
"Vid, makan siang nanti bareng ya" ajak Rangga pada sang asisten, sekarang ia jarang makan di kantin karena kesibukan yang kian bertambah karena absennya Shanum sebagai CEO.
Hingga ia pun jarang bertemu dengan Kevin sahabatanya.
Karena kesibukan masing-masing membuat keduanya jarang bersitatap, meski sesekali masih saling bertanya kabar lewat aplikasi hijau di ponsel.
Kevin yang kini semakin sibuk dengan Rara, kekasih yang sebentar lagi akan di nikahinya.
Rangga pun memaklumi hal itu, di saat status single tentu saja mereka masih bisa bebas bertemu dengan sahabat di luar sana, berubah jika sudah mempunyai seorang kekasih apalagi jika sudah terikat dengan pernikahan.
David mengangguk setuju, ia yang masih di bilang jejaka single, tentu masih bisa bebas bagai burung pergi kemana pun tanpa ada yang mengekangnya.
Begitupun saat waktu makan siang ini, David yang tak ada pilihan lain akhirnya mengikuti permintaan sang bos kali ini, ia yang tak menyukai masakan yang ber aroma khas, terpaksa harus beberapa kali menahan nafas saat memasuki sebuah warung makan sederhana untuk berburu masakan yang sedang di inginkan Rangga.
David menahan nafas, sayang rasanya jika hidung mancungnya tecemar karena aroma yang sangat di bencinya.
Warung makan khas masakan Betawi, memang David sudah tinggal lama di ibukota namun tak pernah sekalipun sang ibu menghidangkan masakan tersebut.
Beberapa kali David memutar matanya agar tak bersitatap dengan benda bulat berwarna hitam yang berada di atas piring di hadapannya.
Benda bulat yang mengeluarkan aroma yang membuat hidung nya begitu tersiksa.
Perut sixpacknya pun terasa mual.
Namun semua ia tahan karena jiwa pengabdiannya yang begitu setia, dengan semboyan sedia berkorban untukmu.
David rela makan siang hanya dengan semangkuk soto khas betawi yang masih dapat di terima oleh perutnya, itupun tanpa gorengan emping.
Rangga yang lahap menghabiskan makan siangnya tanpa menyadari betapa tersiksanya sang asisten yang makan dengan menghirup udara se minimal mungkin, karena aroma yang di bencinya.
David keluar dengan tergesa dari rumah makan tersebut setelah menghabiskan seporsi soto betawi.
Seakan terbebas sudah dari ruangan yang menyiksanya lahir dan batin.
Di hirupnya udara dengan hidung mancungnya agar paru-parunya kembali terisi udara bersih tanpa tercium aroma khas yang memenuhi ruang restoran tadi.
Rangga menatap sang asisten yang tampak membusungkan dadanya.
"Kenapa lu Vid, apa bengek lu kambuh?"
David menatap sang bos dengan tatapan tak percaya.
Wajah setampan ini memiliki penyakit bengek, apa nggak salah ucap, itu bos, geramnya kesal.
"Lega aja pak, banyak asap rokok di dalam." David berkilah, tak enak pada Rangga.
Rangga masuk ke dalam mobilnya yang kali ini di kemudikan oleh David.
Kedua sudut bibir membentuk garis lengkung saat matanya menatap pesan di layar ponselnya.
David hanya melihat sekilas tanpa berani untuk menanyakan lebih lanjut, melihat sikap bos yang sedang mode bahagia sudah membuat hati David tentram, dan ingin mengusik singa galak tersebut dengan ikut mencampuri kehidupan pribadinya.
__ADS_1
Di taruhnya kembali ponsel ke dalam kantong kemejanya, namun sudut mata Rangga sekilas menangkap bayangan gerobak yang menarik hatinya.
"Vid Vid, pelankan mobilnya?" pinta Rangga tiba-tiba lalu menoleh ke arah gerobak yang sudah terlewat.
"Ada apa pak?"
"Ehm itu sepertinya penjual lutis buah kan?" tanya Rangga memastikan penglihatannya.
David melirik ke kaca spion samping mobilnya.
"Iya benar pak"
Rangga tersenyum smirk, David yang melihat senyuman aneh yang menyimpan sejuta makna pun menelan saliva, perasaan hatinya tiba-tiba tak enak.
"Sepertinya segar juga kalau cuaca panas seperti ini menikmati lutis buah itu, kalau kau mau kau boleh membelinya Vid?"
Eh, eh...apa-apaan ini, kata siapa gue doyan lutis buah, rutuk David.
"T tapi saya tidak suka lutis buah pak" elak David.
"Tapi mungkin satpam gerbang depan suka sepertinya, kau belikan saja untuknya Vid"
Dasar si tukang lempar tangan sembunyi batu, geram David.
Bilang aja pengin lutis, pake fitnah orang lain segala.
David pun meminggirkan mobil tak jauh dari gerobak buah.
Rangga tersenyum puas melihat sang asisten berhasil membawa dua bungkusan berisi bermacam buah dan sambel lutisnya.
Cih, bilangnya buat satpam, tapi lihatlah air liurnya seakan menetes dari mulutnya, Oh nona Shanum, suami macam apakah yang kau pungut ini, David membatin merutuki sikap bosnya.
David menghentikan laju mobilnya saat melewati gerbang perusahaan di mana satpam sedang berdiri tenang.
Rangga menatap lurus ke depan tanpa menyadari David sejak dari tadi melihat ke arahnya.
"Ehm hmm."
"P pak" panggilnya ragu.
"Ehm iya, ada apa Vid?" jawab Rangga santai.
"I itu bungkusan bukannya untuk satpam?" tanya David sambil melirik ke arah bungkusan berisi petis buah.
"Ehm hah, ehm tidak usah, kukira mereka tak akan suka, buah ini asam rasanya."
Cih bilang saja mau di makan sendiri, hati David mencelos lalu kembali menjalankan mobilnya.
Senyum Rangga selalu merekah, tatapan para karyawan pun di acuhkannya.
David pun langsung menuju pantry untuk mengambil piring kosong.
__ADS_1
"Terima kasih Vid, apa kau mau mencicipinya juga Vid?" tanya Rangga menawarkan lutis yang sudah di pindahkan ke piring kosong.
David menggeleng pasti.
"Oiya Vid, nanti sore kita pulang bareng, kau nggak bawa motor kan?" David menggeleng karena hari ini ia memang nebeng dengan Dika saudaranya karena motornya sedang di bengkel.
"Ibuku baru datang dari kampung, biasanya beliau akan masak banyak dan kau harus mencoba masakan ibuku, kau pasti suka, istrikupun sangat menyukai masakan ibu" terang Rangga dengan penuh percaya diri.
David mengangguk pasrah, tak tega rasanya menolak ajakan bosnya, mata yang bersinar penuh harap, mana mungkin ia mengecewakannya.
Sore pun tiba, dengan semangat Rangga membereskan tumpukan map yang memenuhi permukaan meja kerjanya.
Sedangkan David masih di depan layar laptop dengan fokus.
"Vid, ayo kita pulang."
"M maaf pak, masih ada satu data lagi yang harus di selesaikan" nada David penuh sesal.
"Sudah tinggalkan saja, kau bisa mengerjakan besok, toh tidak terlalu mendesak kan?"
David menggeleng pelan.
Tak ingin bosnya mengulang lagi perintahnya, Davidpun membereskan meja kerja, lalu ke luar dari ruangan menyusul Rangga yang sudah menunggunya di lobi.
Senyum Rangga merekah saat David muncul dari pintu lift lalu menyerahkan kunci mobil ke arahnya.
"Bisa bawa kan?" tanya Rangga.
David mengangguk.
Kereta besi yang membawa dua pria tampan itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion.
Untunglah jalanan tak terlalu macet hingga waktu tak banyak terbuang.
Sampailah mereka di mansion, Rangga keluar dan mendahului David yang melangkah di belakangnya.
"Ayo masuklah." Rangga mengajak asisten yang masih tampak kikuk.
David menyisir mansion luas yang baru pertama kali ia jajaki, meski rumahnya pun besar tapi jika di bandingkan dengan mansion ini masih berbeda jauh.
Ruang tamu yang luas dengan dinding kaca tinggi dan furniture serba menawan sungguh tempat yang begitu nyaman, pikir David.
Di tengah fokusnya memindai ruangan, tatapan David tiba-tiba teralihkan pada dua wanita yang tampak sedang bercengkerama hangat.
Mata David mengerjap tak percaya, wajah cantik dengan dres rumahan sebatas lutut memperlihatkan perutnya yang mulai membuncit.
Ahh, kenapa seorang ibu hamil selalu memancarkan aura yang membahayakan, kurasa jantungku harus segera di periksa.
David membatin dengan tatapan intens ke arah Shanum yang berada di taman mansion.
Tatapan yang menyiratkan rasa kekaguman yang mendalam.
__ADS_1
💦💦💦💦💦
Jangan lupa like dan komentnya yaa😘😘