Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Syarat Dari Hana


__ADS_3

Rangga masih diam menunggu reaksi kedua sahabatnya itu, ia tak ingin kesalah pahaman ini terus berlanjut yang akhirnua bisa merusak hubungan persahabatan yang terjalin selama ini.


Sementara David masih tertunduk dengan wajah murung.


Tak mengira jika hari bahagianya kemarin menjadi bumerang di hari ini.


Merasakan kehangatan sebuah keluarga sungguh sangat mahal bayarannya, pikir David.


Tak ada sedikit pun niat bagi David untuk mencari muka apalagi berniat menghianati Rangga.


Namun ternyata banyak yang iri pada kedekatannya dengan bos nya itu, hingga menghasut Danu dan Dika saudaranya.


Sebenarnya David pun menduga jika dua kembar saudaranya tidak akan menganggapnya sejelek itu jika tanpa ada hasutan dari orang lain.


Rangga meninggakan ruangan tanpa memperdulikan lagi kedua sahabatnya itu.


Entah apa yang ada di pikiran mereka, selama tak ada yang di rugikan maka ia tak akan ambil pusing.


Biarlah mereka akan sadar sendiri bahwa apa yang mereka pikirkan semuanya adalah salah.


"Vid, tolong kau teruskan pekerjaanku, dan sudah ku buatkan data sebagai acuan agar kau tak bingung."


Rangga berucap datar dan di ikuti David yang dengan wajah masih tertunduk mengekornya di belakang.


Danu dan Dika saling pandang, entah yang sudah di perbuatnya adalah satu kesalahan yang kini membuat Rangga bersikap dingin pada mereka.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Dika pada Danu.


"Entahlah, akupun bingung."


Sementara David kini yang sudah sampai di ruangannya langsung memeriksa berkas untuk meneruskan evaluasi yang Rangga tugaskan untuknya.


Akan membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya.


Ada ratusan data karyawan yang harus di evaluasi, untung lah Rangga sudah menuntaskan lebih dari separuhnya, dan David pun bisa meneruskan dengan benar karena Rangga sudah membuatkan data sebagai acuan.


Rangga beberapa kali merilik ke arah David yang fokus pada tugasnya, pemuda yang cerdas dan jujur, juga berumur sepantaran dengan Ardi sang adik.


Karena itu Rangga sudah menganggapnya seperti adik sendiri, meski David belum lama menjadi asistennya.


"Sudahlah jangan kau pikirkan ucapan mereka, anggap saja mereka iri pada kedekatan kita."


David menatap Rangga intens, kalimat receh yang membuat hatinya meng hangat.

__ADS_1


Hidup sebagai anak tunggal dengan kedua orang tua yang selalu sibuk, membuat David tak pernah merasakan kehangatan kasih sayang dari orang tuanya.


Karena itu Danu dan Dika yang selalu menghiburnya bahkan David sering menginap di rumah mereka.


Kini sikap Rangga yang sebagai bosnya begitu lembut dan hangat, sungguh beruntung David mempunyai atasan seperti Rangga.


David hanya mengangguk hormat dan menatap kepergian Rangga dengan tatapan haru, di balik sikapnya yang datar dan cuek, ada kehangatan dan penuh perhatian yang sangat jarang ia perlihatkan pada karyawan lain, apalagi saat dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, ia begitu lembut memperlakukan sang istri bagai seorang ratu.


Rangga juga sangat romantis pada sang istri, dan masih lekat di ingatannya betapa mempesonanya seorang Shanum, dengan pesona yang bagai menghipnotisnya, bahkan sang ibu mertua sangat menyayangi menantunya itu.


Ingin rasanya David berandai-andai untuk mendapatkan seorang istri seperti Shanum.


Drrt drrttt.


"Makan siang nggak usah keluar, ibuku masak banyak dan sudah di jalan untuk nganterin makanan ke sini."


David tersenyum membaca pesan dari Rangga, lalu kembali meneruskan pekerjaannya setelah membalas pesan sang bos.


Rangga pun ke ruangannya setelah meeting selesai, sang ibu sudah sampai di lobi perusahaan untuk mengantarkan makan siang.


Senyumnya mengembang karena ia sudah tak sabar memakan hidangan ibunya yang sudah lama tak ia nikmati.


David yang mendapat tugas untuk menjemput Hana di lobi pun segera menuju lift.


Haisss sungguh lancang hatinya yang tak tahu diri dan menjadi salah tingkah sedangkan dia adalah milik bosnya sendiri, David membatin sambil merutuki kebodohannya.


Ting.


Panel lift terbuka, David melangkah dengan gugup, di edarkan pandangan ke ruang lobi dan matanya berbinar saat melihat wanita paruh baya sedang duduk di sofa panjang sendirian.


Entah kenapa hatinya kini mencelos, rupanya nona CEO nya tidak ikut datang bersama ibu mertuanya.


"Selamat siang bu, mari saya antar ke ruangan bapak Rangga." David menyapa dengan membungkukkan badannya sopan.


Hana sempat tertegun melihat David yang bersikap sangat formal,namun ia sadar kini mereka sedang berada di kantor.


"Ehm baiklah terima kasih" ucap Hana.


Keduanya pun ke lantai atas.


Rangga tersnyum dan menyongsong sang ibu lalu memeluknya erat.


"Maaf kalau ibu terlambat datang, ibu harus membujuk istrimu dulu agar tidak ikut ke kantor."

__ADS_1


Rangga mengangguk paham, Shanum memang sedang di larang untuk terlalu banyak beraktifitas.


"Baiklah ayo makan, ibu bawa banyak sekali makanan, mana lagi temanmu Ngga, apa hanya David?"


Hana menoleh ke David, dan hanya di balas senyuman masam oleh pemuda manis tersebut.


Hana menata piring hingga memenuhi meja, David tampak mengamati dengan penuh haru, tak pernah ia mendapat perhatian yang begitu besar dari orang lain bahkan orang tua nya sendiri.


"Ayo Vid, kita makan, biar kita hanya berdua , tadi Danu dan Dika sudah ku hubungi tapi mereka sudah terlanjur pergi ke kantin" jelas Rangga.


David pun kembali mengangguk mengerti.


Hana tersenyum melihat putranya dengan lahap memakan masakannya, namun David terlihat tak begitu berselera, wajahnya pun terlihat murung tak seperti saat kedatangannya ke mansion kemarin.


Hana kembali ke mansion setelah Rangga dan David menyelesaikan makannya.


Ada rasa sesak di dadanya setelah Rangga menceritakan semua tentang David.


Sebagai seorang ibu , tentu akan ikut merasakan sakit hati jika mengetahui pemuda seumuran putra bungsunya hidup dalam kesunyian tanpa ada kasih sayang dari orang tua kandungnya sendiri.


Senyum manis Shanum menyambut kedatangan ibu mertuanya, bagai seorang anak yang sedang menunggu ibunya pulang dari pasar, ia begitu girang dan bahagia, menyongsong Hana dan memeluknya erat.


"Ibu lama, aku sampai berakar menunggumu bu."


Hana tersenyum dan menoel puncak hidung Shanum.


"Bu kapan kita jalan-jalan ke mall?" Shanum bertanya penuh harap.


Hana tertegun, menantunya begitu berhasrat ingin pergi ke mall dengannya, apa gerangan yang membuatnya begitu ingin pergi ke sana.


"Baiklah ibu mau pergi denganmu tapi dengan syarat."


Shanum mentap ibu mertuanya intens.


"Syarat apa bu?"


Hana terdiam di tempat duduknya, kondisi Shanum yang sedang hamil muda tidak di perbolehkan untuk terlalu banyak bergerak apalagi yang bisa membuat tubuhnya lelah.


Lalu bagaimana jika keinginanya adalah jalan-jalan ke mall.


Hana tak tega menolak ajakan menantu kesayangannya itu, dan tanpa sepengetahuan Shanum sepulangnya dari perusahaan, ia membeli sebuah kursi roda agar bisa di pakai Shanum untuk bepergian tanpa harus merasa kelelahan.


"Kau harus pakai ini."

__ADS_1


__ADS_2