
Shanum memandang lekat wajah cantik dengan tatapan lembut di hadapannya, pantas saja Devon sangat mencintainya, pikir Shanum.
"Terima kasih kau telah memaafkan kami Sha, entah apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesalahan yang telah kami perbuat padamu"nada bicara Vina terlihat pelan dan penuh penyesalan, setelah kini Devon lebih memilih kembali padanya, dan memutuskan pertunangan dengan Shanum.
"Sudahlah Vin, tak ada yang perlu di sesali, jika memang jalan kehidupanku seperti ini, aku menerimanya dengan ikhkas"jawab Shanum bijak.
"Terima kasih Sha, kau memang sahabat yang terbaik, sungguh beruntung Rangga akhirnya mendapatkanmu"ujar Devon, lalu memandang Vina.
"Beberapa hari lagi ia akan menikah dengan seorang pria yang begitu mencintainya"ujarnya.
Vina tampak mengerutkan kedua alisnya.
"Selamat Sha, siapakah pria beruntung itu?"tanya Vina antusias.
"Ehm, dia calon suamiku"jawab Shanum sambil menunjukan layar ponselnya yang berisi fotonya berdua dengan Rangga.
Kembali Vina terkejut setelah melihat layar ponsel yang di tunjukan oleh Shanum, karena merasa tak asing pada sosok lelaki yang berada di samping nya.
Dia adalah pria yang hendak berkonsultasi kesehatan padanya namun gagal karena sang gadis telah lebih dahulu menemuinya namun dengan sang tunangan yang tak lain adalah Devon, mantan kekasih Vina.
Sungguh saat itu Vina merasa iri pada gadis yang mendapat perhatian dari dua orang pria sekaligus.
Ternyata gadis beruntung itu adalah Shanum, Vina hanya dapat menghela nafas panjang, perjalanan cinta mereka ternyata sedikit rumit, pikir Vina dengan senyum lembutnya.
__ADS_1
Devon melerai pelukannya pada Shanum untuk yang terakhir kali.
"Selamat tinggal Sha, besok aku akan menghubungimu lagi"ujar Vina, di jawab anggukan dari shanum.
"Apa kau sungguh bisa mempersiapkan WO itu Vin?"tanya Devon.
"Tenang Dev, aku sudah mengenal Mery dengan baik, ia adalah seorang desainer terkenal dan ia pasti sanggup menyiapkan baju pengantin yang special untuk mereka, meskipun dengan waktu hitungan hari"jawab Vina pasti.
Meski acara di akan di langsungkan beberapa hari lagi, namun dengan bayaran fantastis tentu WO yang Mery pegang akan dapat menyelesaikan dengan profesional.
Sementara di tempat lain, Maharani masih merasa cemas dengan kondisi putra kesayangannya, sejak tadi malam putranya mengurung diri di kamar, dan tak pernah menyentuh makanan yang di hidangkan para maidnya.
Terasa sesak dadanya, saat melihat putra satu-satunya kini begitu patah hati.
Langkah Danil sang asisten mendekat padanya.
"Nyonya, ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Nyonya"bisiknya pelan.
Maharani pun melambaikan tangannya ke arah para karyawan butik agar keluar dari ruangannya.
"Ku harap berita yang kau sampaikan dapat membuat hariku tak lagi suram Dan"ujar wanita paruh baya itu dengan nada dingin.
"Nyonya, menurut informasi dari orang kita, Nona Muda Shanum ternyata telah putus dengan Tuan Devon tunangannya"ucap asisten Danil dengan raut wajah percaya diri karena dalam benaknya tentu akan mendapat pujian dari bos nya bahkan mungkin bonus akan mengalir ke rekeningnya, tanpa ia ketahui bahwa kini Shanum memang putus tali pertunangannya, namun beberapa hari lagi ia akan melangsungkan pernikahan dengan pria lain.
__ADS_1
Maharani tersenyum puas lalu menepuk asistennya dengan bangga, lalu segera melangkah keluar dari butik.
Dengan langkah cepat, wanita paruh baya itu menuju ke mansion megah yang di bangun dengan hasil keringatnya, kerja keras yang di rintis sejak kematian sang suami.
Perjuangan dari ketrampilan tangannya dalam melukis dan menghasilkan sketsa yang begitu indah, akhirnya banyak di lirik oleh para desainer terkenal kala itu.
Kini dengan butik yang di bangunnya, juga beberapa restoran besar maupun sederhana, sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah yang mengalir deras ke rekeningnya.
Dan Joyandra Sabasian adalah putra satu-satunya yang akan mewarisi seluruh kekayaan miliknya.
"Joy ...nak, buka pintunya sayang, mommy datang membawa kabar bahagia untukmu nak"ucap Maharani dengan semangat, di depan pintu kamar sang putra.
"Naak....Joyandraa"teriaknya lagi.
"Nona Shanum kini bisa kau dapatkan sayang"Wanita itu sedikit meninggikan nada suaranya agar sang putra mendengarnya dengan jelas.
Ceklek
Pintu kamar itu pun terbuka perlahan, wajah lusuh dan kusam dengan bibir pucat kini memandang Maharani dengan tatapan penuh harap.
"Apa yang mommy katakan benar mom, apa mommy tidak membohongiku?"tanya Joy dengan suara parau.
Maharani mengangguk pasti dan memeluk putra kesayangannya dengan erat.
__ADS_1
"Mommy berkata benar sayang, nona Shanum ternyata telah putus dengan tunangannya, kini kau dapat memilikinya sayang"ujarnya dengan penuh haru.