
Shanum tersenyum melihat Rangga yang kini terpaku di atas sofanya, entah karena badan yang letih membuat tidurnya begitu lelap, ia terbangun saat mendengar suara dari pintu yang terbuka.
Seorang suster rupanya sudah selesai mengelap badan Shanum dan bajunya pun sudah berganti.
"Kau sudah bangun sayang"sapa Shanum dengan senyum cerah.
"Hhmm,"Rangga mendehem singkat, jika Shanum sudah di bersihkan tubuhnya maka pagi ini Rangga tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang begitu mengasikan baginya.
Shanum yang menyadari perubahan rona muka sang suami kini merasa bertanya-tanya.
"Kenapa dengan mukamu sayang"tanya Shanum.
Rangga menatap Shanum bingung.
"Kenapa mukaku?".
"Tampan tapi..."
"Tapi apa?"
"Kusut kaya baju nggak di setrika"
Rangga memalingkan mukanya, hatinya sungguh merasa dongkol.
Gara-gara bangun kesiangan, akhirnya kegiatan pagi yang menyenangkan pun terlewatkan.
*
*
Maharani tersenyum senang, pagi ini melihat Joy sudah duduk di depan meja makan dan rona wajahnya pun tak se murung kemarin.
"Selamat pagi Joy, muuach"sapa Maharani sambil mencium puncak kepala Joy lalu mengacak rambutnya gemas.
"Pagi mom"jawaban singkat Joy yang kesal karena rambut yang sudah tertatap rapih kini kembali acak-acakan karena perbuatan sang mama.
"Mommy senang kalau kau kembali ceria seperti biasa dan tidak murung lagi sayang"ujar Maharani.
"Iya mom"
Maharani pun menghabiskan sarapannya dengan semangat.
"Ehm mom, aku mau bicara"sahut Joy setelah melihat Maharani telah selesai menyantap sarapannya.
"Humm"
__ADS_1
"Momm, aku mau nerusin kuliah di xx"ucapan Joy sontak membuat Maharani terpaku, mempunyai satu-satunya anak membuatnya begitu menyayangi dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya, namun kini tak ada angin tak ada hujan Joy mengatakan ingin melanjutkan pendidikannya ke negara xx yang tentu saja membuat hatinya mendadak pilu.
Meski Maharani tahu jika kepergian Joy dengan beralasan untuk melanjutkan studynya adalah hanya sebuah alasan yang di buat Joy untuk menutupi keadaan hatinya yang sebenarnya.
"Jika menjauh darinya dapat mengobati luka hatimu, mommy rela nak, biarkan waktu yang akan menyembuhkan lukamu".
Maharani menghela nafas berat, di usapnya lembut punggung Joy, luka hati yang sedang di alami sang putra, Maharani pun ikut merasakannya.
"Berangkatlah sayang, do'a mommy selalu bersamamu nak"Maharani berucap dengan air mata kini deras membasahi kedua pipi halusnya, meski mulutnya berucap ikhlas namun hati dan pikirannya tetaplah di penuhi rasa gundah karena ia adalah seorang ibu yang selalu ingin dekat bersama anak satu-satunya.
"Momm, kenapa malah nangis, katanya aku boleh nerusin ke xx"Joy kini merasa bersalah telah membuat mommy menangis.
"Iya sayang, mommy ngijinin kamu kok, cuma mommy nanti kalau kangen gimana sayang hiks hiks"kini isakan tangis terdengar pilu dari mukut Maharani.
"Kan mommy bisa nengok aku ke sana momm, atau kalau aku liburan juga pasti pulang nengokin mommy"Joy memeluk Maharani erat.
"Apa nggak ada negara lain yang lebih deket Joy, biar mommy kalau weekend bisa nengokin kamu, kalau jauh kan mommy takut sendiri di pesawatnya hiks"Maharani kini semakin mendramatisir tangisannya, hatinya yang terbiasa tegar dan kuat kini seakan begitu rapuh dan melow.
Joy mengela nafas dalam, sejak lahir Joy tak pernah berpisah dari mommynya, kini dengan berat hati Joy harus meninggalkannya seorang diri, meski terbersit keraguan namun hatinya tetap pada pendiriannya.
Negara xx lah yang menjadi tujuannya untuk memulihkan hati dan melanjutkan jalan takdirnya tanpa bayang-bayang Shanum.
*
*
Bahkan saat ke kantin rumah sakit pun Rangga tak menawarkan makanan padanya.
Beberapa kali otaknya bekerja, namun Shanum tak juga menemukan jawaban alasan kenapa Rangga mengacuhkan ditinya.
"Ehmm hmm"Shanum berdehem pelan.
Rangga menoleh ke arahnya sekilas, namun kembali ke aktifitasnya menonton.
"Sayang, aku haus tolong ambilkan minum"pinta Shanum.
Ranggapun berjalan ke arah meja di samping ranjang dan menyodorkan ke arah mulut Shanum dengan muka datar.
"Terima kasih"
"Hummm"hanya gumaman pendek keluar dari mulut Rangga.
"Sayang, kau marah padaku ?"tanya Shanum akhirnya tak mampu rasanya jika Rangga terus mendiamkannya tanpa mengatakan hal apa yang membuatnya marah.
Rangga menoleh pada Shanum dan memandangnya tajam.
__ADS_1
"Sebagai seorang istri kau tidak asik Sha, membuat hati suamimu ini merasa tak berguna"batin Rangga.
Rangga mengedikkan bahunya.
"Aku tidak marah"singkat padat dan dingin, jawaban Rangga.
"Lalu kenapa kau mengacuhkanku, apa salahku?"
Rangga menatap tajam ke arah Shanum.
"Kau sudah membuatku merasa sebagai seorang suami yang tak berguna sayang, tak sadar kah kau?"kalimat tajam yang lolos dari mulut Rangga menyadarkan Shanum, rupanya Rangga merasa kesal karena tugas bersih-bersih badannya di gantikan oleh perawat hingga ia merasa sebagai suami yang tak di butuhkan, gumam Shanum.
"Ya Tuhan, ternyata kau mengacuhkanku hanya karena aku meminta perawat untuk membersihkan badan dan mengganti bajuku dan kau menganggap dirimu sebagai suami yang tak di butuhkan lagi?, apa itu yang ada di benakmu sayang?"tanya Shanum panjang.
"Huum"Rangga mengangguk dan mengedikkan dagunya.
Shanum tersenyum melihat tingkah Rangga yang begitu menggemaskan.
"Maafkan aku, kalau begitu sore nanti maukah kau mengelap, membersihkan dan mengganti bajuku"tanya Shanum mengucapkan kalimat dengan cepat, rasanya begitu memalukan jika tubuhnya di pegang dan di usap oleh Rangga, meskipun sekarang mereka adalah sepasang suami istri, memayangkannya pun sudah membuat wajahnya kini bagai kepiting rebus.
Rangga mengatupkan bibirnya rapat, ingin rasanya ia bersorak, dadanya kini di penuhi oleh jutaan kupu-kupu.
"Hmm, baiklah"Rangga berucap tenang dan berusaha menguasai jantungnya yang berdebar kencang.
Rangga menatap kulkas mini di samping ranjang Shanum.
"Apa kau mau cake?"tanya Rangga, sikap acuhnya kini lenyap dan berganti mode menjadi suami siaga dan penuh kehangatan.
Shanum menggeleng pelan "Aku tidak lapar".
"Tapi kau harus banyak makan, agar cepat sembuh sayang"Rangga membuka kulkas dan mengeluarkan cake yang di buat oleh bibi di mansion.
"Aaa"mulut Rangga ikut membulat saat tangannya menyuapkan cake ke mulut Shanum.
"Aaa, buka mulutnya yang lebar sayang"gemas rasa hati Rangga melihat bibir mungil Shanum yang terbuka namun tak cukup ruang untuk cake yang ia suapkan masuk ke mulutnya.
"Potong dulu atuh suamiku, apa kau mau mencekikku dengan cake itu"Shanum menjawab dengan kesal.
"Ish"Rangga pun memotong cake menjadi potongan-potongan kecil.
"Siapa suruh punya mulut dan bibir begitu mungil, susah kan jadinya"geram Rangga namun dalam hati.
"Aaa, sudah ku potong kecil nih, awas saja kalau kau masih beralasan cake ini terlalu besar"nada ancaman membuat Shanum sekuat tenaga membuka mulutnya.
Rangga menatap pipi yang membulat dan bergerak-gerak, bagai kelinci yang sedang mengunyah wortel.
__ADS_1
"Kenapa kau begitu menggemaskan sayang, kelinciku, cintaku dan separuh nafasku".