
Kencan pertama ini Rangga mengajak Shanum dinner di sebuah restoran mewah, setelah searching di laman pencarian, dinner adalah pilihan terbaik untuk mereka yang baru pertama melakukan kencan.
Shanum dengan tenang duduk di kursi yang berhadapan dengan suaminya.
Seorang pelayan datang membawa hidangan pembuka.
Adonan tepung yang di goreng berisi irisan sayuran kecil dan udang besar tertata penuh aestetic.
Rangga memandang Shanum dengan wajah bingung, lalu menoleh pada pelayan yang kini sudah pergi.
"Kenapa sayang?"tanya Shanum dengan nada pelan.
Rangga menunjuk piring yang ada di hadapannya.
"Kenapa?"tanya Shanum tak mengerti.
"Ini cuma di kasih bakwannya satu doang"bisik Rangga dengan mimik wajah penuh heran.
Shanum terkikik pelan.
"Namanya appetizer, hidangan pembuka yang di hidangkan sebelum hidangan utama di sajikan, jadi porsinya memang segini"jelas Shanum.
"Hish kalau gorengan seperti ini mah banyak di warung bang ujo, satu harganya seribu lima ratus"Rangga memotong gorengan yang di sebutnya bakwan itu dengan sedikit gemas, kenapa harga gorengan satu bisa berharga puluhan ribu, jika di warung bang Ujo bisa dapet bakwan dua puluh"Rangga berujar dengan nada geram saat suapan terakhir bakwan mahal itu masuk ke mulutnya.
"Rasanya juga nggak beda jauh"protesnya lagi, Shanum hanya tersenyum, memang inilah mungkin kali pertama Rangga makan di sebuah restoran mewah.
__ADS_1
Seorang pelayan kembali datang membawa hidangan utama.
Kali ini Rangga meneliti hidangan yang baru pertama kali di lihatnya itu.
"Sayang, makanan apa yang kau pesan ini"tanya Rangga pelan karena pelayan masih berada di dekat mereka.
"Ayam mozzarella"jawab Shanum singkat tak ingin Rangga kembali memberondongnya dengan pertanyaan konyol yang membuat kepalanya seakan mau pecah.
"Ohh".
Rangga ber oh ria sambil matanya terus menelisik bentuk yang bernama ayam namun sama sekali tak seperti yang ada dalam otaknya.
"Paha..bukan, sayap juga bukan, kepala apa lagi pasti bukan, mana ayamnya?"Rangga membagi makanan di atas piringnya menjadi potongan-potongan kecil berharap ada bentukan daging ayam yang di lihatnya.
"Sayang makanlah, kenapa kau acak-acak seperti itu?"Shanum sedikit kesal dengan tingkah Rangga.
Tak memerlukan waktu lama bagi Rangga untuk menghabiskan hidangan utama berbahan ayam itu.
Shanum tersenyum senang, karena kali ini tidak ada drama protes harga yang tidak sesuai.
"Enak juga, eh tapi nggak mahal kan?"sontak Shanum membulatkan matanya karena kalimat Rangga terdengar sedikit keras.
"Ssttt, jangan keras-keras bicaranya, malu di dengar orang"bisik Shanum dengan mata melirik ke arah pengunjung lain yang berada tak jauh dari mereka.
Rangga hanya memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
Tiba saatnya hidangan penutup.
Mata Rangga tak lepas dari hidangan imut dan cantik di atas piringnya.
Agar-agar warna warni dengan toping buah strawberry terlihat segar.
Shanum tersenyum mendengar Rangga bergumam bahwa di piringnya adalah agar-agar.
Syukurlah hidangan terakhir tidak lagi banyak drama.
"Kita langsung pulang?"tanya Shanum karena jam menunjukan pukul sembilan lebih.
"Kita nggak jadi nonton nih?"tanya Rangga karena menurut rencana, kencan pertama ini adalah dinner lalu nonton di bioskop, biar kaya pacaran orang lain.
Mereka berhenti di depan restoran.
Gerimis kecil mulai turun, Rangga kembali memakaikan topi bulat ke kepala Shanum.
"Sayang ini gerah"protes Shanum hendak membuka kembali topinya, namun di tahan tangan Rangga.
"Cantikmu nggak boleh di lihat orang lain"ucap Rangga, posesifnya mulai keluar karena ia memergoki beberapa kali para pria menatap ke arah Shanum dengan tatapan penuh kagum.
"Ish"Shanum tak dapat menutupi kekesalan hatinya, namun ia juga tak bisa protes pada apa yang Rangga larang.
Dengan senyum senang, Rangga merangkul pinggang ramping Shanum.
__ADS_1
"Sekarang kita pulang, untuk kencan kali ini kukira cukup, masih banyak waktu untuk kita menikmati masa pacaran ini"ucapan Rangga di balas dengan cibran bibir Shanum.
"Tapi kencan berikutnya aku yang pilih temoat makan dan menunya"ujar Rangga dengan nada tekanan karena hatinya masih geram, makanan berharga mahal tapi tidak ada nasi nya.