Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Ekspektasi tak Sesuai Realita


__ADS_3

David masih terdiam menikmati pemandangan indah di depan matanya.


Senyum manis dan tawa ceria sang CEO yang tak pernah ia lihat saat di perusahaan.


Rupanya keberuntungannya kali ini sedang berpihak pada David.


Bagai sedang melihat sang bidadari yang sedang bercengkerama, bahkan panggilan dari bibi tak dapat mengalihkan duniannya.


"Mas, mas David.." suara bibi yang terdengar nyaring membuat David sadar dari duniannya.


"Eh ehm, a ada apa bi?"


David menjawab dengan gugup, wajahnya pun memerah.


"Mas David di panggil den Rangga ke ruang makan" jawab bibi.


"Ehm baik bi."


David mengikuti langkah sang bibi, sudut matanya tak lagi melihat sang CEO di taman, mungkin sudah masuk ke dalam mansion, batinnya.


Rasa kikuk tiba-tiba menyergap hatinya, apalagi saat di lihatnya nona CEO Shanum, ternyata sudah berada di ruang makan duduk dengan senyum manis di samping suaminya.


"Ayo Vid kita makan dulu" ajak Rangga ramah karena di lihatnya sang asisten yang berwajah tegang.


David mengangguk hormat, dadanya semakin berdebar, nona CEO menatapnya dengan intens, membuatnya jantungnya berdebar keras.


"Jangan sungkan Vid, jika di perusahaan pangkat kita memang berbeda tapi jika di luar, kita semua sama ."


Kalimat yang Keluar dari mulut Shanum terasa hangat di hatinya.


Sungguh seorang bidadari yang tak hanya berparas cantik, hatinya pun bagai malaikat, David berucap penuh kagum dalam hati.


Hana pun tersenyum ramah pada pemuda asisten Rangga tersebut.


"Ayo nak David, jangan sungkan ibu masak banyak, sayang kalau tidak ada yang makan" ucap Hana ramah.


Dengan telaten wanita paruh baya itu menyiukan nasi ke piring Rangga dan mengambil lauk kesukaannya.


Begitupun saat piring Shanum yang sudah di isi lengkap dengan nasi dan lauk.


Giliran piring David yang Hana racik, tatapan wanita itu mengarah ke David.


"Kau mau lauk apa nak?" tanyannya lembut pada pemuda yang sebaya dengan putra bungsunya itu.


"Ehm ini, dan itu saja bu."


Hana tersenyum lalu mengambil lauk dan sayur yang di tunjuk David.


Davidpun menerima piringnya dengan penuh rasa haru, tak pernah ia rasakan nikmatnya makan bersama di meja makan dengan kedua orang tuanya yang selalu subuk dengan urusan kantor.

__ADS_1


"Bu.." semua mata menoleh ke arah Shanum saat ia memanggil sang mertua dengan wajah memelas.


"Ada apa Sha,?" jawab Hana lembut.


"Kenapa kau tidak menaruh sambal itu" tunjuk Shanum pada sambal ati kesukannya.


"Ehmm kau tidak boleh makan terlalu pedas sayang, kasihan janin dalam perutmu akan merasa ikut panas karena pedas" terang Hana yang merasa bersalah karena lupa sambal ati buatannya begitu pedas hingga sang menantu terpaksa tak di perbolehkan ikut memakannya.


"Tapi aku mau buk" rengek Shanum, sungguh air liurnya seakan menetes melihat menu kesukaannya ada di atas meja, apalagi ibu mertua yang membuatnya pastilah rasanya sangat enak.


"Baiklah besok ibu buatkan lagi khusus untukmu" jawab Hana tak tega.


Shanum mengerucutkan bibirnya sesaat dengan ekspresi kesal.


David tercekat, jantungnya seakan berhenti.


Kenapa istri orang sungguh menggemaskan.


"Tapi janji ya bu, besok buatin lagi khusus untuku."


Hana mengangguk pasti, sedangkan Rangga tersenyum.


David hanya dapat mengunyah makanan dengan perlahan.


Suasana makan bersama yang berlangsung hangat penuh canda tawa akhirnya berakhir.


David tersenyum puas, menikmati masakan lezat dengan kehangatan tuan rumah yang menyambutnya begitu ramah, membuatnya merasa sangat bersyukur dapat menikmati hangatnya sebuah keluarga.


Sungguh Shanum di perlakukan bak seorang ratu di mansion itu.


David bahkan merasa iri dengan Rangga, sikap tegas dan keras saat di kantor sungguh berbanding terbalik saat di rumah.


Ia begitu melayani sang istri dengan penuh kasih dan perhatian.


Tak merasa sungkan saat di depan asistennya sendiri, Rangga mengupas jeruk dan memberikan pada Shanum.


Sungguh perhatian kecil yang bagi David begitu romantis.


Rangga mengajak David untuk duduk santai di taman mansion.


"Kau tidak terburu-buru pulang kan Vid?" tanya Rangga.


David menggeleng "Tidak pak, saya di rumah sendiri."


"Baguslah, nanti kau pulang bawa lah mobilku, besok aku berangkat dengan sopir, sekalian mengantar ibu dan Shanum belanja"


David mengangguk setuju.


Waktu tak terasa begitu cepat berjalan, pukul sembilan lebih tiga puluh menit akhirnya David pamit.

__ADS_1


Rangga melepas David hingga pelataran mansion karena sang istri sudah lebih dulu ke kamarnya.


Suasana kamar sudah hening dengan suara dengkuran halus dari mulut Shanum yang sedikit terbuka.


Di langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan gigi dan kaki nya lalu berganti dengan baju tidur.


Wajah Shanum yang menyembul dari balik selimut, menggelitik ke usilan Rangga.


Di ambilnya ponsel di atas nakas dan beberapa kali jepretan wajah Shanum yang tengah terlelap pun mengiasi wallpapernya.


Senyum gemas Rangga terbit, di pandanginya wajah polos sang istri, dengan lembut di urainya anak rambut yang tersulur di dahinya.


Cupp.


Rangga mengecup puncak kepala sang istri dengan lembut lalu iapun bergabung masuk ke dalam selimut tebal yang menutupi tubuh Shanum.


"Eihh" Rangga berjingkat dengan mata membulat sempurna.


Tangannya yang tersulur ke pinggang Shanum dengan maksud memeluknya namun sentuhan benda kenyal nan lembut tanpa penutup itu membuatnya terlonjak kaget sekaligus tak percaya.


Tak biasanya sang istri tidur tanpa mengenakan kain penutup dada.


Perlahan tangannya membuka kain selimut yang menutupi Shanum.


Rangga menggeleng tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Terlihat jelas tonjolan kecil puncak dua gunung Shanum.


Seakan mendapat durian runtuh di depan matanya, Rangga kembali memeluk Shanum dari belakang.


Tak ingin menganggu tidurnya, Rangga hanya mengusapnya perlahan.


Namun ekspektasi tak sesuai realita, entah sejak kapan senjata pamungkasnya kini berdiri mengeras.


Rangga merutuki kebodohannya sendiri, yang di sentuh kulit Shanum tapi yang berdiri justru bagian inti tubuhnya sendiri, batinnya.


Sementara Shanum tetap tak bergeming dari tidurnya bahkan setelah Rangga yang kini terpaksa menahan salivanya karena tangannya tak sadar telah membuka seluruh kancing batu tidur Shanum hingga tereksposlah dua gundukan lembut kesukaannya.


Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Membangunkan Shanum untuk menuntaskan hasrat rasanya tak tega, dan menidurkan miliknya yang sudah terlanjur bangun pun bukan hal yang mudah.


Rangga terpaksa melangkah keluar kamar, dan mengguyur tubuhnya dengan air shower yang terasa begitu dingin.


Mandi malam sungguh sangat menyiksa tubuhnya.


Setelah senjata pamungkas yang berhasil di tanganinya, Rangga pun kembali tidur dengan tangan yang ia tahan agar tak lagi meng eksplor tubuh Shanum hingga membuat bagian inti tubuhnya yang lain bergerak tak terkendali.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦

__ADS_1


Jangan lupa tinggalin jejak yaa😘😘


Like, koment, dan voteπŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2