
Lebih dari satu jam Daren menunggu sang ayah ke luar dari ruang kerjanya.
Meski saat ini Shanum sudah ada yang lebih berhak menjaganya namun hati kecil Daren tak dapat di bohongi, rasa penasaran tentang bagaimana keadaanya saat ini.
Bisa saja ia menghubungi dan menanyakan langsung pada Shanum namun Daren tentu saja masih menghargai suaminya yaitu Rangga.
Ceklek.
Mata Daren seketika berbinar cerah, tatapan penuh harap pada sosok yang muncul dari ruangan kerjanya.
"Ehm hmm, belum tidur kau Ren?"
Tanya Darmawan begitu keluar dari ruangan dan mendapati sang putra berada di ruang tengah sedang menonton televisi.
Begitu jarang Darmawan melihat Daren menghabiskan waktu dengan menonton siaran di televisi.
"Ehm belum ngantuk Yah" Daren melihat ke arah sang ayah yang terlihat lelah.
Darmawan menuju ke kamar tidurnya tanpa memahami sang putra yang telah begitu lama menunggunya hanya untuk mengetahui kabar Shanum.
Daren tampak kesal, kenapa otaknya tak mampu bekerja sama untuk mencari alasan apa yang harus ia katakan agar sang ayah memberitahu kabar tentang putri sahabatnya itu.
"Yah, ehm" Daren menggaruk kepalanya yang tak gatal, membuat Darmawan berpaling melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.
"Ada apa Ren, apa kau ingin mengatakan sesuatu?".
"Ehm, bagaimana kabar putri om Hardy, ehm maksudku Shanum, apakah dia baik-baik saja?"
Darmawan menaikan kedua alisnya, rupanya sikap tak biasa Daren karena ia hanya ingin mengetahui kabar Shanum.
"Oh, ehm kabar dia sudah lebih baik Ren, hanya saja.."
"Hanya apa Yah?" entah kenapa hati Daren begitu panik saat kalimat sang ayah yang begitu menggantung.
"Ehm dia hanya perlu lebih banyak beristirahat di rumah karena memang kondisi kandungannya yang lemah, jadi kemungkinan Shanum akan berhenti sementara menjadi CEO sampai anak mereka lahir."
Darmawan merasa trenyuh melihat putranya yang ternyata masih perduli dengan keadaan gadis yang sempat singgah di hatinya.
**************
Sementara itu, pagi hari di mansion terjadi adegan penuh dramatis.
Rangga bersikeras untuk berangkat kerja ke kantor karena memang tubuhnya sudah terasa segar kembali, sementara Shanum tetap kekeuh pada permintaanya agar Rangga tetap berada di mansion.
"Sayang aku sudah sehat, lihatlah tubuhku sudah bugar kembali" Rangga memperlihatkan otot bisepnya yang keras dan menonjol.
__ADS_1
Shanum menggelengkan kepalanya dengan mata tetap tak merelakan kepergian Rangga.
"Bolehkan sehari lagi kau ijin sayang, aku akan bicara dengan ayah" ucap Shanum dengan wajah memelas.
"Tidak, aku harus berangkat sayang, tak enak dengan karyawan lain, baru saja aku di angkat menjadi wakil CEO dan sudah berapa kali aku ijin, lagian nggak enak juga aku pada ayah Hardy sayang, mentang-mentang sudah menjadi menantunya kini kerja se enaknya."
Shanum me manyunkan bibirnya, memang benar ucapan suaminya itu.
"Baiklah kau boleh berangkat, tapi jangan lupa di minum obatnya" pesan Shanum tegas .
Ranggapun mengangguk dan merengkuh wajah Shanum.
Cupp.
Kecupan lembut mendarat di bibir Shanum.
"Kau juga harus makan bekalmu" Shanum menyerahkan tas kecil berisi bubur yang sengaja Shanum pesankan pada bibi untuk membuatnya sebagai bekal.
"Oke bos, siap laksanakan" Rangga menaruh tangannya di atas pelipis dengan gaya hormat.
"Kalau perutmu terasa tak nyaman lagi, segera pulang" lanjut Shanum lagi.
"Heum." Rangga hanya ber dehem ringan.
"Sayang ingat semua pesanku, jangan kau makan sembarangan."
Rangga mengecup puncak kepala sang istri berharap bisa menghentikan kalimat-kalimat penuh dengan larangan, pantangan dan perintah yang harus ia taati, karena itu semua untuk kebaikannya sendiri
"Sayang hari ini kau jangan lembur dulu."
"Oke" Rangga mengacungkan jempol tangannya sambil melangkah ke arah mobilnya.
"Sayang hati-hati di jalan."
"Iya sayangku cintaku mmuaach bye"
"Hufff" Rangga kini dapat bernafas dengan lega, lalu menjalankan mesin mobil menuju tempat kerjanya.
Meski tubuh yang masih sedikit sempoyongan Rangga berjalan perlahan memasuki ruangannya.
Semangatlah Ngga, tunjukan kualitasmu, masa hanya gara-gara sambal kau jadi tumbang.
Rangga merutuki nasibnya, yang terpaksa rela menerima jarum suntik yang menancap di tangannya karena harus di infus agar tubuhnya yang lemas kembali segar.
Tok tok tok.
__ADS_1
"Ya masuk"
David muncul dari pintu dengan senyum ramah.
"Selamat pagi pak, saya kira pak Rangga hari ini tak masuk kerja lagi" sapa David ramah.
"Heumm, bosen di rumah terus Vid, nggak ada pemandangan bagus" jawab Rangga santai.
David mengerutkan alisnya, benarkah mempunyai seorang istri secantik CEO Shanum, masih kurang baginya, batinnya.
Kesadaram David bagai di hempaskan ke dasar jurang, saat Dika saudaranya mengatakan bahwa Rangga adalah suami dari CEO Shanum, wanita yang membuat semangatnya bekerja menggebu setiap hari.
Pertama kali Dika menawarkan padanya lowongan sebagai asisten wakil CEO, sama sekali tak di gubris oleh David sampai akhirnya ia melihat dengan mata kepala sendiri di internet setelah ia mencari lewat aplikasi embah buyutnya, siapa CEO dari perusahaan besar yang sedang membutuhkan seorang asisten wakil CEO.
Wajah cantik dengan kepintaran di atas rata-rata, David akhirnya mau menerima tawaran Dika tanpa mengetahui status terbaru CEO nya itu.
Untunglah David masih dapat mengontrol perasaannya setelah tahu bahwa wanita yang menjadi penyemangatnya ternyata sudah memiliki suami.
Namun kini kenapa hatinya merasa kesal pada atasannya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya merasa bosan di rumah karena tak ada pemandangan yang menarik, lalu kurang menarik apalagi jika seorang Shanum masih belum bisa membuatnya betah di rumah.
"Gimana kerjaan lu Vid?"
"Ehm, lumayan sibuk pak, tapi masih bisa saya atasi" jawab David tenang.
"Bagus, tak salah memang Dika mengajukanmu di sini."
Rangga bernafas panjang, tubuhnya masih terasa limbung jika di gunakan untuk berdiri lama.
"Oiya Vid, tolong kau periksa di office depan apa data dari klien sudah datang, karena sore nanti harus aku kirim kembali jawabannya pada mereka."
David pun mengangguk lalu melangkah ke luar dari ruangan.
Masuk nya bos, bukannya kerja gue jadi ringan malah sebaliknya, makin banyak nih tugas numpuk.
Sementara Rangga memandang setumpuk map di atas mejanya yang sudah siap ia periksa, map berisi data penting yang harus di tanda tanganinya karena David hanya mendapat tugas untuk mengeceknya saja.
"Semangat Ngga, ingat anak istri sedang menunggumu di rumah" Rangga bermonolog sendiri.
Dua sudut bibirnya terangkat saat mengingat kalimat yang baru saja ia ucapkan' anak istri'.
Sungguh indah dua kata itu, tak sabar ia untuk segera menyelesaikan setumpuk map di hadapannya itu.
Pulang kerja, sang istri nan cantik jelita menyambut di depan pintu mengenakan daster rumahan dengan perut buncit, ahhh bagaimana kabarmu sayang, membayangkan saja sudah membuatku begitu ingin cepat pulang, batin Rangga.
"Ish, kenapa tak di angkat" runtuk Rangga saat beberapa kali panggilannya tak di angkat oleh Shanum.
__ADS_1
"Sayang angkat telfon nya, apa kau sangat sibuk hingga tak sempat untuk mengangkat panggilanku????" tanya Rangga lewat aplikasi hijau di ponselnya.
Baru beberapa jam kita berpisah, tapi kenapa aku begitu merindukan kalian wahai anak dan istriku.