
Saat dalam mode fokus, Rangga sungguh terlihat semakin menawan berkali-kali lipat.
Tah henti Linda melirik ke arah lelaki di depannya, sambil mengunyah menikmati makan siang yang di bawa karyawannya.
Perlahan langkah Linda mendekati Rangga, tangannya menyorongkan sendok berisi salad tuna ke arah mulut Rangga.
"Pak Rangga, cobalah makanan ini, resep yang baru kami ciptakan."
Rangga terperanjat melihat apa yang Linda lakukan.
"Ah t tidak usah bu, saya sudah makan siang tadi."
Tolak Rangga dengan halus, namun Linda bersikeras untuk tetap menyuapkan sendok ke arah mulutnya.
"Coba dulu pak, ini racikan saos yang baru kami ciptakan" bujuk Linda.
Tak dapat menolak permintaan Linda, akhirnya Rangga pun melebarkan mulutnya dan menerima suapan dari wanita sexy itu.
Tertegun Rangga dengan rasa saos tuna yang di katakan Linda adalah resep terbaru.
Dengan mengangguk pasti Rangga tersenyum puas.
"Enak, sungguh pas untuk di padukan pada bahan ikan laut" ucap Rangga.
Merasa tujuannya semakin mendekat, Linda pun kembali menyuapi Rangga dengan jenis hidangan lain yang di bawanya.
"Bagaimana pak, apa masakan ini pantas jika kami meng ekspornya?"
Rangga tertegun, "Wah, luar biasa, tentu saja sangat pantas bu, karena saos ini menurut saya akan dapat di terima oleh lidah siapapun, baik orang asia maupun eropa, memangnya negara mana yang akan ibu tuju untuk ekspor nanti?"
"Ehm kami baru akan mengirimkan ke beberapa negara tetangga sebagai sample, jika memang mereka menyambut baik tentu saja akan kami perluas lagi daerah tujuan lain" terang Linda antusias.
"Ayo pak habiskan, dan juga ada beberapa bungkusan yang bisa bapak bawa pulang agar keluarga juga ikut merasakan lezatnya makanan ini" sambungnya.
Rangga dengan wajah polos tetap menyambut suapan tangan Linda yang kini sudah berdiri dekat di sampingnya.
Ceklek.
"Bos ini ada file..." David tertegun di tempatnya berdiri.
Wanita yang sudah mengacaukan hari nya kini tengah santai mendulang atasannya, bahkan jarak tubuh mereka yang lekat menimbulkan bara di dadanya kini menyala.
"M maaf" David tertunduk lesu.
Beberapa hari menahan siksaan rindu, namun ternyata dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan sang wanita sedang berdampingan mesra sambil menyuapkan makanan ke arah bosnya yang sudah mempunyai istri.
Meski sikap Rangga terlihat biasa namun Berbeda dengan Linda, rona wajah dengan senyum mendamba begitu terlihat jelas dari sorot matanya.
__ADS_1
Lalu apa artinya malam panas yang telah mereka lalui kemarin, batin David.
"Ada apa Vid?" tanya Rangga santai dengan tangan masih fokus pada laptopnya.
"Ah tidak bos, nanti saja saya akan kembali setelah... bu Linda ...selesai makan.." ujar Pria itu terbata namun matanya tajam ke arah Linda.
"Oh oke" jawab Rangga.
David keluar ruangan dengan dada bergemuruh, ada rasa nyeri di hatinya.
Memang saat ini perasaan David belum bisa di katakan cinta, tapi baginya, wanita yang telah menghabiskan malam istimewa bersamanya adalah wanita spesial yang kini menepati hati David.
Meski kenyataan berbeda, karena ternyata Linda tak pernah sedikitpun menaruh hati bahkan setelah David mengambil mahkota berharga miliknya.
Kenapa dada ini terasa sakit, batin David sambil menepukan tangan di dada.
Dengan lembut dan tanpa sungkan Linda mengusap sisi bibir Rangga yang terkena lelehan saos.
Hatinya girang bukan main karena lelaki itu tampak diam menerima perlakuan hangatnya.
"Oke bu Linda notulen sudah saya copy dan sudah saya kirim lewat email"
"Oh terima kasih banyak pak."
"Saya yang harusnya berterima kasih pada bu Linda karena sudah di beri kesempatan untuk menikmati makanan enak ini"
Sepanjang perjalanan pulang Rangga yang memperhatikan David tampak diam di balik kemudinya.
"Lu kenapa Vid?"
"Ehm tidak apa-apa pak, kenapa memangnya?"
"Hari ini lu jadi pendiem, sakit gigi?"
"Tidak."
David menjawab singkat, kegundahan hatinya apakah harus ia katakan pada bosnya itu, sedangkan orang yang ia pikirkan tampak tak perduli padanya, bahkan setelah malam panas mereka lalui.
"Masuk dulu Vid, kita makan bareng, tadi bu Linda ngasih tester produk yang mau di lounching untuk ekspor."
"Ehm terima kasih pak, saya langsung pulang saja"
Rangga mengangguk dengan menaikan satu alisnya heran, sikap David tampak sedikit berubah.
David mengangguk hormat setelah menurunkan Rangga di depan mansion.
"Sayang baru pulang" Shanum menyambut di depan pintu mansion.
__ADS_1
Rangga tertegun, dengan baju terusan tanpa lengan, memperlihatkan perutnya yang makin membuncit, menambah tampilan Shanum sangat menggemaskan.
Perlahan tangan Rangga mengusap perut sang istri dengan lembut, lalu mengecupnya perlahan.
"Aku punya oleh-oleh, kamu pasti suka."
"Heum apa itu?"
Rangga merangkul sang istri dan mengajaknya masuk.
"Bi, tolong siapkan ini di meja makan?"
"Baik Den"
Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Rangga pun ikut bergabung dengan Shanum di meja makan.
"Cobalah, aku sudah memakannya tadi di kantor?" Rangga menyorongkan sendok berisi potongan Tuna dengan saus original yang Testafood buat.
Shanum membulatkan matanya.
"Sayang ini sungguh enak, dari mana mereka menciptakan saus se enak ini, sungguh sangat pas buat saus salad tuna ini" terang Shanum yang berkali-kali mengecap saus di lidahnya.
Rangga tersenyum puas " sudah ku duga kau akan menyukainya."
Senyum puas terlihat dari wajah Shanum dengan kedua tangan mengusap perutnya yang buncit.
Rangga pun senang melihat Shanum begitu menikmati masakan dari Testafood, mungkin ia harus mengucapkan banyak terima kasih pada bu Linda.
Sementara itu, Linda tersenyum lebar saat pesan teks masuk dari Rangga.
Ucapan terima kasih atas makanan darinya membuat sang istri bahagia.
Cih untuk saat ini kubiarkan istrimu puas menikmatinya, karena suatu saat nanti kau yang akan ku puaskan, pak Rangga.
Seringai lebar dari bibir Linda bagai seringai srigala yang lapar.
Di lihatnya rekaman vidio yang di ambil secara sembunyi saat kebersamannya dengan Rangga siang tadi, kamera kecil yang di pasang di tas yang di bawanya.
Dengan pengambilan engle yang tepat maka adegan itu terlihat sangat romantis.
"John gue ada tugas buat elu, rekaman yang gue kirim tolong lu edit sehalus mungkin, lu tahu kan maksud gue?" titah Linda tegas.
"Siap bos, akan saya laksanakan, kaoan bos akan gunakan rekaman tersebut?"
"Ah untuk saat ini gue hanya ingin menyimpannya dulu, hingga suatu saat nanti, setelah rekaman lain gue dapat, tentu saja yang lebih panas dan menegangkan."
Lelaki bertampang klimis itu tersenyum smirk, kali ini sang bos rupanya sedang tergila-gila pada pria beristri dan rekaman yang ia dapat suatu saat akan di gunakan sebagai senjata untuk memisahkan sang lelaki dan istri sah nya, John membatin dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Cinta memang buta.