
Shanum terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap pelan lalu memandang sosok yang berada di sampingnya.
Dadanya berdesir cepat saat tangan Rangga ternyata masih erat memegang dadanya yang polos.
Shanum mengurai pelukan sang suami, setelah membersihkan diri ia pun menghabiskan se gelas air hangat.
Baru pukul empat pagi, namun kenapa suasana terasa gerah, batin Shanum.
Beberapa detik kemudian terdengar suara gemericik hujan, membuat Shanum urung membuka jendela balkon lantai dua nya.
Rangga menggeliat di bawah selimut, mencari squishi yang kini hilang dari genggaman tangannya.
"Sayang..." panggilnya lirih.
Ceklek.
Shanum keluar dari kamar mandi dan melihat sang suami masih nyaman di balik selimutnya.
Suasana pagi di tambah hujan yang turun semakin deras, membuat Rangga bertambah enggan beranjak dari ranjang.
"Sayang mandi lah, aku akan menyiapakan bajumu."
"Ehmm, sayang tunggulah sebentar lagi, ini masih terlalu pagi" Rangga menarik tangan Shanum hingga kini tubuhnya terjerembab menimpa dirinya.
"Akhh" pekik Shanum terkejut.
"Maaf, maaf" ucap Rangga penuh sesal lalu bangkit dari tidurnya.
"Apa sakit? Mana yang sakit?" tanya Rangga gugup dengan tangan meraba tubuh Shanum yang terbalut bathrobe.
Shanum menggeleng cepat "Aku hanya kaget" ucapnya.
"Maafkan ayah ya nak, muaachh" Rangga mengecup perut Shanum lembut.
Tangannya terus mengusapnya perlahan.
Dan usapan tangan Rangga pun kini bukan hanya ia lakukan di luar bathrobe namun sudah menyelusuri permukaan kulit polos Shanum.
Senyum smirknya mengembang, pagi hari memainkan squishi memang sangat menyenangkan, batinnya.
Dan Shanum pun harus rela membiarkan tangan jahil suaminya memainkan benda kesukaannya, untung saja tidak ada melanjutan acara menengok debay ronde kedua, karena badannya sudah terasa remuk redam,
Rangga melangahkan kaki dengan enggan, terpaksa hari ini ia mengendarai mobilnya sendiri.
David saat ini sedang tak enak badan jadi ia ijin, Rangga hanya bisa menghela nafas berat, pastilah hari ini ia akan sangat sibuk, tanpa sang asisten tentulah pekerjannya bertambah menumpuk.
David sudah memakai baju casual, celana jeans, dan kaos lengan panjang yang pas di tubuhnya, membuat perutnya yang rata dan berotot jelas terlihat.
Ting.
Linda memandang pintu apartemen saat bel berbunyi.
David memasuki apartement dengan semangat, namun senyumnya sirna saat di lihatnya kedua mata Linda terlihat bengkak dan sembab.
"Kamu kenapa?" tanya nya panik.
Flash back on.
__ADS_1
"Kemana kau siang tadi heum?" tanya Lefrant dengan tatapan mata sinis.
Geram hatinya bukan main saat sopir yang mengantarkan Linda pulang tanpa Linda.
"A aku pulang ke apartemen kak."
"Lalu dengan siapa kau ke apartement, kenapa Johan kau tinggalkan hah?" hardiknya kesal.
"Aku di bantu pak David karena kebetulan dia juga sedang berobat di rumah sakit itu."
Tatapan mata Lefrant nyalang memandang sang adik.
Namun matanya menangkap benda kecil panjang di atas meja yang menarik perhatiannya, ia bukan lelaki bodoh yang tak tahu benda apa itu.
Alat tes kehamilan.
"Milik siapa ini?" tanyanya pada Linda dengan mengacungkan test pack yang di pegangnya.
Linda tercekat, jantungnya berdebar kencang, karena kecerobohannya alat itu masih tergeletak di atas meja.
"Katakan milik siapa ini hah? Apa ini milikmu Linda!!" suara Lefrant menggelegar ke seisi apartementa.
"M maaf kak hiks" isak Linda pun terdengar lirih dengan suara bergetar.
Plakk.
Geram hati Lefrant bukan main, adik perempuan satu-satunya yang telah ia jaga sejak kecil, kini ternyata sedang hamil sebelum memiliki suami.
"Kak maafkan aku hiks."
Lefrant tak menghiraukan tubuh Linda yang terduduk di hadapannya dengan memegang kedua kakinya.
Suara Lefrant masih terdengar tinggi.
Linda menggeleng, ia tak ingin sang kakak menyalahkan David sepenuhnya, karena mereka melakukannya tanpa ada paksaan, bahkan bisa di katakan Linda lah yang telah memaksa David karena efek dari obat laknat itu.
"Baiklah kalau kau tak akan mengatakan siapa ayah dari bayi yang kau kandung maka , aku yang akan mencari tahu sendiri" ucap Lefrant sambil melangkah pergi dari apartement dengan muka merah padam.
Flash back off
David memegang Tangan Linda dengan erat.
"Kita hadapi bersama, aku yang akan mengatakan pada kakakmu, aku akan bertanggung jawab" ucapnya dengan penuh percaya diri.
David menarik tubuh Linda hingga kini berada dalam pelukannya.
"Kau sudah sarapan?" tanya David setelah mengurai pelukannya.
Linda menggeleng pelan.
"Duduklah, akan ku lihat makanan apa yang berada dalam kulkasmu yang bisa kita makan."
Katanya pemimpin perusahaan yang memproduksi berbagai makanan lezat, tapi ternyata di dalam kulkas yang di milikinya hanya ada buah dan buah, batin David.
"Kita makan di luar saja, lalu ke dokter" ucap David muncul dari dapur.
"Aku ganti baju dulu."
__ADS_1
Tak berapa lama Linda keluar dari kamar dengan rok span tiga per empat dengan belahan yang memperlihatkan paha mulusnya.
Glek.
"Ayo kita berangkat" ujar Linda yang hendak langsung melangkah pergi.
"Tunggu" David menarik tangan wanita itu.
"Ganti lah dulu bajumu dengan yang lebih enak di pandang, aku tak ingin ibu dari anaku menjadi objek tontonan gratis para lelaki hidung belang" ucap David tenang.
Kali ini meski ia belum sepenuhnya memiliki hak atas Linda, namun jiwa lelakinya tak ingin jika wanita yang akan menjadi miliknya menjadi ide fantasi pria nakal.
Linda menatap manik mata David, biasanya ia sangat membenci jika ada orang mengekang keinginanya namun saat pria di hadapannya meminta dengan kalimat yang sungguh membuat hatinya menghangat, Linda tak bisa menolaknya.
Di bongkarnya lemari baju besar miliknya, tak ada satu pun baju yang David maksud 'enak di pandang' tentulah baju yang tak memperlihatkan lekuk tubuhnya terlalu terekspos.
"Hanya ini" desisnya lirih.
Dres sebatas lutut dengan lengan panjang mungkin cukup untuk menutupinya, batin Linda.
Ia pun bergegas mengganti bajunya.
Tak tok tak.
David menghela nafas panjang, pasti semua baju Linda bermodel kurang bahan.
Benar saja, namun kali ini dress selutut dengan lengan panjang agak lebih baik.
"Hanya ini" ucap Linda lirih dengan mata ke arah baju di badannya.
"Nanti kita sekalian membelinya" David berucap lembut seraya merangkul pinggang Linda.
Keduanya pun kini dalam perjalanan menuju ke sebuah mall besar.
"Kenapa ke sini?" tanya Linda.
"Kita sarapan, lalu beli baju buatmu" ujar David.
Linda hanya pasrah saat pinggangnya di rangkul tangan kekar David.
"A apa kau tak takut akan ada yang melihat kita?"
"Kenapa harus takut, itu bukan sebuah kejahatan, toh nantinya kau juga akan menjadi miliku" bisik David di telinga Linda dengan penuh percaya diri.
Wanita itu hanya bisa senyum masam, tak terbayangkan sebelumnya jika takdir ternyata menginginkan mereka bersatu.
Di sebuah food court mereka memesan makanan.
"Untuk kali ini tak apa kau memakan makanan tak sehat, tapi lain kali, tak akan ku biarkan calon anakku kau kasih makan seperti ini" bisik David.
Glek.
Linda mengangguk kaku.
"Makanlah yang banyak, biar anaku tumbuh sehat" sambung David lagi.
"Kau bilang dari tadi 'anakmu, calon anakmu' saja" tukas Linda sewot.
__ADS_1
"Memang betul kan bayi yang ada di dalam perutmu adalah calon anaku."