
Hana tersenyum melihat putra sulungnya makan dengan lahap,setelah membantunya di kebun membuat tenaga Rangga terkuras habis ,peluh pun membanjiri pelipisnya .
Dua hari sudah Rangga selalu menyibukkan dirinya dengan berkebun membantu ibunya ,ia tak ingin meluangkan waktu sedikitpun untuk memikirkan Shanum .
Pagi setelah bangun tidur dan membersihkan diri ,Rangga bergegas berangkat ke kebun entah mengerjakan apa pun ,bahkan bu Hana di buat terheran-heran dengan sikap anak sulungnya itu yang seakan tak punya lelah .
Hana pulang mendahului Rangga yang masih asik dengan memindahkan beberapa bibit sayuran ke dalam polibag yang di letakannya di sekeliling rumah ,jika musim penghujan tiba jalan menuju kebun akan sangat licin ,dengan menanam sayuran dan meletakannya di dekat rumah memudahkan bagi Hana untuk memetiknya dan tak perlu harus ke kebun .
Rangga baru menyelesaikan aktifitasnya setelah hari menjelang sore .
Sebuah tas ransel telah di siapkannya untuk perjalanan esok paginya ,sudah lama Rangga tak mengunjungi sahabatnya ,mungkin jika cuaca memungkinkan ,ia akan mengunjunginya dan berangkat sebelum matahari terbit esok hari.
Di rebahkan tubuhnya di kasur sederhana namun sangat nyaman bagi Rangga .
Di lihatnya ponsel yang terletak di sampingnya,tak ada satupun pesan atau notif dari Shanum .
__ADS_1
"Kenapa aku masih memikirkanmu saat di mana kau tak sedikitpun ingin mendengar kabar dariku Sha.."
Di pejamkan matanya erat ,bahkan harum wangi tubuh gadis itu masih tertinggal di kasur itu.
"Mau naik kak?"tanya Ardi sehabis sholat subuh dan melihat Rangga telah bersiap dengan tas ransel dan peralatan untuk mendaki .
"Hmm ,hanya ke bukit di depan "jawab Rangga .
"Hati-hati kak,cuaca lagi sulit di prediksi"
"Kak sudah pamitkah sama ibu ?"
"Aku nggak akan berangkat kalau belum pamit sama ibu Ar"Rangga menoleh adiknya .
"Oohhh ,hati-hati kak"Ardi kembali mengulang nasehat pada kakak satu-satunya,meski tak mengatakan tapi Ardi tahu jika saat ini Rangga sedang kalut ,entah apa itu,dan seperti biasa Rangga akan menenangkan diri dengan menyendiri menikmati alam ,sudah banyak gunung yang ia taklukan bahkan perbukitan di desa itu sudah menjadi tempat Rangga bermain untuk mengisi hari di saat libur kerja.
__ADS_1
Cuaca mendung tak menghalangi langkah Rangga yang telah memasuki tepian hutan .
Dari jauh terlihat sisa puing rumah tua dimana ia pertama kali bertemu dengan Shanum,rupanya rumah itu telah roboh atau mungkin sengaja di robohkan .
Tempat di mana Shanum dengan tubuh terikat dan penuh luka .
Gadis kuat dan tegar,itulah yang pertama kali Rangga lihat pada sosok Shanum ,meski tubuh penuh luka bahkan nyawa pun terancam namun wajahnya tak sedikitpun memperlihatkan rasa takut atau cemas .
Rangga menghela nafas berat ,puing-puing reruntuhan berserakan ,bahkan sudah penuh di tumbuhi rerumputan liar,rumah yang tak berpenghuni karena hanya merupakan rumah singgah bagi para pekerja di hutan lindung itu.
Gerimis kecil yang jatuh dari tadi pagi kini semakin lebat .
Sebuah terpal sisa reruntuhan dan beberapa sisa kayu Rangga gunakan untuk membuat gubuk kecil darurat sebagai tempat berteduh ,Rangga memutuskan untuk tidak meneruskan pendakian ,karena akan sangat ber resiko tinggi ,kabut yang turun setelah hujan akan sangat mengganggu perjalanannya .
Beberapa menit telah berlalu meski hujan telah reda namun tetesan air masih mengalir dari sela dedaunan,sebelum kabut semakin lebat Rangga memutuskan untuk berputar arah dan segera pulang sebelum hari semakin gelap.
__ADS_1