
Shanum menatap lekat wajah sang suami, memastikan jika tak ada lagi noda lipstik yang menempel di bibirnya.
Ciuman panas yang mereka lakukan meski hanya beberapa detik namun sudah bisa merubah penampilan keduanya.
Bibir Rangga kini berubah sedikit berwarna merah muda di sisinya, sedangkan Shanum rambutnya terlihat acak-acakan.
Keduanya pun tertawa bersama melihat kecerobohan yang mereka buat.
Rangga memandang Shanum sambil membenahi rambut hitam sang istri, sementara Shanum mengelap bibir Rangga dengan tisu dari dalam tasnya.
"Sudah rapi, ayo kita berangkat"Rangga merangkul pinggang ramping sang istri lalu melangkah menuju lift.
Hari sudah beranjak sore, saat mobil yang di tumpangi Shanum dan Rangga sampai di mansion.
Suasana tampak hening saat Shanum memasuki pintu mansion.
Para pelayan yang melihat kedatangan sang nona muda tampak berseri dan memeluk erat Shanum.
"Ayah mana bi?"tanya Shanum di tengah pelukan erat sang bibi.
"Tuan ada di kamarnya non, mungkin sedang istirahat"jawab bibi.
Shanum pun melangkah ke kamarnya di iringi Rangga yang masih setia di belakangnya.
"Non dan den Rangga mau makan sekarang?"tanya bibi.
"Nanti saja bi tunggu ayah"bibi pun mengangguk lalu kembali melangkah ke dapur mansion.
"Bi"langkah bibi tambun itu pun tertahan dan menoleh saat Shanum memanggilnya.
"Tolong buatin orange juice dua ya bi"pinta Shanum, lalu di jawab anggukan oleh bibi.
Shanum meletakan tubuhnya di atas sofa empuk dalam kamarnya.
Siang yang terik bahkan meski waktu menunjukan pukul lima sore tapi udara masih terasa gerah.
"Sayang kita mandi yuk"bisik Rangga di telinga Shanum.
Rupanya ciuman panas yang sempat mereka lakukan sebelum pulang membuat Rangga masih merasa penasaran.
Shanum memandang jengah kearah Rangga, tubuhnya terasa penat, apalagi cuaca yang terik dan gerah membuat Shanum enggan beranjak dari posisi wuenaknya.
Shanum menggeleng pelan.
Rangga mendekat ke arah Shanum sambil membuka kancing bajunya.
Jarak yang semakin dekat membuat Shanum gugup.
Kancing baju yang terbuka sempurna membuat bentuk perut sixpack Rangga terpampang jelas.
Glek.
Shanum menelan salivanya, meski entah sudah berapa kali mereka melakukan penyatuan, tapi melihat dada bidang suami yang kini jelas di depannya membuat Shanum wajahnya berubah merona merah bak kepiting rebus.
__ADS_1
Rangga tersenyum melihat istri yang kini salah tingkah.
Tok tok tok.
Shanum menoleh ke arah pintu, lalu melihat Rangga yang dengan gerakan cepat kini bersembunyi di balik pintu yang masih tertutup rapat.
Shanum tersenyum gemas melihat tingkah konyol suaminya itu.
Ceklek
"Minumannya non".
Bibi menyodorkan nampan berisi minuman dan sepiring cake durian yang merupakan kesukaan Rangga.
"Terima kasih bi".
Shanum lalu mengambil nampan dari tangan bibi tanpa membuka seluruh pintu karena Rangga masih berada di balik pintu sedang bersembunyi.
Ceklek.
"Huufff"Rangga bernafas lega.
"Kenapa sayang, sepertinya kau begitu takut mereka melihat tubuhmu"tanya Shanum masih tampak lucu melihat tingkah menggemaskan suaminya.
"Apa kau mau tubuh suami tampanmu ini di lihat orang lain"ujar Rangga narsis, membuat Shanum menutup mulut dengan kedua tangannya.
Sungguh tak percaya jika ternyata Rangga bisa se narsis itu.
Kini Rangga dengan tenang keluar dari persembunyiannya dan melangkah mendekat ke arah Shanum.
"Aku haus"Rangga meraih satu gelas yang berada di nampan yang Shanum bawa.
Shanum bernafas lega, ternyata Rangga mendekat karena ingin mengambil gelas di tanganya.
Rangga menarik garis bibirnya membentuk senyum tipis.
Di ambilnya nampan yang masih berada dalam genggaman Shanum, lalu menaruh di atas meja.
Tangannya merengkuh tubuh Shanum agar lebih dekat.
Tatapan Rangga tajam ke arah netra Shanum.
Di kecupnya bibir kenyal sang istri dengan lembut, ciuman panas pun kini terjadi lagi, Shanum yang kini sudah memberi akses pada Rangga hingga dengan leluasa Rangga dapat meng eksplore nya.
Shanum yang kini ikut terbawa suasana yang makin memanas tak kuasa saat dengan perlahan tubuhnya di angkat Rangga menuju ke kamar mandi.
Dengan ketrampilan tangan yang sudah mulai terasah satu persatu kain yang melekat di tubuh Shanum pun terlepas.
Begitupun tubuh Rangga yang kini telah polos.
Rangga melepas pagutannya dan menautkan keningnya dengan Shanum.
Nafas keduanya kini saling memburu, di bawa guyuran air shower gerakan yang kini seakan seirama dengan air yang jatuh membasahi keduanya.
__ADS_1
Suara ******* lembut yang tersamar dengan gemericiknya air memacu tubuh Rangga untuk semakin mempercepat irama tubuhnya.
Dengan tak melepas penyatuan tubuhnya, Rangga mengngkat tubuh kecil Shanum dan mendudukan di atas tubuhnnya yang kini duduk di atas duduan kloset.
Erangan halus keluar bersamaan saat tubuh mereka menegang sempurna kala pelepasan terjadi.
Shanum merasakan cairan hangat memasuki rahimnya, Rangga tersenyum puas dan mengecup puncak kepala Shanum.
Untuk beberapa menit keduanya saling mendekap erat membiarkan tubuh mereka terurai dengan sendirinya.
Dengan telaten Rangga menyabuni seluruh tubuh Shanum, tanpa terlewat satu titikpun.
Shanum hanya terdiam dengan tangan menutupi bagian inti tubuhnya, meski tangan Rangga yang jahil terus saja memainkan bagian tubuh yang menjadi favoritnya.
Satu jam sudah mereka berada di kamar mandi.
"Bi mana Shanum dan Rangga"tanya Hardy karena melihat mobil Shanum sudah terparkir di garasi mansion.
"Mereka ada di kamar tuan"jawab bibi sambil menunduk.
"Siapkan makanan lalu panggil mereka" ucap Hardy.
"Baik tuan"
Setelah beberapa menit akhirnya keduanya pun muncul.
Rangga terlihat segar dengan wajah tersenyum ceria.
Shanum melangkah ke arah Hardy lalu memeluk erat pria paruh baya itu.
"Maafkan aku ayah"ucapan Shanum dengan suara bergetar penuh sesal.
Hati kecil Shanum masih terus di hantui rasa bersalah, Hendy kakak kandung ayahnya sendiri kini mendekam dalam penjara karena dirinya.
Hardy menepuk punggung Shanum dengan lembut.
"Tenangkan dirimu, semua sudah takdir sang pencipta, kita hanya sebagai perantara, jangan pernah kau sesali karena itu sama sekali bukan salahmu"ucapan bijak Hardy terdengar tenang.
"Tapi ayah, aku telah membuatmu kecewa hiks".
Shanum tak dapat lagi membendung tangis yang sejak tadi ia tahan.
"Karena aku, kalian berpisah, dan karena aku pula, ayah Hendy membenci kita ayah hiks".
Nafas Shanum begitu sesak menahan beban yang terasa menghimpit dadanya.
"Sha lihat ayah, apakah ayah menyesalinya dan apakah kau kira ayah akan membiarkanmu terus berada dalam bahaya karena perbuatan kakak kandung ayah sendiri, ingat Sha...kau adalah putri ku satu-satunya yang sangat ayah sayangi, tak akan ayah biarakan siapapun membuatmu celaka meskipun itu adalah saudara kandung ayah sendiri".
Hardy berusaha menenangkan putrinya yang masih tergoncang hatinya.
Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Matanya tertuju pada tengkuk Shanum yang terlihat seperti macan tutul karena penuh dengan hasil karyanya.
__ADS_1
Andai saat ini ayah mertua tidak bersamanya maka ia akan menyuruh Shanum untuk tidak menggulung rambutnya hingga leher jenjangnya terekspos sempurna.
Kegiatan bercocok tanam tadi begitu membuatnya lupa diri, hingga membuat hasil karya yang dapat di lihat orang lain.