Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Cantik Banget


__ADS_3

Sepanjang perjalanan keduanya terlihat saling membisu, sesekali Rangga melirik ke arah Shanum dari kaca spion motornya, masih terlihat wajahnya merona.


C***** panas yang di lakukan tadi adalah c**** pertama Shanum yang terpanas menurutnya, karena sepanjang hubungannya dengan Devon, tak pernah melakukan hal yang membuatnya panas dingin seperti itu, hanya sebuah ciuman ringan di dahi dan sekedar pelukan, itupun sangat jarang di lakukan.


Shanum bukannya berjiwa kolot, tapi ia berprinsip bahwa jiwa dan raga seutuhnya hanya akan ia serahkan pada suaminya kelak.


"Sha, apa kau marah padaku?" tanya Rangga lirih.


Shanum hanya menggelengkan kepalanya, perasaan malu masih menyelimuti dadanya.


Masih teringat saat matanya terpejam menikmati kecupan manis dari bibir Rangga yang meny**** bibirnya dengan hangat, entah kenapa Shanum begitu terlena bagai terbang ke awan.


"Sha..?"panggil Rangga.


"Hmmm"


"Apa kau marah padaku karena telah menodai bibirmu?"


"Aaakkh"ekor mata Rangga melirik ke arah kaca spion, terlihat Shanum mengerucutkan bibirnya dengan kesal, andai saat ini ia berada di hadapannya sudah di pastikan bibir itu akan habis di l****nya.


"Kenapa kau mencubitku Sha"tanya Rangga dengan nada menggoda, begitu menggemaskan melihat wajah cantik yang berubah menjadi pink karena malu.


"Jangan lagi ungkit cerita tadi"sahut Shanum kesal.


"Aku hanya bertanya Sha, kenapa kau diam, apa kau marah karena aku telah me.."kalimat Rangga terpotong saat tangan mungil itu kembali mendaratkan cubitan kecil di pinggangnya, bukan sakit yang Rangga rasakan tapi rasa geli yang tak bisa ia tahan.


Tengkuknya kini meremang sempurna.


"Stop ampuun ampun, tolong hentikan Sha, aku sudah tak tahan lagi"ucap Rangga dengan tertawa keras.


"Jangan di teruskan lagi cerita tadi kataku"geram Shanum dengan tangan masih bersiap-siap melancarkan aksinya lagi.


Dengan cepat Rangga menarik tangan Shanum agar memeluk pinggangnya erat, Shanum pun tak dapat melepaskan tangannya dari genggaman Rangga yang begitu erat memegangnya dengan satu tangan.


Senyum Rangga mengembang saat Shanum akhirnya tak lagi berontak untuk melepaskan tangannya, kini punggungnya terasa lebih hangat dengan kedua benda empuk yang menempel di punggungnya.


Sungguh Rangga tak ingin perjalanan ini cepat berakhir, bahkan kalau bisa ia akan sanggup berkendara ke ujung nusantara asal berada dalam pelukan hangat Shanum.

__ADS_1


Namun keinginannya hanya tinggal angan, karena tujuan kini sudah berada di depan mata, terpaksa Rangga menghentikan laju motornya.


Rangga melepaskan pengait Helm yang Shanum kenakan, sepersekian detik kedua netra mereka saling bertemu, Shanum mengalihkan pandangannya berharap detak jantungnya tak terdengar oleh calon suaminya itu, entah kenapa tatapan tajam Rangga begitu mengganggunya, membuat debaran jantung bergerak tak beraturan.


Keduanya melangkah ke arah bangunan gedung yang tak begitu luas namun terlihat sangat lengkap berisi bermacam-macam gaun dan baju-baju dengan model yang cantik.


Anggukan hormat dari para karyawan butik menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang nona Shanum dan tuan Rangga, miss Mery sudah menunggu kedatangan kalian di ruangannya"ucap seorang karyawan, lalu Rangga dan Shanum mengikutinya.


"Ehmm, selamat malam miss" sapa Shanum pada wanita cantik yang tengah fokus dengan pengerjaannya memasang manik-manik di sebuah gaun pengantin yang terpasang di manekin.


"Ehhm selamat malam cyiint, aduh-aduh sayy ...kenapose baru dateng sekarang?"


Tanyanya dengan bahasa gaul dengan bibir tipis melentik, jika di lihat sekilas, mery adalah sosok wanita cantik berbody aduhai dengan bibir sensual dan bulu mata panjang anti badai menghias matanya, pewarna bibir merah merona menambah kesan yang lebih dominan, tampak terlihat sebagai seorang wanita yang mendekati sempurna, namun jika di lihat dengan lebih seksama tubuh indah itu terlihat sedikit berbeda dengan bentuk bahu yang bidang dan tonjolan alami di lehernya.


Rangga hanya melirik sekilas pada Mery yang tengah menjelaskan detil gaun yang akan di kenakan saat akad nikahannya esok.


"Gaun ini sudah sembilan puluh sembilan persen siap pakai cyint, ayo kita coba dulu yaa biar yeiii lebih yakin dan kalao ada yang kurang cucok eike bisa langsung revisi".


Mery dengan langkah lemah gemulai menuju ke ruang ganti di ikuti Shanum yang mengikutinya dengan wajah bingung.


"Maaf.."ucapnya gugup saat Mery menatapnya tajam.


"Hmm oke eike keluar, kalau you udah selesai panggil eike okay "ujar Mery lalu keluar dari ruangan menuju Rangga yang tengah duduk santai melihat ponselnya.


" Duh duh duh... beruntung banget dia dapetin elu say, untung kalian temen dokter Vina, kalau bukan mah, beuhhh, udah eike bawa kabur yei, dan eike kurung yei di kamar gue"


Kalimat Mery sontak membuat Rangga diam membeku dan menahan mulutnya agar tetap terkontrol dengan baik, bukan hal baru lagi, jika ada sesuatu yang membuat mahluk antik itu merasa tersinggung sudah di pastikan, meski workout yang rutin ia lakukan, tak akan menjamin bisa mengalahkan miss miss an di hadapannya itu.


Pandangan Mery kini menyisir tubuh Rangga dengan senyum menggoda.


Glekk


"Tuhan, lindungilah hamba dari sentuhan mahluk ciptaanmu yang satu ini"batin Rangga lirih.


"Yei juga harus coba baju yei dulu"ujar Mery.

__ADS_1


"Susan sayaang, tolong kau ambilkan jas untuk pangeran tampan ini"Mery memerintahkan salah satu karyawan untuk mengambil jas Rangga.


Beberapa saat kemudian Susi pun kembali dengan sebuah jas hitam berbungkus plastik dengan rapih.


"You coba lah?"perintah Mery santai.


Glek.


Rangga menelan salivanya yang kini terasa begitu pahit.


Aje gila ni pere, nyuruh gue buka baju di hadapannya, di upahin jutaan juga ogah eike lakuin, gumam Rangga geram.


Sialan, napa jadi gue ngikut cara bicaranya,geram Rangga lagi.


ceklek.


Shanum melangkah dari ruang fitting.


"Aduh cyiiint, perfecto....yei sungguh jelita memakai gaun ini, sungguh cucok sama tubuh yei cyiint"Meri berucap girang melihat hasil karyanya terlihat sempurna di tubuh sang calon pengantin.


Senyum manis Shanum mengembang, sementara Rangga terlihat diam dengan mata menatap tajam ke arah Shanum, sorot mata penuh kekaguman terpancar dari netra hitamnya.


Bidadari kah yang akan ku nikahi ini, gumamnya lirih gengan tatapan penuh haru.


"Hei, kenapose malah you yang jadi patung gini"Mery menepuk bahu Rangga.


"Yei memang tak salah pilih lawan"bisiknya lagi.


"Hah,lawan"tanya Rangga dengan mengerutkan alisnya.


"Lawan, maksud eike, lawan di r******"ucap Mery dengan nada santai minta di tonjok.


Sialan nih pere, bisa aja.


"Cantik Sha"ujar Rangga dengan suara terbata.


"Cantik apa cantik bangeeet"goda mery di iringi senyum usil.

__ADS_1


"Ehm, cantik bangeeet"Rangga menjawab dengan gemas lalu melangkah menuju Shanum bermaksud memeluk sang pujaan hati yang kini telah berubah bagai bidadari yang turun dari kahyangan untuk menjadi istrinya.


"Hei, stop stop, jangan maen asal peluk aja donk, kusut ntar gaun eikee"


__ADS_2