Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tunas Tauge


__ADS_3

Linda memandang pria di hadapannya dengan kesal.


Berkali-kali David memproklamirkan bayi yang ada dalam perutnya adalah calon anaknya.


"Kalau tak ada aku maka tak akan ada anakmu" ucap Linda ketus.


David terdiam, "Iya kau benar, anak kita" ucapnya.


Keduanya menghabiskan makan kurang lebih satu jam lamanya.


David sudah menghubungi sahabatnya yang kebetulan seorang dokter di sebuah rumah sakit dan memintanya untuk memeriksa kandungan Linda.


"Kita langsung ke rumah sakit saja karena temanku sudah menjadwalkan pertemuan dengan dokter Obgyn siang ini" terang David.


Linda mengangguk.


"Pak David, apa rumah sakitnya jauh?" tanya Linda setelah berada di dalam mobil.


David menepikan mobilnya ke sisi jalan dengan perlahan, matanya menatap netra Linda tajam.


"Mulai sekarang ubah panggilanmu itu?" ucap David, meski mereka berdua tak memiliki hubungan tapi dengan adanya calon bayi yang ada dalam perut Linda yang merupakan hasil kegiatan panas mereka, tentunya mereka harus memiliki panggilan khusus, pikir David.


"Lalu harus panggil apa?" tanya Linda bingung.


"Sayang?" David memandang Linda meminta jawaban, melihat atasannya saling memanggil dengan sebutan 'Sayang' dengan istrinya, rasanya ai pun ingin merasakan panggilan seperti itu.


Linda menggeleng pasti.


"Cinta?" lanjut David.


Linda kembali menggeleng, mereka berdua sama sekali belum saling mengenal dekat satu sama lain apalagi 'cinta'.


Selama ini Linda sering bergonta-ganti pacar, namun ia akui bahwa di hatinya sama sekali tak ada rasa cinta pada para mantannya.


"Lalu panggil apa?" tanya David gemas.


"Entahlah, aku juga bingung, nanti saja kita pikirkan sambil jalan" ujar Linda.


"Oke, siap bos."


Mereka pun kembali diam, David melirik ke arah Linda sesekali, tangan kirinya ia tautkan dengan jemari wanita di sebelahnya.


Mulai sekarang ia ingin hubungan mereka lebih dekat lagi, walau bagaimana pun Linda adalah wanita yang akan melahirkan penerusnya kelak.


Linda hanya diam saat jemari David meremat tangannya.


Di sebuah rumah sakit yang tak terlalu besar David menghentikan mobilnya.


"Mana temanmu?" tanya Linda yang masih ragu keluar dari mobil.


"Dia sudah menunggu di dalam."


Linda berjalan dengan langkah cepat, rasanya susah menyesuaikan langkah David yang panjang.


"Mba, maaf bisa ketemu dengan Dokter Salim?" tanya David pada bagian resepsionist.


"Oh dengan pak David, silahkan langsung masuk ke ruang no.7 pak, Dokter Salim sudah menunggu anda."


"Baik mba, terima kasih."


Keduanya pun memasuki ke lorong rumah sakit di mana terdapat beberapa pintu.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Ya masuk."


Ceklek.


Jantung Linda berdebar kencang, saat kakinya memasuki ruangan yang selama ini ia hindari.


David semakin erat menggenggam tangan wanitanya.


Seorang pria berkaca mata dengan seragam dokter sedang duduk dengan menulis sebuah buku di meja nya.


"Selamat siang ." sapa David lirih.


Dokter berkaca mata yang tak lain adalah Dokter Salim, sahabat lamanya.


"Waahh, David bagaimana kabarmu bro, berapa lama kita tak bertemu" sapa Dokter Salim lalu memeluknya erat.


Kedua sahabat yang sudah beberapa tahun tak bersua itu saling berpelukan erat melepas rindu.


"Semakin hebat saja kau Vid, gila tambah ganteng kau rupanya."


"Ah biasa aja bro, kau yang semakin sukses."


"Oiya kenalin istriku, Linda."


"Oh hai Linda apa kabar?" sapa Dokter Salim hangat sambil menyalami Linda.


"Ah b baik Dokter" jawab Linda terbata, panggilan 'istri' dari David membuatnya begitu gugup.


"Oiya, selamat buat kalian, kau juga Vid, kawin nggak ngundang-ngundang."


"Lha ngapain gue kawin ngundang elu, ntar malah ngiler lu."


"Ha ha ha."


David tertawa menutupi kegugupannya, jangankan pesta pernikahan, ijab sama pak penghulu juga belum, batinnya.


"Kita memang belum ngerayain pesta, masih sama-sama sibuk, mungkin kalau jadwal sudah senggang akan kami rayakan."


"Oke, jangan lupa, undang gue."


David mengangguk pasti.


"Mana Dokter Tiwi?"


"Bentar lagi dia datang, dia di ruang enam, kalian tunggu saja di depan ruangannya, nama bini lu udah gue daftarin pertama."


"Ok sipp, gue tinggal dulu bro, thank's."


Keduanya saling mengadukan kepalan tangan, lalu David dan Linda pun ke luar ruangan untuk mengantri di dokter Obgyn.


Kebetulan Dokter bagian Obgyn sudah mulai membuka antrian, dan nama Linda mendapat urutan panggilan pertama.


Debaran jantung Linda semakin kencang, saat memasuki ruang Obgyn.


"Selamat siang, dengan bu Linda?" sapa dokter wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan energik.


Linda mengangguk dengan senyum tipis.


Dengan perlahan Linda membaringkan tubuhnya di ranjang pasien.

__ADS_1


Dokter Tiwi yang mengetahui pasiennya sedang dalam ketegangan, tersenyum tipis.


"Bu Linda rilex ya, maaf akan saya periksa dulu" ucapnya lembut.


Dokter Tiwi tersenyum dan melepas stetoskop dari telinganya.


Linda pun kembali duduk di dampingi David.


"Selamat bu Linda, kandungan ibu sudah berjalan enam minggu, dan kondisinya bagus."


David dan Linda saling pandang.


"Lalu apa jenis kelaminnya Dok?" tanya David antusias, Linda menyikut lengannya.


"Kenapa" tanyanya bingung.


"Untuk saat ini janin belum bisa di ketahui, jadi jika bapak dan ibu ingin mengetahuinya bisa kembali datang setelah usia kehamilan ibu sudah 18 minggu atau usia kehamilan sudah mencapai empat bulan."


"Jadi kapan itu Dok?" tanya David polos.


"Bapak dan Ibu bisa mengeceknya minimal sepuluh minggu lagi dari sekarang."


David menggaruk kepalanya yang tak gatal, biasanya ia menghitung dalam ukuran bulan atau tahun, tapi jika menghitung dengan hitungan minggu, ia pun belum paham.


"Untuk lebih jelasnya akan saya beri buku jadwal kunjungan pemeriksaan kehamilam ibu."


Linda mengangguk ringan.


Selama dalam perjalanan David selalu tersenyum riang, hasil foto USG pun ia pandang berkali-kali, meski gambar yang tak di mengertinya namun membuat hatinya menghangat jika memandang.


Di parkiran apartemen David menghentikan mobil, mereka berjalan menuju apartemen Linda dengan kedua tangan bergandeng erat.


Ceklek.


Linda mendudukan tubuhnya di sofa, lalu memijat betisnya yang terasa pegal.


David melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air minum.


"Minumlah" titahnya pada Linda.


Dengan lembut ia raih kedua kaki Linda dan menaruhnya di atas pangkuannya.


Linda tertegun dengan apa yang pria itu lakukan, usapan lembut tangan kekar David di betisnya sungguh membuat nyaman.


"Mulai sekarang kau harus ucapkan selamat tinggal pada semua high heels milikmu, bergantilah dengan sepatu datar, agar betismu tak sakit."


Linda mengangguk ringan.


"Tapi bolehkah aku memakainya sesekali?" ucap Linda lirih, hatinya masih belum rela berpisah dengan high heels mahalnya.


"Boleh tentu saja boleh" ujar David.


Linda tersenyum girang.


"Tapi tunggu delapan bulan lagi" sambung David tegas.


Linda pun mencibir kesal.


David menatap bibir merah yang seakan melambai ke arahnya dan meminta untuk ia cicipi.


Cup.

__ADS_1


Mata Linda membola saat David dengan berani mengecup bibirnya.


__ADS_2