
"Sayang"
"Suster !!"
Teriak kedua pria tampan itu secara bersamaan, jika Rangga segera menghampiri Shanum, berbeda dengan yang di lakukan Joy, dengan langkah cepat ia berlari keluar ruangan untuk memanggil para suster.
"shitt..!"teriaknya tertahan saat sadar dari tindakan bodoh nya lalu kembali memasuki ruang kamar Shanum, buat apa lari-lari memanggil suster, karena ia hanya cukup menekan bel yang menempel di tembok sebelah kepala pasien.
Rangga hanya melihat sekilas Joy yang kembali memasuki ke kamar.
"Sayang, kau sudah sadar?"tanya Rangga antusias.
Ceklek.
Beberapa perawat datang memasuki ruang tersebut.
"Maaf selain pasien kami harapkan untuk meninggalkan ruangan, karena akan di lakukan pengecekan kondisi pasien"ucap salah satu perawat pada dua pria tampan di samping Shanum.
Rangga menatap Shanum lekat, dan mengusap punggung tangan yang masih lemah itu.
"Sayang, aku ke luar dulu sebentar"bisiknya lirih, Shanum hanya menatap kepergian lelaki yang baru beberapa jam sah menjadi suaminya.
Perawat pun memeriksa denyut nadi dan pupil mata Shanum dengan teliti.
"Kepada suami Nyonya Shanum di harap masuk ke ruang pasien"ujar salah satu perawat dari pintu ruangan.
Rangga pun segera memasuki kamar dengan semangat.
Kedua perawat kini saling pandang.
"Maaf kami memanggil suami Nyonya Shanum"salah satu perawat memberanikan diri.
"Saya suaminya"jawab Rangga percaya diri.
Beberapa pertanyaan berkecamuk di hati kedua perawat itu.
Jika suami pasien adalah Rangga, lalu apa status lelaki tampan yang mengaku suaminya itu.
Sungguh beruntung menjadi seorang wanita yang di perebutkan oleh kedua lelaki tampan, kedua perawat saling berbisik pelan.
*
__ADS_1
*
Sementara Hardy masih tampak gelisah di mansion, pesan dari Harun belum cukup membuatnya tenang, sementara untuk menghubungi Rangga pun belum bisa karena saat ini ia sedang berada di ruangan tempat Shanum di rawat.
Sesak terasa dadanya kini, suasana mansion tampak hening seakan ikut merasakan kesedihan Hardy,dimana putri satu-satunya tengah terbaring tak berdaya di rumah sakit.
"Mitha, maafkan aku tidak bisa menjaga putri kita dengan baik, andai kau masih bersama kami, mungkin semua tidak akan seperti ini"batin Hardy lirih menyesali kepergian istrinya tercinta.
Hati yang menyimpan kerinduan pada mendiang sang istri membuatnya terlihat rapuh, matanya menyisir kamar pengantin yang di rias cantik, namun kini justru putrinya tengah berbaring di brangkar rumah sakit, mata yang sudah keriput itupun terpejam dan air mata pun lolos dari sudut matanya.
Pria yang terlihat tegar dan kuat, kini sedang hancur dan teramat sakit, Hardy sadar kecelakaan yang shanum alami adalah perbuatan dari Hendy saudaranya.
Rahang Hardy kini mengembung keras, batas kesabarannya kini sudah berada di titik tertinggi rasanya ia tak sanggup jika harus terus berdiam diri dan mengalah.
Hardy tak ingin putri satu-satunya kembali menjadi korban keserakahan saudaranya.
Setelah Paramitha meninggal rupanya Hendy masih berusaha mengincar Shanum, satu-satunya keturunan Hardy.
Waktu kini berjalan perlahan, fajar terlihat cerah menyongsong pagi, Hardy yang baru beberapa menit duduk di kursi ruang utama mansion pun terlelap, nafas yang teratur membuat pelayan yang melihatnya merasa iba, untuk sekedar membangunkannya pun mereka tak tega.
Tuan Besar yang baik hati kini sedang tidak baik-baik saja, salah satu pelayan senior memberanikan diri menutup tubuh Hardy dengan selimut tidurnya.
Tak tok tak tok.
Salah satu pelayan menutup bibirnya dengan jari telunjuk pada seorang pengawal yang mendatangi Hardy.
Pengawal yang sebenarnya akan memberitahukan kedatangan Devon pun terdiam mengurungkan niatnya lalu kembali ke ruang tamu dimana Devon tengah duduk dengan wajah diliputi kecemasan.
Pelayan senior pun berinisiatif menemui tuan Devon yang sudah di kenalnya.
"Bi, bagaimana keadaan Shanum bi"tanya Devon, meski mereka telah putus tapi hubungan dan kedekatan dirinya dengan Shanum tetap terjalin erat, begitu ia mendengar berita yang kini menimpa Shanum, Devon segera datang ke mansion Hardy.
"Non Shanum kecelakaan den, dan sekarang masih di rawat di rumah sakit xx, dan mas Rangga yang sedang menunggunya"
Jawab pelayan senior, raut wajah penuh kesedihan tergambar jelas, menjadi pelayan mansion sejak Shanum masih kecil hingga hubungan batin antara dia dan Nona mudanya pun begitu dekat, bahkan Nona Muda sudah di anggap seperti seorang putrinya sendiri.
Devon hanya terdiam membisu menyimak penuturan sang bibi pelayan, belum sempat ia mengucapkan selamat atas pernikahan mantan tunangannya itu, dini hari Devon menerima berita yang begitu mengagetkannya.
Setelah mengetahui alamat rumah sakit tempat Shanum di rawat, Devon pun melajukan mobilnya menuju di mana rumah sakit tersebut berada.
Harun kini kelimpungan, hari ini adalah rapat tahunan para investor, dan jika CEO terpaksa tidak hadir maka dialah yang harus mewakilinya.
__ADS_1
Beberapa menit setelah memejamkan matanya di bangku tunggu pasien akhirnya Harun berangkat untuk pulang karena masih ada tugas berat lain menunggunya, yaitu berhadapan dengan para investor di Wijaya Corp.
Langkah Harun tertahan saat di sebuah koridor melihat sosok Devon tengah berjalan ke arahnya.
"Tuan Dev?"sapa Harun dan menunduk hormat.
"Pagi pak Har, di mana ruangan Shanum pak, dan bagaimana ke adaanya?" tanya Devon.
"Non Shanum sekarang sudah membaik dan setelah kondisinya stabil maka akan di pindahkan ke ruang rawat inap".
"Ehmm, apa Rangga sendiri pak?"tanya Devon.
"Ehmm, anu Tuan, ada seorang pemuda yang telah menolong non Shanum dan sekarang masih berada di sana menemani tuan Rangga"jawab Harun sedikit ragu karena ia pun belum mengenal siapa sang penolong nona mudanya hingga membawanya ke rumah sakit bertaraf elit itu.
Devon menganggukan kepalanya membalas ucapan pamit Harun.
Dengan perlahan Devon membuka pintu kaca penyekat ruang VVIP di mana Shanum masih di rawat intensif.
Matanya menatap pemuda yang tengah duduk menyandarkan tubuhnya di bangku tunggu pasien.
"Ehmm hmm"Devon berdehem pelan agar tidak begitu mengagetkan pria manis yang tengah terlelap dengan posisi duduknya.
Terlihat tatapan nanar dan mata merah karena rupanya baru beberapa menit ia tertidur.
"Ehmm, maaf telah membangunkan anda, saya Devon"
Joy menyambut uluran tangan Devon. Matanya tajam ke arah Devon.
Rupanya ini mantan tunangan yang telah berhianat pada Shanum, gumam hati Joy geram.
Devon merasa tengkuknya meremang saat melihat tatapan tak bersahabat dari pria manis di hadapannya, melihat dari wajah yang masih terlihat segar Devon tahu pria itu lebih muda darinya, namun apa yang salah dengannya hingga pria itu menatapnya dengan sinis.
"Joy"jawaban singkat dan dingin keluar dari bibir Joy seraya melepas jabatan tangannya.
Devon hanya senyum masam lalu melihat ke kaca ruangan Shanum.
Rangga keluar dari ruangan setelah menyadari kehadiran Devon.
"Bagaimana ke adaannya Ngga?"tanya Devon.
"Sekarang sedang tidur, syukurlah Shanum sudah melewati masa kritisnya, dan jika kondisinya tetap stabil maka akan di pindahkan ke ruang Rawat"Rangga menjelaskan dengan suara pelan agar Shanum tak terganggu tidurnya.
__ADS_1
"What, hubungan macam apa ini, kenapa mereka malah akrab, mantan tunangan dan suami sah kini berjabat tangan dengan erat"
Joy menggaruk kepalanya yang tak gatal.