
Rangga terpaku di tempat duduknya, dengan dress rumahan sebatas lutut berwarna navy, rambut tergerai dan masih tampak sedikit basah karena baru selesai keramas, bibir dengan warna pink natural membuat Shanum terlihat begitu cantik.
Senyum manis Shanum mengembang saat netra matanya melihat sosok pria yang berada di samping sang ayah.
"Sudah lama kau datang Ngga?".
"Ehm belum begitu lama"jawab Rangga tenang meski debaran jantungnya kini terdengar tak beraturan.
"Dia datang membawakan obatmu Sha,dari perusahaan langsung menuju ke sini demi kamu"ujar Hardy tersenyum sambil melirik ke arah Rangga.
Mata Shanum berbinar,entah kenapa hatinya seakan berbunga saat mengetahui maksud kedatangan Rangga, meski bisa saja ia memerintahkan asisten Harun untuk mengambilkan obat tersebut, namun ternyata Rangga begitu perhatian hingga dengan tulus mengantarkan ke mansion.
"Terima kasih Ngga"Rangga terlihat gugup mendapat hadiah senyuman yang begitu manis.
"Rangga,Sha ..ayo kita makan sebelum masakan ini menjadi dingin semua"ujar Hardy.
Dengan khidmat ketiganya menikmati makan malam.
Shanum berjalan ke arah dapur setelah makan selesai, mengambil buah-buahan yang sudah di siapkan sang pelayang.
Hardy dengan mengedikan alisnya pada Rangga agar mengikutinya ke ruang kerjanya,Rangga pun mengikuti langkah Hardy dengan hati penuh tanda tanya,jika ia memanggilnya ke ruang kerja tentu ada tugas penting yang harus di kerjakannya.
*
*
Devon menatap langit-langit kamarnya dengan hati gundah, tekadnya sudah bulat, ia harus membicarakan masalah ini dengan Shanum dan menyelesaikannya segera, meski resiko besar akan menghadangnya namun ia harus segera memutuskan.
Sementara di tempat lain, Rangga tengah menatap foto di tangannya, meski baru sekali bertatap muka, namun ia dapat mengenali gadis yang berada di foto tersebut.
Dokter Vina,untuk apa tuan Hardy memintanya untuk menyelidiki identitas dokter tersebut.
Tugas yang mudah bagi Rangga, hingga tak perlu waktu lama untuknya mengantongi semua informasi tentang dokter Obgyn tersebut.
__ADS_1
Kini hatinya di liputi berbagai pertanyaan.
Dari informasi yang di dapatnya, dokter Vina pernah menempuh pendidikan satu universitas dengan tuan Devon,mungkinkah tuan Hardy mengetahui sesuatu yang masih tersembunyi,pikir Rangga.
Dengan segera ia mengirimkan semua informasi yang di dapatnya pada tuan Hardy lewat email.
Tok tok tok .
"Ngga bangun woyy,masuk kerja gak lu brow"Kevin berkata dengan nada tinggi karena merasa kesal,sudah beberapa kali ketukan keras di pintu tak ada jawaban.
"Hoaaammm".
Pening rasanya kepala Rangga, entah jam berapa tadi malam ia baru dapat memejamkan matanya.
Dilihatnya Kevin sudah rapih dengan kemeja kerja nya, sebungkus nasi sarapan sudah berada di atas meja.
"Gue berangkat dulu bro, mau jemput my babe dulu, oiya itu sarapan buat lu di atas meja"pesan Kevin lalu melajukan motornya.
Meski kadang tingkahnya nggak ada ahlak namun di akui rasa kesetiakawan Kevin begitu besar pada Rangga.
Langkah Rangga tertahan saat di front office ponselnya bergetar.
Senyumnya mengembang saat membaca satu pesan dari wanita yang memiliki pintu surga nya.
Rupanya setelah lama Rangga tak juga pulang ke rumah, membuat rasa rindu yang begitu besar para sang putra kesayangannya tak dapat di bendung lagi, hari ini sang ibu akan datang menjenguknya.
Jika berangkat dari rumah siang hari, mungkin akan sampai kontrakan sekitar pukul lima sore, pikir Rangga.
Hari ini ia akan berencana ijin setengah hari untuk menyambut sang ibu.
Dengan semangat, Rangga bergegas menyelesaikan tugas dikantornya, agar siang nanti ia pulang, tak akan membebani Danu atau pun Dika karena pekerjaan yang belum di selesaikannya.
Tok Tok Tok.
__ADS_1
"Ya silahkan masuk"Sahutan asisten Harun dari dalam ruangannya.
Rangga memasuki ruang asisten itu, tadinya ia akan langsung ke Shanum untuk memberinya ijin pulang setengah hari karena akan menjemput sang ibu, namun ternyata saat ini sang CEO sedang tidak ada di ruangannya, terpaksa Rangga minta ijin ke asisten Harun untuk menyampaikan pesannya
Satu pesan juga sudah Rangga kirim pada Kevin, agar temannya itu tak mencarinya saat pulang sore nanti.
Dengan perasaan gembira Rangga melajukan motornya,ia akan mampir dulu ke sebuah toko kue untuk membeli salah satu produk yang sangat ibunya sukai,sudah menjadi kebiasaanya,ketika pulang kampungtentu Rangga akan menyempatkan untuk membawa oleh-oleh kue kesukaan sang ibunya itu, juga beberapa camilan untuk Ardi sang adik.
Setelah memakan satu bungkus nasi untuk makan siangnya yang di belinya tadi,Rangga mulai membereskan rumah dan perabotan yang tentunya jika ibunya melihat akan keluar lah kuliah tujuh puluh menitnya, tentang pentingnya menjaga kebersihan.
Karena sang ibu sangat menjaga kebersihan,tentu saja akan merasa kesal dan keluarlah ocehan panjang karena melihat keadaan rumah kontrakan anaknya seperti kapal pecah.
Rangga duduk di kursi setelah membersihkan ruangan dan seluruh isi perabotan pun kini tertata rapih.
Senyumnya mengembang saat di dengarnya suara mobil berhenti di depan kontrakan.
Dengan bergegas Rangga membuka pintu dan benar saja,sang ibu dan Ardi keluar dari mobil travel yang di sewa untuk mengantar sampai ke kontrakan.
Rangga mencium tangan sang ibu dengan badan membungkuk lalu memeluknya erat,lalu menyalami sang adik.
"Kamu sehat kan nak,"sapa Hana dengan tangan mengusap punggung Rangga penuh haru,sekian lama tak berjumpa dengan putra kesayangannya itu kini telah berada dalam pelukannya.
Ardi menscan ruangan dengan teliti,sementara sang ibu tengah mengusap-usap kepala Rangga yang kini tengah dalam mode anak manja yang sedang membaringkan kepalanya di pangkuan sang ibu sambil bercerita tentang pekerjaanya.
"Tumben rumah ini rapih,rupanya kau sudah mempersiapkan kedatangan kami wahai abangku".
Ardi tersenyum smirk,karena teringat saat pertama kali datang ke rumah kontrakan ini begitu menyeramkan,beberapa baju kotor tampak bergelantungan bebas di atas pintu,piring dan gelas kotor pun menumpuk di bak cuci piring,lantai yang berdebu serta kulkas yang hanya berisi air putih.
Tak berapa lama Kevin pun datang dan tersenyum lalu menepuk bahu Ardi setelah menyalaminya.
"Kapan kalian datang Di?"tanya Kevin,lalu melangkah ke ruang tamu di mana Rangga masih sedang bermanja ria pada sang ibu.
Kevin menyalami ibu Rangga, matanya berbinar saat di dapati toples berisi asinan buah kesukannya berada di atas meja makan.
__ADS_1
Ada empat toples berukuran sedang berisi asinan, satu untuk dirinya, dua lagi untuk Rendi dan Rangga, dan yang menjadi pertanyaan satu toples berhias pita terlihat sangat cantik.
"Jangan kau sentuh toples yang berpita itu "Rangga berteriak dari ruang tengah saat melihat Kevin hendak meraih toples istimewa itu.