
Jangan lupa tombol like, koment dan vote nya, happy readingπππ
π¦π¦π¦π¦π¦
Monik menatap Rangga dengan tajam.
Ada rasa sesak di hatinya kala pria yang begitu di harapkannya kini telah memiliki hati yang di jaga.
"Benarkah?"Monik tak ingin mempercayai hal itu, namun kejujuran di mata Rangga membuat hatinya bagai tertoreh sembilu.
Pria yang begitu di harapkan kini telah menjadi milik orang lain.
"Kenapa, kenapa tak kau katakan Ngga"kedua mata Monik kini berkabut.
"Maaf Nik, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan yang sebenarnya tapi aku tak bisa melakukan karena ini menyangkut keselamatan nyawanya"ucap Rangga lirih.
Meski tak ada rasa apa pun untuk gadis itu, Rangga tetap merasa bersalah karena telah menyembunyikan kenyataan hingga membuat gadis itu selalu berharap padanya.
"Jadi berita yang selama ini terdengar adalah benar?".
Rangga mengangguk lirih.
Air mata deras mengalir saat Monik memejamkan matanya.
Rangga meraih tisu di atas meja dan menyerahkannya pada gadis yang telah ia lukai hatinya.
"Ayo kita ke kantor Nik, jam istitahat telah usai".
Monik menggeleng perlahan.
"Biarkan aku di sini dulu, aku ingin sendiri".
Rangga menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi.
"Kau jahat Ngga hiks"isak tangis Monik kini terdengar pilu.
Setelah menghabiskan waktu istirahat, Rangga lebih banyak berada di ruangan, membaca buku karena ada beberapa materi yang belum ia pahami.
Hardy memberinya berbagai buku panduan menjadi seorang pebisnis bagi pemula dan buku-buku bisnis lainnya.
Sebenarnya enggan Rangga melihat buku-buku tebal yang harus di bacanya, namun ia tak mau jika ia menduduki jabatan tinggi namun berotak pas-pas an.
Penat rasa tubuh dan isi kepalanya, beberapa jam berkutat dengan buku tebal dengan tulisan kecil yang sama sekali jauh dari jangkauan otaknya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Rangga menatap pintu ruangan yang terbuka.
Senyum masam Kevin muncul dari balik pintu.
"Pulang bareng bro?"tanya Kevin.
Rangga diam tak menjawab ajakan Kevin.
"Tenang tadi nona eh ..Nyonya CEO berangkat bersama asisten Harun"ujar Kevin menyadari kebimbangan Rangga.
Memang sebagian besar orang menganggap menjadi seorang CEO tentu akan hidup enak tanpa harus mengeluarkan tenaga, duduk di ruangan bersih dan ber AC dengan gajih selangit, tanpa mereka tahu di balik jabatan tinggi tentu ada konsekuensi yang harus di terima.
Waktu yang tersita untuk pekerjaan, lebih banyak dari pada untuk keluarga atau orang terkasih, itulah yang kini tengah Rangga alami, mempunyai seorang istri CEO sungguh melatih kesarabarannya.
"Baiklah ayo?"ucap Rangga.
"Nahh gitu dong, ingat jangan sampai kau seperti kacang yang lupa pada kulitnya"kalimat bernada sarkas muncul dari mulut lemes Kevin.
"Maksud lu apa nih"tanya Rangga dengan wajah kesal, sungguh ia bukan ingin menghindar dari sahabatnya itu, Rangga hanya ingin berpamitan dahulu pada Shanum yang kini sudah menjadi istrinya.
"Wahhh lu sensi Ngga, maksudnya, gue nggak mau lu jadi berubah hanya karena sekarang lu sudah menjadi wakil CEO"jelas Kevin.
Kevin hanya menggeleng dengan senyum sinis.
"Sudahlah, ayo pake motorku"ajak Kevin.
Drrt drrt.
"Maaf sayang, aku lembur, ada undangan jamuan makan dari klien, aku berangkat bersama ayah dan asisten Har"isi pesan Shanum.
"Vin gue bawa mobil, Shanum sama ayahnya"ujar Rangga, membuat Kevin tertegun.
"Oke".
Keduanya berangkat menuju tempat yang terletak di pinggiran kota berjarak empat puluh lima menit dari gedung Wijaya Corp.
Rangga memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran taman kota, begitupun Kevin yang memarkirkan motornya tak jauh dari pintu gerbang masuk, karena tempat parkir motor dan mobil terpisah.
Di kursi taman kota kini Rangga duduk, suasana senja yang cerah membuat taman kota itu masih banyak pengunjung yang datang untuk menikmati weekend murah meriah bersama dengan keluarga.
Masih teringat oleh Rangga, di mana dulu ia pertama kali bersama Shanum menikmati senja di kursi taman kota yang saat ini ia duduki.
__ADS_1
"Ngga minum"Kevin menawarkan teh hangat yang baru ia pesan di tukang kopi keliling.
"Hu um thank's".
"Kenapa diem lu, kesambet jin gagu ?"tanya Kevin saat melihat Rangga dalam mode kalem.
"Ehm gue cuma inget kenangan indah pertama kali gue ajak Shanum kencan, di tempat ini"ucap Rangga.
Kevin sontak membulatkan mulutnya, ingatannya kembali berputar saat pertama kali ia melihat Rangga bersama seorang gadis, yang ternyata gadis itu adalah CEO dari Wijaya Corp yaitu Shanum.
"Jadi gadis yang waktu itu gue lihat saat lu peluk, adalah nona Shanum?"tanya Kevin antusias.
"Waaahhh, lu emang bener-bener ya Ngga"lanjut Kevin.
Rangga memandang heran ke arah Kevin.
"Bener-bener gimana maksud lu?"tanya Rangga yang kini merasa heran.
"Yaa, lu emang benar-benar teman gue yang luar biasa he hee"senyum polos Kevin.
"Tapi mentang-mentang lu udah dapet nona Shanum lu jadi berubah, sebagai sahabat gue cuma minta agar lu jangan berbuat se enak jidat lu Ngga"sontak Rangga memandang Kevin tajam.
"Maksud lu apa sih Vin, dari tadi ucapan lu bikin kuping gue panas, lu bilang deh sama gue, apa yang membuat lu marah sama gue, salah gue apa heeeh"kalimat Rangga kini terdengar meninggi, dan wajahnya pun menegang dengan rahang mengembung.
Kevin menghela nafas panjang.
"Monik tadi curhat sama gue sambil nangis-nangis, apa benar lu ninggalin dia tanpa kabar berita, dan lu ingkar semua janji yang pernah lu ucap ke dia, dan masih banyak janji lain yang lu ucapkan ke Monik, tapi ternyata lu ingkar setelah bersama dengan nona Shanum"kalimat Kevin membuat dada Rangga panas.
"Wah wah, berita apa lagi nih?"ucap Rangga sinis, rupanya sikap Kevin yang berubah bermuara dari cerita yang Monik karang.
Kevin mengedikkan bahunya.
"Vin gue sama elu sahabat bukan baru dua atau bulan tiga bulan, lu teman gue dalam suka maupun duka sejak pertama kita nhelamar kerja di Wijaya Corp, semua kosah gue, gue ceritain hanya sama elu, dan lu masih percaya cerita seperti ini he em?"tanya Rangga dengan memandang intens wajah Kevin.
"Entahlah, sebenarnya aku pun ragu pada Monik, tapi dari raut wajah dan tangisnya yang menyayat, gue pikir lu emang sudah berubah Ngga?"bela Kevin.
"Hufff, lu kaya nggak kenal gue aja Vin-Vin"
"Syukurlah jika apa yang di katakan Monik tidak benar"ucap Kevin lega.
"Gue harus ketemu sama dia"ujar Rangga pasti.
"Ahh sudahlah, ngapain buang tenaga percuma cuma buat ngurusin masalah sepele seperti ini"ujar Kevin.
__ADS_1
"Tapi gue nggak mau di cap sebagai cowok nggak bertanggung jawab, dan suka tebar penosa"jawab Rangga.