Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kau Sereceh Itu


__ADS_3

Hardy sama sekali belum bisa bernafas dengan lega, setelah sidang selesai, ternyata masih harus mengikuti sidang lanjutan lagi minggu depan, dan itu membuat Hardy harus lebih waspada.


Hendy adalah seorang yang nekad dan mampu berbuat apapun agar semua keinginannya terpenuhi.


"Tunggu pembalasanku, tak akan ku biarkan kau tidur dengan nyenyak" bisikan ancaman Hendy saat melewatinya di kantor pengadilan siang tadi.


Dengan tatapan dingin Hardy sama sekali tak menanggapi apa yang Hendy katakan.


Andai kau sadar apa yang kau lakukan adalah salah, aku akan memaafkanmu kak, tapi ternyata kau semakin gila karena nafsu dunia yang telah menguasaimu, Hardy membatin lirih.


Meski hatinya begitu perih, tapi Hardy juga menyadari diantara mereka tetaplah ada ikatan darah.


Hardy membalas anggukan hormat dari para bawahan Hendy.


Meski mereka berada di pihak Hendy, namun mereka begitu menghormati Hardy.


"Jagalah tuanmu dengan baik"nasihat Hardy saat meninggalkan kantor pengadilan, dan di sambut anggukan hormat dari mereka.


Meski perang dingin terjadi antara mereka tapi Hardy secara diam-diam selalu memantau ke adaan Hendy.


Di tatapnya foto masa kecilnya di atas nakas.


Permusuhan yang terjadi sejak mereka beranjak remaja hingga kini membuat Hardy begitu prihatin.


Kebencian yang mendarah daging oleh saudara kandungnya sendiri begitu perih di rasakan.


Andaikata ia harus menyerahkan hartanya, Hardy akan rela asal Hendy sadar akan kesalahan yang di perbuatnya dan kembali ke jalan yang benar.


Drtt drrt.


Hardy kembali menghela nafas berat.


Rupanya Hendy sedang murka dan mengamuk di apartemennya.


Hardy terdiam saat membaca berita yang di kirim oleh salah satu anak buah kepercayaannya yang ia perintahkan untuk menyusup ke apartemen Hendy.


Sementara di tempat lain, di sebuah kamar hotel mewah.


Rangga dengan telaten memijit pergelangan kaki istri kecilnya.


Pijatan kecil namun membuat Shanum terasa begitu nyaman hingga tak sadar dirinya pun tertidur pulas.


Rangga tersenyum dan mengecup puncak kepala Shanum saat hembusan nafasnya mulai teratur.


Dengan perlahan Rangga menuju teras balkon lalu membuka laptopnya.


Matanya menatap layar laptop dengan tajam.


Rekaman CCTV yang telah ia retas di sebuah apartemen, memperlihatkan seseorang yang tengah membanting beberapa poto besar yang menempel di dinding, bahkan televisi besar pun tak lepas dari amukannya, sementara penjaga yang berada di balik pintu tak ada yang berani menenangkan sang pemilik apartemen yang tak lain adalah Hendy.


Setelah mengamuk beberapa saat, energinya terkuras kini tubuhnya pun terkulai lemas di sisi sudut sofa, tampak tubuhnya bergetar menahan sesak yang memenuhi dadanya.


Penjaga yang berada di balik pintu ruangan kini mulai mengetuk pintu setelah keadaan menjadi hening.


Setelah kunci pintu cadangan yang di pegang oleh pengawal kepercayaan Hendy akhirnya pintu apartemen berhasil di buka.

__ADS_1


Mereka pun berlari ke arah Hendy yang tergeletak di sisi sofa dengan darah keluar dari luka sobekan karena goresan dari pecahan vas keramik.


Rangga tampak menahan nafas saat melihat Hendy di bopong oleh para pengawal yang membawanya ke luar dari apartemen.


Hardy terlonjak dari tempat duduknya saat membaca pesan yang Rangga kirim.


Harun datang dengan wajah cemas setelah Hardy memanggilnya dengan tergesa-gesa.


Harun menghela nafas lega setelah mengetahui jika ternyata Hardy dalam keadaan baik-baik saja.


"Run kau perintahkan orang untuk mengawasi kondisi kakakku"perintah Hardy.


"Apa yang terjadi dengan tuan Hendy tuan?"tanya Harun yang kini kebingungan mendengar perintah Hardy.


"Kak Hendy terluka dan sekarang di bawa ke rumah sakit"jawab Hardy dengan wajah cemas.


Harun terdiam,entah terbuat dari apa hati tuan besarnya itu, setelah di sakiti berkali-kali oleh kakaknya sendiri namun ia masih saja perduli dengan keadaan kakaknya yang rupanya sedang terluka itu.


"Kita sudah mengirim orang untuk mengawasi kondisi di apartemen tuan Hendy, dan mereka akan mengirim informasi kejadian terbaru di apartemen"Harun menjawab dengan nada pelan dan penuh ke hati-hatian.


Hardy menatap Harun gusar.


"Lalu kenapa aku mendapat berita ini justru dari Rangga, bukan dari orang-orang suruhan kita"pertanyaan telak dari Hardy membuat Harun terdiam.


Drrt drrt.


Harun melihat ponselnya yang bergetar, rupannya orang kepercayaannya baru sempat mengirimkan informasi setelah sebelumnya mengamankan Hendy terlebih dahulu dan memberikan pertolongan pada luka di tangannya sebelum dokter pribadi mereka datang.


Hardy menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Harun menggaruk kepalanya, sejak kapan suami nona mudanya itu meretas apartemen tuan Hendy, batin Harun.


Rangga mematikan laptopnya, di lihatnya Shanum tampak begitu nyenyak dalam tidurnya, dengan perlahan Rangga membaringkan tubuhnya di samping Shanum.


Terdengar dengkuran lembuh dari mulut mungil Shanum yang sedikit terbuka, rupannya aktifitas sehari ini begitu menguras energinya, batin Rangga.


Di tatapnya wajah polos gadis yang kini sudah tidak perawan lagi itu.


Tidurlah yang nyenyak sayang, aku selalu di sisimu, gumam Rangga.


Cup cup cup.


Rangga menghujani wajah mungil Shanum dengan bebepapa kecupan ringan.


Kenapa kau begitu menggemaskan sayang.


Cup.


Rangga seakan tak sadar telah mengganggu tidur Shanum dengan kecupan yang tak ada hentinya ia lakukan.


Shanum menggeliatkan tubuhnya saat sentuhan lembut menghujaninya.


"Ehhmmp".


Rangga menghentikan aktifitasnya, lalu memejamkan matanya kala Shanum tampak menggeliat karena ulahnya.

__ADS_1


Shanum membuka matanya lalu memandang Rangga yang tampak nyenyak dalam tidur.


Kamar yang hening membuat bulu halus di tengkuknya meremang.


Shanum menoleh ke kanan tempat tidurnya, Jika Rangga telah terlelap, lalu siapa yang mengganggu tidurnya dengan sentuhan-sentuhan lembut di sekujur wajah dan kepalanya, batin Shanum bergumam.


Rangga menyamarkan senyumnya saat melihat Shanum kebingungan.


Perlahan Rangga memalingkah tubuhnya berbalik membelakangi Shanum, tubuhnya bergetar menahan tawa.


Sementara Shanum dengan ragu mendekati Rangga dengan perlahan.


"Sayang, apa kau sudah tidur"Shanum berbisik di telinga Rangga, berharap suaminya masih terjaga hingga bisa menemaninya ke kamar kecil.


Rangga diam tak menjawab Shanum, namun sekuat tenaga ia rapatkan giginya agar tawanya tak lepas.


"Sayang "kembali Shanum memanggilnya pelan dan...


"Derrr"


"Whuaaahh ayahhh".


Teriakan Shanum begitu keras saat Rangga mengagetkannya dengan suara yang tiba-tiba menggelegar di sisi telinganya.


Pletaak.


"Ah aaawwkk kenapa kau memukulku sayang"Rangga mengusap punggungnya yang menjadi sasaran empuk saat Shanum menepuknya memakai remot AC.


"Kenapa kau mengagetkanku, ku pikir kau sedang terlelap tidur"jawab Shanum yang baru menyadari bahwa pukulan remotnya sedikit keras.


Rangga tersenyum masam sambil mengusap punggungnya yang terasa sedikit pegal.


"Apa sesakit itu pukulanku?"tanya Shanum penuh sesal.


Rangga mengangguk dengan mimik wajah penuh drama.


Shanum kini ikut mengusap punggung Rangga lembut.


"Maafkan aku"


"Heemm"jawab Rangga singkat, membuat Shanum kini gundah, tak biasanya suami tercinta memasang wajah tak ikhlas saat memberinya maaf.


Shanum perlahan mendekati Rangga dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Sayang, maafkan aku, aku tak sengaja menyakitimu, aku tak tahu jika ternyata pukulanku terlalu keras"Shanum kini semakin di buat bingung dengan sikap Rangga.


"Sayang, apa kau ikhkas memaafkan kesalahan istrimu ini?"tanya Shanum dengan netra bening menatap Rangga dengan wajah memelas.


"Cup emmphh"Rangga menarik Shanum dalam rengkuhannya.


Di belainya lembut rambut hitam terurai lalu mengecupnya lembut.


"Aku yang harus minta maaf padamu"Rangga menatap netra bening yang kini tampak kebingungan.


Shanum pun membulatkan mulutnya saat Rangga menceritakan kejahilannya, tak percaya rasanya jika seorang Rangga yang terkenal sedingin beruang kutub bisa berbuat se receh itu.

__ADS_1


__ADS_2