Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Yang Terbuang


__ADS_3

"Dari mana saja kamu sayang, pesan mommy nggak kamu balas, panggilan juga nggak kamu angkat, apa kamu ingin mommymu ini jantungnya berhenti humm?".


Maharani merangkul putra kesayangannya setelah dua hari tak ada kabar berita.


"Maaf mom, aku ingin istirahat"jawab Joy lesu.


Maharani hanya mengerutkan kedua alisnya melihat tingkah aneh sang putra.


Joy melangkah ke dalam kamarnya dengan lunglai, lalu membaringkan badannya di ranjang besar miliknya, lelah tubuh tak se lelah hatinya, melihat sang pujaan telah sah menjadi istri orang.


Jika bersamanya memang membuatmu bahagia, aku rela melepaskanmu Sha, meski rasa cintaku lebih dalam darinya, gumam Joy lirih.


Senyum dari bibir tipis Joy terbit kala teringat saat pertama kali ia rasakan bibir lembut dan k****l milik Shanum.


Meski c***** ringan yang Joy lakukan saat Shanum dalam ke adaan tak sadar, namun membuat hatinya begitu berbunga, andai Shanum sadar dan mengetahui apa yang telah di perbuatnya mungkin ia akan sangat membencinya.


Biarlah hanya aku akan mengingatnya sebagai ciuman terindahku bersamamu, batin Joy dengan mengusap bibirnya lembut dengan jarinya.


Maharani hanya mengusap dadanya, ia tahu kekecewaan yang sedang di alami Joy.


Kemarin Maharani mendapat kabar dari anak buahnya bahwa Joy secara sembunyi-sembunyi mendatangi mansion di mana Shanum mengikat janji dengan suaminya.


Dan kejadian yang tak terduga membuat Shanum akhirnya mengalami kecelakaan dan ternyata dalang di balik semua kejadian yang menimpanya adalah kakak dari ayahnya sendiri.


Rupanya harta dan jabatan, membuat hubungan darah seakan tak ada artinya lagi, batin Maharani.


Ceklek.


Maharani menghela nafas lega, setelah melihat kini Joy terbaring dengan nafas teratur.


"Istirahatlah putraku, hadapi hari esok dengan semangat, dia memang bukan tercipta untukmu, lupakanlah dia karena kau berhak bahagia"Maharani memejamkan matanya dan air bening pun lolos dari sudut matanya.


Ia tahu seberapa besar rasa cinta yang Joy miliki untuk Shanum.


Dengan perlahan Maharani menutup kembali pintu kamar Joy.


Sementara di tempat lain, di salah satu ruangan sebuah rumah sakit.


"Sayang, apa kau sudah tidur?" bisik Shanum pada Rangga yang terbaring di sofa panjang di sebelahnya.

__ADS_1


"Hmm, ada apa?"jawab Rangga dengan mata terpejam namun ternyata belum tidur.


"Bagaimana pekerjaan di kantor?"tanya Shanum singkat namun membuat Rangga membulatkan matanya.


"Untuk apa kau tanyakan itu, saat ini tak ada yang lebih penting dari kesehatanmu, biarkan ayah Hardy dan asisten Harun yang mengurusnya"jawab Rangga ketus.


"Tapi aku merasa bersalah saat meeting penting kemarin aku tak bisa hadir"ujar Shanum memandang Rangga dengan wajah penuh sesal.


"Sayang, apa kau tak percaya pada ayahmu sendiri, asisten Harun pun tidak dapat di pandang remeh kemampuannya, dan aku akui itu"Rangga menjawab dengan penuh penekanan.


"Huumm"Shanum memandang Rangga mencari kebenaran tentang ucapan lelaki itu.


"Andai pun ada masalah dalam hasil meeting kemarin, tentu ayah sudah memberitakan padamu sayang"Rangga bangkit dari sofa nya dan berjalan ke arah ranjang shanum.


Shanum memandang Rangga yang kini sedang memandangnya tajam.


"Eh, m mau apa kamu?"tanya Shanum panik saat jarak mereka semakin terkikis karena Rangga kini memajukan wajahnya tepat di hadapan Shanum.


"Aku mau melihat wajah cantik istriku ini, begitu banyak kah waktu luangmu hingga memikirkan hal yang tak penting"ujar Rangga tenang dengan tatapan tajam dan senyum smirk.


"Tapi itu kan..."Bibir Shanum tak dapat meneruskan kalimatnya saat jari telunjuk Rangga menutupnya rapat.


"Sstt, apa perlu aku membuatmu sibuk agar perhatianmu dapat teralihkan?"


"Dengar ya Nyonya, saat ini tak ada hal yang lebih penting dari kesehatanmu, andai ada pun itu pasti tentang suamimu yang sedang merana karena belum juga menikmati belah durennya"kalimat frontal yang keluar dari mulut Rangga membuat Shanum kini panas dingin.


Cupp.


Bibir Rangga mendarat sempurna di bibir Shanum.


Meski dalam ke adaan lemah dan wajah pucat, namun tetap selalu berhasil membuat Rangga selalu ketar ketir menahan gejolak di dadanya.


Duh sampai kapan aku dapat menahan siksaan ini ya Tuhan?, tolong sudahi cobaanmu? Sembuhkan dia, aku ingin membahagiakan dia, batin Rangga.


Kecupan yang semula ringan dan hangat, kini berubah berbeda, gerakan b**** Rangga dengan lembut menyapu benda k***** Shanum dengan deru nafas semakin memanas, meski masih kaku, Shanum kini semakin dapat mengimbangi hasrat Rangga, untunglah setelah Rangga mengganti bajunya, Shanum menyempatkan diri untuk membersihkan gigi dan mulutnya hingga masih terasa segar aroma mint dari pasta gigi yang di pakainya.


"Emmphh"Rangga melepas p********, jarinya mengusap sisa saliva di bibir Shanum.


"Kenapa setiap kali ku c***, selalu berubah merah wajahmu sayang?"pertanyaan konyol membuat Shanum kesal.

__ADS_1


"Kenapa?"


Shanum menggelengkan kepalanya, rasanya begitu malu saat menyadari matanya yang terpejam menikmati aksi l****** bibir Rangga yang bermain n***l dalam mulutnya.


"Kau masih malu pada suamimu ini?"tanya Rangga.


Shanum mengangguk ragu.


"Kalau begitu, kita harus melakukannya lebih sering lagi, agar kau terbiasa dan tidak merasa malu lagi pada suamimu sendiri" jawab Rangga lalu kembali menyatukan bibirnya dengan b**** mungil Shanum yang kini selalu ingin ia rasakan lagi dan lagi.


Merasa tak puas Rangga menekan tengkuk Shanum agar memperdalam p********, merasa aksinya tak mendapat perlawanan, Rangga menggigit kecil b**** bawahnya, Shanum yang merasa sedikit perih pun membuka m****nya membuat Rangga dengan leluasa mengakses r****a mulut Shanum.


Ruangan yang ber AC ternyata kini berubah memanas, Rangga melepas c***** panasnya sebelum semua tak terkendali, sementara bagian inti tubuhnya kini telah menegang sempurna, nafas keduanya saling beradu panas.


"Maaf"Rangga melangkah cepat ke kamar mandi.


Shanum kini hanya bisa mengedipkan kedua matanya, kenapa tiba-tiba Rangga menyudahi kegiatan panas mereka, apa Rangga marah karena sampai saat ini belum juga dapat menikmati malam pertamanya, berbagai pertanyaan mengganggu kepalanya.


Sementara di ruangan berukuran dua kali tiga, Rangga menghidupkan shower dan memulai aksinya untuk menuntaskan hasrat yang hingga kini belum tersalurkan.


"Sshhhh aaaggrhhh"******* kecil keluar dari mulut Rangga saat larva hangat keluar dari bagian inti tubuhnya.


Meski kejadian itu memalukan baginya, tapi itu lebih baik setidaknya ia masih bisa menunggu beberapa hari lagi agar sang Anacondanya bersarang pada tempatnya.


Ceklek.


Dengan perlahan Rangga membuka pintu kamar mandi, hatinya lega saat melihat Shanum terpejam dengan nafas teratur.


Dengan berjingkat, Rangga melangkah menuju sofa.


"Untung dia sudah tidur, kalau tidak, mau di taruh di mana mukaku yang ganteng ini,"gumam Rangga sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.


Nafas Shanum terdengar lembut, Rangga menarik selimut dan menutupnya ke tubuh Shanum.


Cup, kecupan hangat di dahi Shanum.


Istirahatlah, dan cepatlah kau sembuh, karena kau harus bertanggung jawab pada calon anak kita yang telah terbuang sia-sia, batin Rangga penuh sesal.


💗💗💗

__ADS_1


Pemanasan dulu sebelum belah duren 😘😘


Semoga lulus sensor 🙏🙏🙏


__ADS_2