
Shanum hanya pasrah saat Rangga masih menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi seakan ingin melepaskan seluruh kekesalan padanya karena telah membuat perhatian Kakak Linda selalu tertuju ke arahnya.
Drrtt drrtt.
Terdengar dering ponsel Shanum, dan Rangga melirik sekilas ada nama Linda yang sedang memanggil.
"Sayang sshhh, hentikan dulu sebentar" ucap Shanum di iringi desisan lirih saat bibir Rangga mengecup leher jenjangnya.
"Biarkan saja, toh masalah mereka sudah ter atasi" jawab Rangga tak rela menyudahi keasikannya.
"T tapi nggak enak aku sama bu Linda, kami sudah berjanji akan membicarakan apa saja yang di perlukan saat acara pernikahan nanti."
Rangga pun meraih ponsel Shanum dengan sedikit hentakan.
"Ya halo" sapa Rangga datar.
"Ah m maaf Pak Rangga, bisa bicara dengan bu Shanum?" Linda tampak gugup karena yang menjawab panggilannya bukan Shanum melainkan Rangga.
"Maaf Bu, dia sudah tidur, apa ada pesan yang ingin di sampaikan?"
"Ah tidak Pak, biarlah besok saja saya menelepon Bu Shanum kembali."
Shanum hanya bisa mengusap dada saat suaminya segera menutup panggilan Linda.
Gawai itu pun di matikan dan di taruh di atas nakas oleh Rangga untuk memastikan kegiatannya tak akan lagi terganggu.
"Sudah malam ganggu orang saja" ucapnya kesal.
Shanum memandang jam di dinding, dan baru pukul sembilan lebih tiga puluh menit, mana mungkin di bilang sudah malam, batinnya.
Kembali Rangga berjalan ke arah Ranjang, di dadanya masih mengganjal rasa kesal, ia hanya ingin menghabiskan malam ini dengan memiliki Shanum seutuhnya.
Di tatapnya netra bening Shanum, perlahan bibir mungilnya pun kini sudah tenggelam dalam pagutan Rangga, sesapan lembut yang semakin lama semakin menuntut, dan ******* halus pun lolos dari mulut Shanum.
Tubuh polosnya kini ia biarkan menjadi pelampiasan kekesalan suaminya, tangan dan bibir Rangga yang kini sudah semakin terampil bermain ditubuhnya Shanum di buat terbang melayang.
Dan malam panjang pun di mulai, keduanya saling beradu ******* lirih dan panas, juga lenguhan Shanum saat Rangga semakin menghentakan tubuh untuk pelepasannya.
Ruang kamar yang dingin karena AC, namun kedua tubuh polos itu sudah bermandi keringat.
Rangga mengecup puncak kepala Sang istri yang terkulai lemas di atas dadanya.
Seringai lebar penuh kemenangan, di dekapnya sang istri dengan erat.
Kau adalah miliku, tak akan ada yang bisa mengambilmu dari sisiku, batinnya.
Sementara itu, Lefrant tampak jengah, adiknya mondar-mandir di ruang makan dengan wajah kesal setelah mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Bukankah seharusnya kau bahagia karena aku sudah merestui hubunganmu dengan pria itu" ucap Lefrant.
"Ish namanya David Kak, dan dia itu calon adik iparmu, dan satu lagi, aku sedang kesal bukan sama dia."
"Lalu?"
"Aku mau curhat sama bu Shanum tapi.." Linda menggantung kalimatnya saat raut wajah sang Kakak berubah penasaran.
"Lalu apa?" Lefrant sama sekali tak pintar menyembunyikan perasaannya, entah kenapa mendengar nama Shanum hatinya tiba-tiba berdebar.
Kak, tolong sadarlah, dia adalah istri orang, batin Linda dengan tatapan haru pada sang Kakak.
"Yang angkat Pak Rangga, dan bilang kalau bu Shanum sudah tidur, katanya sudah malam, lihatlah Kak, sekarang baru jam sembilan lebih dan dia bilang bahwa sekarang sudah malam, dasar lelaki, bilang saja mau enak enak nggak boleh ganggu."
Linda bersungut kesal dan melangkah ke kamarnya.
" Uhukk uhukk."
Tenggorokan Lefrant seakan terasa tersumbat, dan ada rasa nyeri di dadanya.
Tuhan perasaan macam apa ini, bahkan aku merasa sakit saat mendengar dia bermesraan dengan suaminya, gumam Lefrant dalam hati.
Pria tegas itu hanya bisa memandang kepergian sang adik ke kamarnya.
Puk puk.
Jangankan membayangkan dirinya bisa memiliki wanita itu, mengetahui calon adik iparnya sudah di anggap anak oleh Hardy pun membuat Lefrant berfikir ulang untuk menolak lamaran mereka.
Bukan tak mungkin jika Hardy akan menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan Testafood.
Jika di lihat dari data informasi tentang David yang di peroleh oleh anak buahnya, Lefrant tahu bahwa David adalah seorang pria yang baik dan bertanggung jawab, tak ada catatan cela yang di dapat anak buahnya.
Dan bagaimana sikap kedua orang tua David, biarlah nanti sang adik yang akan menanganinya, pikir Lefrant.
Di tatapnya layar ponsel dengan tajam, nama Daren muncul di layar dan ia pun memencet tombol hijau.
Rupanya sahabat karibnya sudah membaca pesan darinya.
"Ada apa Lef? tumben lu hubungi gue, gue kira lu udah pindah ke kutub, nggak ada kabar berita sama sekali" sapa suara di ujung telepon.
Lefrant tersenyum masam.
"Minggu depan lu datang ke mansion, adik gue mau nikah."
"Hah what, Linda mau nikah?waahh kabar berita yang sangat bagus, tapi entahlah apa bisa gue hadir nanti, karena jadwalku sangat sibuk."
"Gue harap lu bisa hadir, karena mungkin lu bisa bertemu dengan wanita yang bisa membuatmu jatuh cinta begitu dalam."
__ADS_1
Kalimat Lefrant sontak membuat Daren kembali terkenang dengan bayangan wajah cantik Shanum, lalu apa hubungan antara adik sahabatnya itu dengan putri pemilik Wijaya Corp tersebut, Daren membatin.
"Baiklah gue akan usahakan hadir."
Lefrant menutup panggilan, helaan nafas panjang keluar dari hidung mancungnya, sebenrat lagi ia akan memiliki adik ipar.
Memang dia akui, tak ada alasan baginya untuk menolak David menjadi calon suami Linda, dia lelaki yang bertanggung jawab dan ia rasa pria itu pun menyayangi Linda.
Lefrant pun melangkah ke kamarnya setelah rasa kantuk mulai menyerang.
Jika Lefrant baru saja merasa kantuk, beda dengan Rangga yang kini tersenyum puas telah berhasil membuat sang istri tak berdaya.
Setelah membersihkan diri Rangga dan Shanum pun kembali meneruskan tidur setelah pertarungan panas yang begitu menguras tenaga mereka.
"Sayang, apa kau lapar?" bisik Rangga, makan malam tadi ia hanya menghabiskan setengah piring dan kini tenaganya telah terkuras dan perutnya pun ingin di isi kembali.
Shanum membuka matanya, dan mengangguk pelan.
"Tunggu sebentar, aku akan ke dapur dan membuat makanan untuk kita" sambung Rangga.
Shanum pun kembali mengangguk, Rangga mengacak rambut sang istri gemas, lalu melangkah ke luar kamar.
Suasana mansion tampak hening karena sebagian penghuni mansion sudah tertidur.
Rangga membuka kulkas dan senyumnya terbit saat bahan-bahan yang ia cari lengkap ada di kulkas.
Dengan ketrampilannya Rangga mengiris semua bahan, tanpa membutuhkan waktu lama, ruang dapur mansion sudah tercium aroma harum nasi goreng spesial buatannya.
Senyumnya terbit saat ia mencicipi rasa nasi goreng buatannya.
"Enak nggak?"
"Whuaaahhh."
Prangg.
Rangga mengusap dadanya yang bergerak naik turun karena rasa terkejut yang amat sangat.
Keasikannya membuat nasi goreng membuatnya tak menyadari kedatangan Shanum.
"Ya Tuhan, sayang apakah kau ingin melihat suamimu ini terkena serangan jantung heum?" tanya Rangga masih dengan nafas panjang pendek.
"Maaf sayang, tentu tidak, kau yang terlalu asik hingga tak mendengar langkahku" Shanum membela diri.
"Mana nasi gorengnya?"
Rangga menunjuk dengan mengedikan dagunya.
__ADS_1