Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Wajah Lembut Yang Kurindukan


__ADS_3

Devon melajuakan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan penuh .


Bayangan wajah Vina dengan mata berkaca-kaca tampak begitu mengiris hatinya .


Luka lama yang ia toreh dua tahun lalu mungkin belum terlupakan oleh gadis itu,karena kesalah pahaman Devon memutuskan tali kasih secara sepihak ,kini dengan tanpa perasaan Devon bahkan memintanya untuk memeriksa kondisi kesehatan Shanum yang telah menjadi tunangannya dan merupakan orang yang berperan besar dalam perpisahan mereka .


Di sebuah bar kecil Devon menghentikan mobilnya ,kekalutan hatinya membuat pikirannya kini begitu kacau,perasaan bersalah yang kini bergelayut di hati begitu mengganggunya ,dua gelas vodka telah habis di teguknya ,kepalanya mulai terasa berat ,meski bar itu terlihat kecil ,namun berbagai jenis minuman lengkap tersedia di dalamnya hingga membuat pengunjung selalu ramai .


Gerakan tangannya memanggil pelayan untuk kembali menuangkannya minuman memabukan itu ,Devon tak lagi dapat berfikir jernih sesal yang begitu besar terhadap mantan kekasihnya membuatnya kini tak sadar entah berapa gelas sudah ia habiskan .


Pandangannya kini mulai berputar dan kepalanya bagai di hantam batu besar .


Dengan langkah sempoyongan Devon berusaha menyingkirkan tangan para pelayan yang ingin membantunya berjalan .


"Tuan sebaiknya tuan tunggu di sini ,kami telah menghubungi teman tuan "seorang memberitahunya meski tak tahu apakah telinga Devon masih dapat menangkap suaranya dengan benar karena kini ucapannya meracau tak jelas .


Tubuhnya yang terus melangkah dengan gontai kini tak sanggup lagi meneruskan langkahnya dan akhirnya tubuh kekar itupun tumbang tergeletak di atas lantai .


Vina keluar dari mobilnya di parkiran sebuah bar mini ,langkahnya cepat menuju ke dalan ruangan ,hatinya bergemuruh tak karuan saat satu panggilan dari nomor kontak Devon yang memberitahukannya bahwa sang pemilik ponsel tengah mabuk dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Terima kasih ,untuk pembayaran sopir saya akan mengurusnya "ucap Vina tampak panik dan mencoba memapah tubuh Devon yang tampak lunglai.


Akhirnya Devon pun terbaring di kursi mobil Vina dengan bantuan dari beberapa pelayan yang membantunya memapah tubuh kekar itu ke dalam mobil miliknya .


Vina menghela nafas panjang,tak tega rasanya melihat lelaki yang masih sangat di cintainya kini terkapar tak berdaya ,usapan tangannya di rambut pria tampan yang tengah tertidur pulas itu tak juga dapat membangunkan tidurnya .


"Jangan ,jangan tinggalkan aku ...jangan "teriakan Devon dengan mata masih terpejam ,rupanya alam bawah sadar membuatnya secara tak sadar meracau berteriak .


"Dev,bangun Dev ...."Vina mengguncangkan tubuh Devon yang masih terbaring di atas sofa sudut di apartemennya ,terpaksa ia membawa Devon ke apartemennya karena ia merasa tak tega meninggalkan Devon terbaring sendiri di apartemennya .


Devon membuka matanya perlahan ,tatapannya bertemu dengan senyum manis yang pernah begitu ia rindukan .


"Vin...,benarkah ini kamu Vin "tangan Devon kini membelai wajah putih berkulit halus itu ,seakan ingin membuktikan bahwa apa yang di lihatnya adalah nyata .


"Minumlah jus buah ini ,dapat membantu mengurangi kadar alkohol di tubuhmu "Vina menyodorkan segelas jus buah yang baru ia buat .


Devon meraih gelas berisi cairan berwarna merah muda dari tangan Vina ,perlakuan hangat dan tulus masih tetap menggetarkan hati Devon .


Kelembutan Vina tidak berubah ,meski ia telah melukai hatinya berulang kali namun gadis itu tetap saja memperlakukannya dengan tulus .

__ADS_1


Aroma wangi masakan tercium saat Devon melewati dapur minimalis di apartemen Vina ,rupanya ia tengah memasak sesuatu ,langkah Devon perlahan mendekati gadis itu yang tengah fokus dengan aktifitasnya mengupas beberapa buah untuk cuci mulut .


Devon kini terlihat lebih segar setelah membersihkan wajahnya ,dan pusing di kepala pun sudah berkurang .


Vina menyiapkan beberapa menu masakan yang ia kuasai ,meski ia seorang dokter yang sibuk dengan aktifitasnya namun ia selalu menyempatkan diri untuk memasak untuk di makannya sendiri ,karena ia tak terbiasa makan dari masakan orang lain dan makanan yang di buatnya terasa lebih sehat dan higienis.


Dan hari ini jadwal prakteknya adalah sore hari ,jadi waktu pagi ia gunakan untuk memasak .


Devon begitu menikmqti masakan Vina,terasa pas di lidahnya ,bahkan ia tak sungkan menambah porsi nasi di piringnya .


Tentu saja hal itu membuat Vina tersenyum senang ,tak sia-sia selama ini ia belajar berbagai resep dari berbagai media.


"Duduklah ,biar aku yang akan membersihkan peralatan makan ini ,kau masih terlihat pucat "ujar Vina saat Devon hendak ikut membantunya mencuci piring .


Udara pagi terasa segar Devon rasakan dari atas balkon apartemen yang tak begitu luas itu ,terasa tenang dan damai .


Langkah kaki dari arah belakang mendekatinya menuju ke arah balkon .


"Apa kepalamu masih terasa pusing Dev" tanya Vina .

__ADS_1


"Tidak, hanya tinggal sedikit saja"Devon memandang manik mata Vina ,wajah cantik penuh keibuan yang begitu meneduhkan bagi mata yang memandang .


Vina tampak gugup dengan wajah merona,tak dapat di pungkiri ,hatinya masih berdebar kencang jika pria itu memandangnya tajam .


__ADS_2