
Pagi ini Shanum bangun lebih lama dari Rangga, ia membuka kedua matanya perlahan.
Kini sudah menjadi pemandangan yang biasa saat melihat sang suami telah berpakaian rapih, ada perasaan bersalah bergelayut di hatinya.
Shanum merasa menjadi seorang istri yang tak di butuhkan oleh suaminya.
Meski Rangga sudah me wanti bahwa itu adalah kemauannnya sendiri.
Rangga yang memang tak ingin mengganggu tidur sang istri yang sedang hami, ia menyiapkan keperluannya sendiri.
Bukan hal yang sulit baginya, karena menyiapkan baju sendiri memang selalu di kerjakan saat ia masih hidup melajang dan tinggal di rumah kontrakan bersama Kevin.
"Kau belum sarapan sayang?" tanya Shanum masih dengan suara berat kini sudah duduk di tepi ranjang.
Rangga mendekat ke arah sang istri dan duduk bersimpuh di hadapannya, tangannya mengusap lembut perut sang istri, di kecupnya beberapa kali permukaan kulit yang kini membuncit.
"Nak, ayah berangkat dulu yaa, jangan buat ibu merasa sakit lagi, jadilah anak baik" sambil mengusap Rangga bergumam kecil.
Shanum tersenyum hangat.
"Aku baik ayah, aku hanya ingin bermain."
Rangga tersenyum gemas mendengar suara Shanum yang sengaja di rubah bak suara seorang anak kecil.
Di acaknya puncak rambut sang istri.
"Cepat hubungi aku jika perutmu terasa sakit lagi?"
Shanum mengangguk pasti.
"Aku sudah meminta ibu agar datang kesini menemanimu, mungkin sore mereka tiba."
Mata Shanum membulat dengan binar bahagia terlihat jelas di netra beningnya.
"Benarkah, ibu akan datang?"
Rangga mengangguk haru, begitu kesepiannya sang istri hingga mendengar sang ibu yang akan datang pun membuatnya sangat bahagia.
Shanum mengurai tangan Rangga yang masih memegang perutnya, lalu melangkah ke kamar mandi.
Rangga hanya terdiam, tiba-tiba Shanum meninggalkan dirinya yang masih duduk bersimpuh.
"Sayang, kau mau ke mana, perhatikan jalanmu, ingat kata dokter, jangan bergerak tiba-tiba" Rangga berucap dengan nada panik.
"Iya sayang."
Rangga hanya bisa menahan nafas, perut yang membuncit dan rasa kram di perutnya tak membuat Shanum memperlembut gerakannya, bahkan rasa sakit yang sempat membuat gaduh seluruh mansion seakan tak membuatnya merasa cemas.
Kini dengan leluasa ia bergerak seperti biasa tanpa beban sedikitpun.
__ADS_1
Bahkan saat mendengar bahwa sang ibu mertua akan datang ke mansion Shanum sempat berjingkrak riang.
"Sayang, masih lama kah kau di dalam?"
Rangga merasa sedikit cemas karena Shanum tak juga keluar dari kamar mandi.
"Iya tunggu sebentar lagi" teriakan dari kamar mandi membuat Rangga lega.
Tak lama kemudian ia keluar dengan bathrobe biru langit membalut tubuh.
Bergegas Shanum mengganti bajunya, lalu menyuncir rambutnya ekor kuda.
Rangga hanya dapat menelan saliva, leher putih jenjang sang istri sungguh menggoda imannya, andai saja ia masih memiliki banyak waktu, tentu ia akan memakan habis leher itu.
"Sayang ayo kita sarapan." ajak Shanum setelah berganti baju.
"Oh a ayo." keduanya bergandengan menuruni tangga.
Ruang makan yang berada di lantai satu terlihat hening, ahh senangnya jika nanti ibu sudah ada di sini, pasti mansion tak lagi sepi, Shanum membatin dengan seulas senyum.
"Hmm kenapa kau hari ini terlihat begitu bahagia sayang." Rangga yang menyadari senyum selalu terbit dari bibir mungil sang istri tampak bertanya heran.
"Ehm, aku tak sabar menunggu ibu, kapan sampai di sini."
"Uhukk uhukk, sayang, kan aku sudah bilang, mungkin sore nanti baru mereka tiba di mansion."
Shanum mengangguk paham" iya aku tahu, aku hanya ingin membuat sesuatu untuk ibu nanti."
"T tapi "
"Ku mohon dengarkan aku, kau bisa meminta tolong pada bibi untuk membuatnya jika kau ingin membuat sesuatu untuk ibu" pinta Rangga dengan wajah memelas, sungguh dirinya tak ingin sesuatu menimpa mereka lagi.
Shanum terdiam, mendengar kabar bahwa sang ibu mertua akan datang, hati kecilnya tak dapat menutupi kegembiraan yang seakan membuncah dari dadanya.
Sebagai seorang menantu ia pun ingin memberikan yang terbaik bagi sang ibu mertuanya.
"Sayang, bagi ibu hal terindah adalah melihat keadaan anak dan menantunya dalam keadaan sehat, begitupun calon cucu yang sedang kau kandung, tak tahu kan kau, ibu sangat cemas saat kukatakan bahwa kau sakit, bahkan dengan terisak, ibu bersikeras ingin berangkat tadi malam, untunglah aku masih dapat menahannya, setelah kuberitahu bahwa kalian saat ini sudah sehat kembali dan baik-baik saja, tolong jangan buat ibuku kembali sedih, buatlah ia tersenyum dengan kesehatan kalian yang semakin baik."
Rangga mengharap dengan penuh iba.
"Cukup duduk lah dengan tenang, dan tunggu ibu dengan senyum manismu, itu hal yang paling membuat ibu bahagia" Rangga merengkuh wajah Shanum dan memandangnya intens.
"Jaga kesehatanmu, aku orang pertama yang paling di murkai ibuku jika sesuatu terjadi pada kalian."
Shanum terdiam tanpa kata, air matanya meleleh membasahi kedua pipinya.
Hatinya begitu bahagia, ibu mertua begitu menyayanginya, bahkan sang cucu yang belum bisa di temuinya pun sudah mencuri hatinya.
Tak sadar Shanum mengusap perutnya.
__ADS_1
"Maaf."
Hanya itu yang dapat ia katakan untuk mengutarakan rasa sesalnya.
Tangan Shanum perlahan mengambil piring kosong dan menyiduk nasi beserta lauk dan di taruhnya di hadapan Rangga.
Dengan lahap Rangga memakan habis apa yang Shanum ambil untuknya, karena waktu sudah semakin siang.
"Aku berangkat, jaga diri kalian baik-baik"
Rangga mengecup puncak kepala Shanum lalu mengusap perutnya dengan lembut.
Sepeninggal Rangga Shanum kini hanya diam memandang hidangan di atas meja.
Sudah terbayang di pelupuk matanya, masakan sang ibu mertua yang selalu menggugah selera nafsu makannya.
Entah kenapa lidah Shanum begitu di manjakan dengan rasa yang sangat pas jika bu Hana yang masak.
Semua masakan bu Hana selalu Shanum suka.
"Bi.." panggilnya.
"Iya non, ada apa?"
"Ehm bibi hari ini berangkat belanja jam berapa?"
Bibi terdiam mendengar pertanyaan yang nona mudanya katakan.
Tak biasanya ia bertanya kapan berangkat ke pasar.
"Ehm mungkin agak siangan non, kenapa memangnya non."
"Ehm, nanti sore kan ibu Mau datang bi, dan aku mau bibi belanjanya pagi aja, biar bisa langsung di masak dan saat ibu datang masakan sudah siap gitu bi."
Bibi tersenyum paham.
"Ohhh baik non, saya akan langsung mencacat dulu daftar belanjannya, biar nanti langsung berangkat."
"Oke bi terima kasih ya bi."
Sementara Rangga yang kini telah berada di ruangan tersenyum menatap layar laptopnya.
CCTV yang di pasang di mansion memperlihatkan Shanum yang tengah duduk di ruang tengah.
Sengaja Rangga menambah jumlah layar pengintai untuk memantau sang istri, agar tak kecolongan lagi.
Kau semakin menggemaskan sayang, jadilah ibu hamil yang baik, nggak usah ke centilan pergi ke mall sendiri, Rangga bermonolog sendiri.
Ada sedikit kesal di hatinya, dalam masa perut bucit pun masih saja menarik perhatian orang lain, apalagi jika berdandan layaknya gadis ABG, bisa-bisa kau di culik oleh berondong mesum, batin Rangga.
__ADS_1
💦💦💦💦💦
Jangan lupa tinggalin jejak yaa, like, koment dan Vote 😘😘😘😍😍