
Sebelum baca, jangan lupa buat goyangin jempolnya yaaa.
Like, koment, dan vote jangan pelit, happy reading 😘😘😘😘
💦💦💦💦
Rangga melajukan mobil dengan kecepatan sedang, meski mendapat tatapan mata yang mengisyaratkan larangan, namun Shanum akhirnya memberi ijin setelah ayah Hardy sendiri yang memintanya.
Terpaksa Shanum melepas kepergian Rangga di hari yang sakral ini, urusan penting apakah yang membuat ayah bersikeras mengajak Rangga, batin Shanum.
Selama dalam perjalanan, Rangga tak ada keberanian untuk membuka percakapan, wajah yang tampak tegang menyurutkan hatinya untuk menanyakan lebih lanjut tentang urusan yang tampak amat penting bagi ayah Hardy.
Setelah tiga puluh menit perjalanan sampailah mereka di sebuah rumah makan bernuansa alam, letak yang cukup jauh dari pusat kota dan masih banyaknya pepohonan membuat suasana tampak rindang dan asri.
Rumah makan yang ber konsep back to nature itu tampak begitu asri, sawah yang mengelilingi bangunan semi permanen tampak seperti hamparan permadani hijau nan subur, suara gemericik air yang mengalir melewati barisan gazebo yang sengaja mereka sediakan untuk pengunjung yang memesan secara privat.
Beberapa kolam ikan pun tersedia hingga masakan yang berbahan dasar ikan pun mereka sajikan dari bahan ikan yang masih segar.
Bahkan untuk mengurangi kejenuhan, pengunjungpun di sediakan peralatan untuk memancing.
Rangga memarkirkan mobil di belakang rumah makan.
Area parkir yang luas, hingga dapat menampung banyak kendaraan menandakan rumah makan itu laris dan banyak pengunjung.
Hardy dan Rangga melangkah mengikuti pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
Rupanya Darmawan memerintahkan seorang pelayan rumah makan untuk menyambut kedatangan Hardy.
Gazebo yang Darmawan pilih letaknya paling jauh dari area parkir, hingga membutuhkan beberapa menit untuk mereka jalan ke arah gazebo tersebut.
Dengan beberapa tanaman hias di sekeliling gazebo membuat pandangan sedikit tersamar oleh rimbunnya dedaunan.
Hardy tersenyum melihat dua lelaki berbeda generasi yang sudah menunggu mereka.
Rangga ikut menunduk hormat dan menyalami kedua pria di hadapannya.
Mereka duduk lesehan mengelilingi meja kotak pendek sebagai tempat makanan di sajikan.
"Bagaimana kabarmu Har,"Darmawan membuka pembicaraan.
__ADS_1
Hardy tersenyum dan mengangguk ringan" Aku baik Wan, maaf sudah membuat kalian menunggu".
"Tidak apa-apa kami memang sengaja meluangkan hari ini khusus untuk.."
"Ehmm hmm" Hardy dengan cepat memotong kalimat Darmawan.
"Eh om mau minum apa om, biar aku pesankan" Daren melihat Hardy yang tampak berdehem hingga mengira pria paruh baya itu tenggorokannya kering.
"Ehm apa aja boleh Ren, asal jangan minuman dingin" uajr Hardy.
Lalu Daren melambaikan tangan memanggil pelayan.
"Nah begitu dong kalau mau jadi calon mantu, harus baik-baik in ayahnya dulu" ujar Darmawan dengan mengedikan kedua alisnya ke arah sang putra, membuat wajah pemuda gagah itu tampak tersipu.
Rangga hanya melirik ke arah mertuanya dengan tatapan tak mengerti, sementara Hardy tampak shock dengan wajah berubah pias.
"Oiya kenapa kau tidak mengajak Shanum Har, lihatlah Daren begitu kecewa saat melihat kau datang hanya dengan asistenmu tanpa mengajak putrimu, tau kah kau, sejak bertemu Shanum, Daren bertingkah aneh, nafsu makannya berkurang, tidur pun tak nyenyak katanya, iya kan Ren?"tanya Darmawan pada sang putra yang terlihat makin salah salah tingkah.
"Ayah tidak perlu katakan itu juga kali Yah"ucap Daren sungkan.
Rangga yang mulai paham situasi di mana kini ia berada, masih diam menahan gemuruh di dadanya.
Namun ia masih berusaha menguasai panas di hatinya.
Rangga dengan tenang masih menyimak apa yang mereka katakan tanpa sedikitpun ingin menyela.
Hardy kini semakin memucat memandang ke arah menantunya.
Sementara Rangga masih tenang dengan tatapan tak pernah lepas sedetik pun dari pria bernama Daren yang duduk tepat berhadapan dengannya.
Heum, lumayan juga,
Batin Rangga menelisik Daren dari ujung rambut hingga ujung jempolnya yang masih dapat ia lihat dari balik lipatan lututnya.
Hardy sesekali menelan salivanya yang kini terasa pahit bagai empedu.
Darmawan yang masih fokus dengan ceritanya tentang bagaimana Daren yang begitu antusias menanyakan perihal Shanum.
Cih, terus saja kau sanjung putramu itu, sebentar lagi kau akan menyusut air matanya.
__ADS_1
Rutuk Rangga dengan senyum sinis.
Hardy yang melihat menantunya masih begitu tenang, dalam hati ia pun merasa bangga, Rangga masih bisa menguasai rasa cemburunya dengan kepala dingin.
"Ehm hmm"Hardy tak ingin membuang waktu terlalu lama, iapun mengubah posisi duduknya hingga kini lebih tegap dengan wajah yang berubah serius.
"Maaf sebelumnya aku sampaikan pada kau Wan, juga Daren, karena kecerobohanku hingga terjadi situasi yang rumit ini" kalimat Hardy tertahan saat ia mengalihkan pandangannya ke arah Rangga.
Rangga yang melihat hal itu pun tersenyum dan mengangguk hormat, mempersilahkan ayah mertuanya untuk menjelaskan kenyataan sebenarnya.
Dari cerita dan kalimat yang Rangga dengar, dapat di simpulkan bahwa sahabat ayah mertuanya itu merasa tertarik dan ingin menjodohkan Shanum dengan putranya, yang rupanya pria itu pun sudah menyukai Shanum dari pandangan pertama.
Tanpa mereka tahu jika Shanum ternyata sudah memiliki seorang suami.
"Sebenarnya aku ingin menjelaskan status putriku dari pertama kali kita bertemu, dan andai saja saat itu dia ikut dengan kami maka mungkin cerita rumit ini tak akan terjadi" Hardy memandang Rangga.
"Dia bukan asistenku, dia adalah Rangga menantuku, suami Shanum"
Jeduarrrrr...
Bagai sambaran petir yang menggelegar di telinga Daren dan Darmawan.
Keduanya menatap lekat ke arah Rangga yang masih dapat menguasai keadaan dengan tetap bersikap tenang.
"Apa maksudmu Har?" Darmawan tampak terkejut dan shock.
"Om apa maksudnya om?"tanya Daren panik.
"Sekali lagi aku minta maaf pada kalian, putriku sudah menikah dan hari ini resepsinya tepatnya sore nanti, sedangkan proses ijab, sudah di laksanakan lebih dari satu bulan yang lalu" terang Hardy.
Daren tampak lemas dengan tatapan mata kosong, tak ada lagi sinar yang menggebu seperti saat pertama mereka bertemu, dan senyum manis Daren pun lenyap, kini tinggal wajah yang lesu dengan tatapan nanar bagai hilang akal pikirannya.
Darmawan pun tak bisa menyalahkan sahabatnya itu, kini yang ia cemaskan adalah Daren yang tampak begitu shock.
Hardy pun akhirnya pamit undur diri lalu menyalami Darmawan dan putranya.
Begitupun Rangga, ia masih berbesar hati untuk menyalami pria yang sudah berani menaruh hati pada istrinya bahkan hendak melamarnya.
"Datanglah ke mansion malam ini, kami menunggu kalian" ucapan ramah dan jabatan tangan hangat dari Rangga di sambut dengan wajah lesu Daren.
__ADS_1
Andai aku lebih dulu bertemu dengan istrimu.