
Tok tok tok.
"Bu Linda, ini baju pesanan dari bu Lexa sudah datang" David mengetuk pintu kamar mandi dengan keras karena sudah lebih dari satu jam Linda berada di dalam.
"Tolong taruh di depan pintu pak."
"Baik bu, tapi tolong cepatlah ibu keluar, dingin kalau lama berada di kamar mandi."
"Iya pak."
David menghela nafas, entah apa yang membuat Linda mengurung di kamar mandi begitu lama, apa dia marah, batinnya, tapi suara wanita itu terdengar biasa saja.
Ceklek.
Linda keluar dari kamar dengan dres sebatas lutut, tanpa lengan, terlihat cocok di tubuhnya, karena Lexa tahu ukuran baju sahabatnya itu.
Langkahnya sedikit aneh dengan pipi sedikit mengembung pertanda rahangnya sedang mengatup rapat menahan sesuatu.
"Kita pulang sekarang atau gimana bu."
Linda menatap David kesal, sekuat tenaga ia menahan rasa perih di area inti nya karena apa yang di lakukan David sungguh membuat tubuhnya terasa remuk.
"Kita pulang saja."
Sahut Linda singkat, di jawab anggukan oleh David.
Dasar lelaki tak berperasaan, andai saja miliknya tak sebesar itu, pasti tak akan se sakit ini, geramnya.
David melangkah perlahan di samping Linda.
wanita itu berjalan dengan langkah tertatih, bahkan sesekali desisan halus keluar dari bibirnya menahan rasa perih di bagian inti nya.
"Maafkan saya bu."
David berbisik di telinga Linda dan meraih tangan wanita itu agar langkahnya sedikit normal setelah di tuntun olehnya.
"Saya tuntun bu."
Linda tak protes saat David menggenggamnya erat, sejenak Linda tertegun, apakah perlakuan lembutnya karena rasa sesal karena apa yang telah ia lakukan padanya, batin Linda.
Tentu saja ia bersikap begitu baik, setelah merenggut mahkotaku paling berharga, Linda membatin geram.
__ADS_1
Wanita itu tertegun saat sebuah mobil sedang hitam terparkir di depan lobi, karena mobil itu lah yang di pakai Rangga jika berangkat ke kantor.
Kenapa ada mobil pak Rangga, pikir Linda.
Jika sekarang dia berada di hotel ini, kenapa tidak menampakan diri.
David pun membuka pintu penumpang lalu menuntun Linda dengan perlahan agar duduk di samping kemudi.
Sialan, karena anda pak, saya jadi seperti wanita habis melahirkan, umpat Linda namun dalam hati.
Dengan perlahan David melajukan mobil bosnya itu ke sebuah alamat tujuan Linda kali ini.
Sengaja Linda tak langsung ke rumahnya karena kakaknya akan marah besar jika mengetahui adiknya baru pulang dini hari, apalagi andai tahu apa yang telah menimpa adik kesayangannya.
Apartemen megah yang terlihat sepi karena memang Linda jarang menempatinya.
"Maaf bu, sebaiknya saya langsung pamit, hari sudah larut, dan anda pun harus istirahat" David berucap sopan.
Linda tertegun, lelaki yang sudah merenggut mahkotanya masih saja menaruh hormat padanya.
Linda mengangguk pelan, iapun sebenarnya merasa lelah, hati dan pikirannya masih belum sepenuhnya pulih.
Dengan alasan meminjam mobil untuk kepentingan darurat Rangga pun mengirimkan sekaligus dengan supir jika David membutuhkannya.
Namun karena David akan mengembalikan mobil besok seusai kerja supir pun ia suruh pulang.
Seperti biasa, rumah besarnya terasa dingin, pembantu yang biasa bertugas membersihkan sudah pulang saat hari menjelang senja.
Di hempaskan tubuhnya di atas sofa panjang.
Kedua orang tua yang selalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, meski hidup berkecukupan, David merasa kesepian di rumah ini, rumah tanpa kehangatan seperti keluarga lain, senyum David mengembang saat teringat makan malam di mansion tuan Hardy.
Meski mereka semua orang sibuk namun mereka masih menyempatkan diri untuk menikmati makan malam bersama-sama.
Sungguh seperti itulah keluarga yang David impikan.
Tak harus muluk-muluk, seminggu sekali saja mereka bertemu dalam satu meja dan menikmati hidangan masakan yang ibunya masak, akan sangat bahagia hidup David.
Drrt drrt.
"Vid, lu di mana? Semuanya baik-baik saja kan?"
__ADS_1
Untuk sesaat hati pemuda itu menghangat, atasanya begitu perhatian padanya.
"Vid, lu ngelunjak ya, pesan gue sudah lu baca tapi nggak lu jawab, mau gue pecat, anak buah sialan!!"
David tersenyum membaca umpatan bosnya.
"Baik bos, saya sudah ada di rumah dengan aman."
"Coba gue lihat selfi lu sekarang."
"Ck saya tidak biasa swapoto bos."
"Hmm, nangtangin lu ya!!"
Ishh kepo banget si lu bos, David bermonolog sendiri, untung cuma elu satu-satunya bos gue, kalau ada banyak, udah gue pecat lu bos.
Cekrek.
"Poto apaan itu, ngapain poto meja lu kirim ke gue."
Bos sialaaaan.
Cekrek.
"Ha ha ha ..jelek juga lu, ya udah tidur sono, gue mau terusin enak-enak sama istri tercinta."
Ingin David membanting ponsel saat itu juga ke muka atasannya yang songong itu.
Dengan polosnya mengatakan akan bermesraan dengan istri cantiknya, membuat jiwa jomblo David meronta.
Apalagi kini memorinya memutar kembali adegan panasnya dengan Linda yang penuh bergelora.
Tak di sangka meski itu adalah untuk pertama kali dan mereka lakukan karena terpaksa, ******* dan rintihan Linda terlihat begitu menikmatinya.
Tak di pungkiri David pun terlena, surga dunia yang selama ini hanya dalam impian ternyata begitu indah, adegan yang sering di lihatnya lewat layar monitor, kini sudah di alaminya.
"Ahh ****..."
Umpatan David keluar saat senjatanya kembali mengeras.
Mungkinkah ia harus menghalalkan bu Linda.
__ADS_1