit dari duduknya.
Linda merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah amplop dan di serahkan ke Anah.
"Anah maaf saya tidak bisa ngasih apa-apa buat kamu, ini sekedar buat beli sabun" bisik Linda sambil menyodorkan amplop ke Anah.
"Ah tidak usah bu Linda, datang nya bu Linda ke gubug kami pun sudah sangat membahagiakan kami , jangan kapok ya bu."
Melihat penolakan tulus Anah, tentu saja membuat Linda gusar, dengan sedikit memaksa ia masukan amplop ke saku daster Anah saat wanita itu sedang lengah.
Anah hanya bisa pasrah saat Linda memasukan amplop ke saku baju dasternya.
Shanum kini di landa kebingungan karena ia sama sekali tak menyiapkan amplop satu pun.
"Bu masih ada amplop tidak?, saya tidak membawa satu pun" bisiknya.
Linda pun merogoh tas dan menyerahkan amplop ke Shanum.
__ADS_1
Dengan membalikan tubuh ke arah dinding, Shanum mengambil dompet di tas jinjingannya.
Linda hanya dapat menelan ludah saat Shanum memasukan puluhan lembar uang kertas berwarna merah ke dalam amplop.
Itu uang buat kondangan apa uang buat belanja bu, batin Linda.
Kertas putih yang semula tipis tentu saja kini berubah tebal dan tak bisa di lipat.
"Anah, besok kalau kau ada waktu senggang datang ke mansion ya, tolong bikinin aku rujak seperti tadi, dan ini buat beli buahnya" Shanum menyodorkan amplop tebal ke Anah.
Shanum tahu, Anah tak akan mau menerima apapun secara gratis, dengan dalih meminta untuk di buatkan rujak pastilah Anah tak akan menolak pemberiannya.
"B baik bu, terima kasih, pasti saya akan datang ke mansion, kita akan buat rujak bersama" senyum haru terbit dari bibir Anah.
Asep duduk di ruang tamu di sebelah Anah, badannya terasa penat.
"Minum teh hangat ini bang." Anah membawa segelas teh hangat untuk suaminya.
"Nah, Sep, Emak pulang dulu ya, acara sudah selesai dengan lancar emak ngantuk mau tidur" ujar wanita tua itu tersenyum hangat.
"Iya mak, terima kasih atas bantuan Emak, besok datang lagi Mak? Anah mau di urut katanya."
"Iya, pasti Emak datang."
Wanita renta itu melangkah perlahan keluar, namun Anah menahannya.
"Apa kamu ada uang Nah, Emak tidak perlu di bayar, Emak mah ikhlas Nah" ucap tukang urut lembut.
"Tenang Mak, Anah mendapat rezeki lumayan" jawabnya.
Emak pun mengangguk haru.
"Baiklah, terima kasih ya Nah."
Sepeninggal Emak tukang urut, Anah menarik tangan Asep ke kamarnya.
"Aduh Nah, abang lagi cape, besok saja ya" rupanya Asep menganggap istrinya mengajak ke kamar karena merindukan kehangatannya.
"Ish abang, mesum aja pikirannya."
"Lalu, emang mau apa selain kamu ingin kita ninu ninu?"
Anah mencebik kesal lalu mengambil amplop dari dalam lemari.
__ADS_1
"Lihat bang" Anah membuka amplop dan menaruh kertas merah berjajar di atas kasur.
Mata Asep membola, uang berjumlah tak kurang dari tiga puluh lembar berjejer rapi.
"Ini dari bu Shanum bang, dan ini dari bu Linda, mereka memberi kita uang begitu banyak" ucap Anah haru.
Keduanya pun saling berpelukan erat.
"Terima kasih atas kehadiranmu nak, kau datang membawa begitu banyak berkah untuk kami" isak tangis asep sambil mengusap lembut perut buncit sang istri.
Sementara di tempat lain, Linda yang menyandarkan tubuhnya di sofa panjang, memejamkan matanya.
Setelah mandi tubuhnya terasa segar, dan matanya pun terasa sepat.
Rasa pusing yang di rasakan pagi tadi kini seakan menghilang dan malam ini ia pun bisa tidur dengan nyenyak.
Gerimis kecil mengawali pagi ini, Linda berangkat setelah membersihkan tubuhnya.
Segelas susu dan omelet hangat kiraanya cukup mengisi perutnya, bibi yang biasanya menyiapkan sarapan, hari ini ijin tidak masuk karena pulang kampung.
Kereta besi Linda pun membelah kota dengan kecepatan sedang, kemacetan sudah mulai terjadi di sepanjang jalan, karena memang sekarang sudah memasuki jam sibuk.
Linda bisa bernafas lega setelah keluar dari simpul kemancetan tak terlalu lama.
"Huff" masih di depan kemudinya Linda memijit pelipis, kepalanya kembali terasa berat, mungkin karena kemacetan tadi, pikirnya.
Perlahan langkah Linda memasuki ruang kerjanya.
Tok tok.
"Masuk."
Lefrant muncul dengn beberapa map di tangan.
"Lu kenapa? Pusing? udah sarapan belum ?" tanya Lefrant datar.
Linda hanya mencebik, memiliki seorang kakak yang sangat kaku dan datar sungguh mengundang emosinya.
"Hanya sedikit berat kak, mungkin karena tadi kejebak macet" ujar Linda sambil memeriksa berkas yang di bawa sang kakak.
"Minum obat dulu, jangan membuat semakin parah" ujar Lefrant lalu melangkah pergi.
Linda tak mengindahkan perintah sang kakak, rasa pusing di kepalanya masih bisa ia atasi, dengan makanan pedas pastilah akan langsung hilang, pikirnya.
__ADS_1
Mengingat kata pedas, Linda sontak teringat rujak buah yang ia makan di rumah Anah, rasa pedas asam dan manis sungguh air liurnya hendak tumpah meski hanya mengingatnya.
Haisshhh, di mana harus cari rujak seperti di rumah Anah, sialan ini perut mirip orang ngidam aja, batinnya lagi.