
Untuk yang sudah kasih jempol like, vote dan koment author ucapin terima kasih banyak, dan bagi yang belum, author do'ain semoga di beri kesadaran agar bermurah hati dan sudi kasih vote nya😘😘😘
Untuk yang penasaran sama kisah Joy, bisa kalian baca karya author ke dua yang berjudul "Terciptalah Hanya Untukku"
Happy reading 😍😍😍
💦💦💦💦
Cuaca dingin menyambut kedatangan Rangga dan Shanum di kota bercuaca sejuk itu.
Sengaja keduanya berangkat pagi hari, selain agqr tidak terjebak macet, perjalanan pun belum terasa panas.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam akhirnya sampailah di kota tempat tinggal Rangga.
Shanum menggeliatkan tubuhnya, kegiatan panas yang di lakukan malam sebelum ia berangkat sungguh membuat badannya terasa remuk.
"Sudah sampai sayang" bisik Rangga sambil mengecup puncak kepala Shanum.
Mata indah itu mengerjap perlahan, Rangga tersenyum, tingkah sang istri yang selalu menggemaskan dan memancing gairah seakan membuat Rangga ingin selalu berdua.
Bahkan setelah gempurannya semalam, Rangga kini merasakan bagian inti tubuhnya kembali menegang hanya karena melihat bibir mungil menggemaskan dengan wajah bantal namun dengan mudah membangunkan Arjunannya.
Aishh, ini lagi, 'bangun' tidak tahu situasi dan kondisi ..sialan, gumam Rangga sambil memandang benda yang mengeras di bawah sana.
Cuaca dingin memang pas untuk berbulan madu, pikir Rangga, dan senyumnya terbit saat Shanum masih belum sepenuhnya tersadar.
Dengan cepat Rangga mengangkat tubuh Shanum hingga tak sadar keluar suara pekikan tertahan.
"Sstt jangan teriak, ntar mang Epi kaget"bisik Rangga sambil terus membopong tubuh Shanum masuk ke dalam vila, memang sengaja mereka terlebih dahulu mampir ke vila, karena jalan ke rumah Rangga harus melewati vila terlebih dahulu.
Ceklek.
Pintu vila tak terkunci karena Shanum sudah terlebih dahulu mengabari kedatangannya ke mang Epi sang penjaga vila.
Rangga memandang ke sekeliling ruangan.
"Mana mang Epi?"tanya nya.
"Mungkin sedang di kebun" jawab Shanum yang masih melingkarkan lengannya di leher Rangga.
"Sayang ngapain kita ke kamar atas"bisik Shanum panik karena Rangga melangkah menaiki tangga dengan tangan masih menggendong tubuhnya yang tak ringan.
"Enak di kamar atas, nggak ada yang gangguin"Rangga menjawab santai.
"Emang kita mau apa sayang, aku lapar" sebenarnya sudah meremang tengkuk Shanum saat Rangga sudah memandangnya dengan sayu, bahkan suaranya yang kini berubah berat dengan tatapan tajam.
"Iya nanti kita makan, tapi sekarang aku ingin makan kamu dulu" Shanum tak dapat berkutik saat Rangga membuka pintu kamar dan menguncinya.
__ADS_1
"Huff" ucapnya lega.
"Sayang nanti kang Epi datang"bisik shanum dengan wajah panik.
Benarkah suaminya akan mengajaknya kembali berkeringat, batin Shanum panik.
Shanum merasa aneh dengan apa yang di makan suaminya hingga mempunyai tenaga yang begitu extra setelah semalam menggempurnya tanpa ampun, kini pun kedua matanya memancarkan hasrat yang seakan sudah membuncah berada di puncak kepalanya.
Shanum tak dapat bergerak bebas dalam kungkungan Rangga.
Tatapan tajam seakan ingin memakannya saat itu juga.
Kedua mata Shanum terpejam saat Rangga mulai mengeluarkan ke ahlian baru yang di miliki sejak bersamanya.
Leher jenjang menjadi sasaran pertama, dan semakin ke bawah menyelusuri dada putih berhias gunung kembar yang kini semakin bervolume karena kenakalan tangan dan bibir Rangga.
Cuaca dingin seakan tak berarti, ruang berukuran tiga kali empat itu kini berubah panas, ******* saling bersahutan terdengar jelas.
Shanum semakin terbuai dengan kelincahan bibir Rangga yang memainkan kedua choco chip berwarna pink secara bergantian, entah kapan semua kain yang menutupi tubuh Shanum telah terlepas dan berserakan di lantai.
Dan Shanum pun melihat jelas benda panjang mengeras di balik boxer yang telah membuatnya terkapar tadi malam.
Hatinya berdebar membayangkan jika benda itu akan kembali menghujam dirinya.
Dan Shanum pun hanya dapat memekik tertahan saat benda tumpul itu benar-benar kembali menghujam hingga memenuhi bagian inti tubuhnya.
Cengkeraman tangan Shanum yang menancap ke punggung seakan tak di rasa oleh Rangga, gerakannya semakin cepat saat tubuh Shanum menegang pertanda ia telah mencapai puncak.
Rangga menghentikan gerakannya untuk memberikan jeda bagi sang istri untuk menikmati pelepasannya.
Rangga mengecup mesra bibir Shanum.
"Sekarang giliranku sayang" bisiknya setelah tubuh Shanum sudah tampak tenang.
Shanum mengangguk dengan rona wajah merona.
Tak ingin membuang waktu.
Rangga kini mempercepat ritme gerakan tubuhnya, dan lenguhan panjang pun keluar dari mulutnya saat larva hangat dengan deras di semburkan Arjunannya.
Untuk beberapa saat Rangga membiarkan tubuhnya masih menyatu dengan tubuh Shanum.
Senyum puas terbit dari bibirnya.
Misi mengabulkan keinginan ayah mertua memang mengasikan, gumam batin Rangga.
"Sayang ayo kita mandi" bisik Rangga setelah beberapa saat masih mendapati sang istri yang masih terkulai lemas di bawah selimut.
__ADS_1
"Hmm kau dulu, aku nanti" jawab Shanum dari balik selimut dengan nada lemah.
Pasti akan membutuhkan waktu lebih lama jika ia ke kamar mandi bersama dengan Rangga.
Rangga tersenyum lalu masuk ke kamar mandi, ruangan kecil yang tak sebesar di mansion namun tampak nyaman.
Di bawah Shower Rangga membersihkan tubuhnya.
Tak membutuhkan waktu lama bagi para pria untuk membersihkan badan, karena kini Rangga dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya tengah berjalan menuju ke lemari yang berada di kamar.
"Sayang aku tidak membawa baju" ucap Rangga panik, karena ia baru menyadari bahwa semua baju masih berada dalam tas di mobil.
Shanum ikut panik, lalu berdiri dengan tubuh berbalut selimut.
"Eh eh mau kemana sayang"tanya Rangga saat Shanum hendak keluar dari kamar"
"Mengambil tas di mobil" Rangga menautkan kedua alisnya, sungguh tak rela hatinya jika ada orang yang melihat pundak putih sang istri di lihat orang lain.
Meski warna nya kini sudah berubah menjadi putih bertotol merah.
"Kau tunggu di sini, biar aku yang ambil tas itu"ucap Rangga tegas.
Daripada membiarkan tubuh polos Shanum terekspose lebih baik dirinya yang rela hanya dengan handuk keluar vila mengambil tas yang ada di mobil.
Shanum pun melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, rencana di kota ini hanya sehari jadi Shanum harus mengejar waktu.
setelah menghabiskan sarapan yang telah mang Epi sediakan, kedua sejoli itu menjalankan mobil menuju ke rumah Rangga.
Tak kurang dari tiga puluh menit, akhirnya senyum Rangga terbit setelah rumah masa kecilnya terlihat dari kejauhan.
Begitu pun Shanum, rasa haru menyelimuti hatinya saat terlihat wanita paruh baya sedang menunggu di depan pintu rumah dengan senyum hangat.
Shanum menghambur keluar dari mobil dan berlari ke dalam pelukan Hana sang ibu mertua.
Dekapan hangat yang di rindukan membuat kedua matanya kini berembun.
Begitu damai saat merasakan usapan lembut di kepala dari tangan yang sudah tampak keriput.
Sudut matanya kini berair, dekapan hangat dari seorang ibu yang telah tiada seakan kini datang kembali.
"Bagaimana kabarmu naak, ibu kangen pada kalian"sapaan lembut Hana.
Hana mengurai pelukannya lalu menyisir tubuh Shanum.
Matanya terhenti di perut menantunya yang nasih tampak rata.
"Bagaimana tugasmu nak, apa cucuku sudah hadir di sana"Maharani memandang tajam ke arah Rangga.
__ADS_1
"Ehhm mungkin sedang otw bu"