Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Kau Hanya Miliku


__ADS_3

Rangga memandang wajah Shanum dengan gemas, wajah manis yang kini berwarna merah bagai kepiting rebus akibat ulahnya.


Shanum masih memejamkan matanya, masih terlihat jelas guratan ketegangan di wajahnya.


"Sayang, sudah selesai, atau kau mau aku lanjutkan lagi dengan bagian bawahmu?"bisik Rangga.


Shanum membuka matanya dan tampak gugup.


"Tolong bantu aku, aku mau ke kamar mandi"pinta Shanum.


Rangga pun segera memapah Shanum ke kamar mandi.


"Sudah, tunggu di sini"Shanum menahan dada Rangga yang akan ikut masuk dengannya ke kamar mandi.


"Tapi kamu belum kuat berjalan sayang, dokter juga ngelarang kamu untuk tidak berdiri terlalu lama"ujar Rangga.


"Tidak aku hanya sebentar"sahut Shanum lalu dengan perlahan menutup pintu kamar mandi, tinggal Rangga yang kini menggaruk kepalanya yang tak gatal, bagaimana besok belah duren kalau sampai saat ini pun Shanum masih menolak jika Rangga memberikan perhatian ekstra.


Shanum menggigit bibirnya, bagaimana mungkin Rangga yang ia ketahui selalu bersikap lembut dan hangat, kini terlihat begitu modus.


Setelah membersihkan dan mengganti bajunya, Shanum pun segera beranjak dari kamar mandi, karena kepalanya pun masih terasa berdenyut jika menggunakan kakinya untuk berjalan.


"Sudah sayang"Rangga meraih tangan Shanum lalu menuntunnya menuju brangkar untuk kembali berbaring.


"Sshhhh"Shanum mendesis pelan karena pening di kepalanya makin terasa.


"Kenapa sayang, apa kepalamu masih terasa pusing?"tanya Rangga panik.


Shanum mengangguk dan memejamkan matanya.


"Apa ku panggilkan dokter?"


Shanum menahan tangannya di udara.


Rangga lalu mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut lalu membaringkannya perlahan.


Cup cup.


Kecupan hangat mendarat berkali-kali di kening Shanum.


"Tidur lah, aku di sini"Rangga duduk di samping brangkar, meski ranjang pasien itu lebar dan cukup untuknya ikut berbaring di sisi Shanum, namun Rangga tak ingin jika pergerakannya justru membuat sang istri tak nyaman.


Lambat laun Shanum merasa nyaman dengan usapan lembut Rangga, nafasnya kian teratur.


Andai aku dapat memindahkan sakitmu ke dalam tubuhku, aku rela sayang, Rangga menggumam dalam hati, perih rasanya melihat Shanum masih terbaring menahan sakit.


Rangga melihat ponselnya karena merasa getaran di saku bajunya.


"Bagaimana keadaan Shanum Ngga,?"tanya Devon dari seberang.


"Sudah membaik, besok perban di bahunya akan di ganti, hanya kepalanya masih terasa pusing jika habis berjalan"jawab Rangga.


"Kenapa kau biarkan Shanum berjalan?"tanya balik Devon dengan emot tanda tanya tiga biji.


"Dia bersikeras ke kamar mandi sendiri".jawab Rangga pun di akhiri emot tanda seru.


"Apa tidak memakai kursi roda?"kembali tanya Devon, membuat Rangga menautkan alisnya.

__ADS_1


Ish cerewed sekali kau tuan, dia sudah menjadi istriku untuk apa kau masih memperdulikannya, geram hati Rangga.


"Shanum bersikeras ingin berjalan sendiri, karena jarak ke kamar mandi hanya beberapa langkah"Rangga mengetik cepat dengan gigi merapat dan rahang mengembung.


"Apa tidak kau bopong istrimu?"kini rahang Rangga semakin mengeras.


Ingin rasanya ia memotong jempol tuan Devon agar tak bisa lagi mengetik dan mengirimkan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya konyol.


Sudah tentu Rangga sebagai seorang suami akan melakukan yang terbaik untuk istrinya.


Dan tidak perlu ada campur tangan orang lain, apalagi dari mantan tunangan.


"Maaf ada dokter datang berkunjung hp akan saya simpan"jawaban Rangga akhirnya lalu mematikan ponsel dan menaruhnya kembali di saku bajunya.


Drrrt drrt.


Belum lima menit ponselnya kembali bergetar.


Rangga tetap acuh karena mungkin itu adalah panggilan dari Devon.


Drrt drrt.


"Aiisshhh"


"Apa lagi.."ucapan Rangga terhenti saat sapaan suara yang ia kenal.


"Eh Samsul, lu di mana, nggak masuk kerja nggak ngasih kabar, mentang-mentang kawin sama CEO, enak-enakan lu ya nikmatin pengantin baru nggak inget kerjaan" berondongan kalimat dari Kevin memekakkan telinganya.


"Ish pelan napa, gue lagi di rumah sakit"bisik Rangga menjauh dari brangkar.


"Hah, rumah sakit? Siapa yang sakit, bukan elu kan, apa nona Shanum, eh gila lu ye, parah lu Ngga, ampe berapa ronde lu sampe bikin bini lu masuk rumah sakit, parah lu"umpatan Kevin kini membuat emosinya kembali naik.


"Hah kecelakaan gimana, tapi bini lu nggak apa-apa kan?"tak puas dengan jawaban Rangga, kini Kevin bertanya lewat pesan.


Rangga menghela nafas panjang.


Kalau tidak di jawab pasti Kevin terus memberondonginya dengan berbagai pertanyaan lain.


"Ada dokter datang mau cek kondisi Shanum, gue matiin hp nya"jawab Rangga lalu me non aktifkan ponselnya.


Darah kini bagai mendidih panas hingga ke ubun-ubun, jika tadi tuan Devon memberondonginya dengan pertanyaan, masih Rangga maklumi.


Namun kali ini, Kevin sahabat karibnya sendiri kenapa tiba-tiba begitu protektif pada Shanum.


Awas saja kalau mereka macam-macam di belakangku, umpat Rangga namun ia ucapkan dengan rahang terkatup rapat.


"Sayang, telfon dari siapa?"Shanum yang mendengar gumaman Rangga menoleh ke arahnya.


"Hmm, tuan Devon menanyakan keadaanmu"jawab Rangga jengah.


Shanum menatap bingung suaminya.


"Lalu kenapa wajahmu murung?"


"Ada orang lain lagi yang menanyakan kondisimu".Rangga kini sewot.


"Yang lain apanya?"

__ADS_1


"Selain tuan Devon, ada lagi pria lain yang menanyakan kabarmu"jawab Rangga mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tak rela rasanya jika ada lelaki lain yang memberi perhatian pada istri imutnya itu.


"Siapa?"tanya Shanum.


"Teman satu kontrakanku".


"Oohh"Shanum hanya ber oh ria.


"Lalu kenapa sekarang wajahmu murung, bukankah kau seharusnya merasa senang jika ada orang ikut memperhatikanku"tanya Shanum masih tak merasakan aura wajah Rangga yang kian terbakar karena rasa posesifnya.


"Tidak, tidak boleh ada lelaki lain yang memperhatikanmu lebih dari aku, kau hanya miliku sayang"Rangga mendekatkan wajahnya ke arah Shanum dengan posesif.


Netra hitam bening dengan bulu mata lentik kini tepat di depannya.


Shanum menggigit bibir dan menarik nafasnya dalam, agar kegugupannya terurai.


Rangga yang makin hari makin posesif kini tersulut emosinya.


Sudah cukup ada satu bocah ingusan yang kemarin mengakunya sebagai suami Shanum, kini datang dua pria lagi yang begitu memperhatikan kesehatannya.


Rangga semakin memajukan wajahnya, hanya satu cara agar mereka menghargainya sebagai satu-satunya suami Shanum.


Buat dia hamil, senyum smirk terbit dari bibir Rangga.


Bagai mendapat jawaban atas persoalan yang membelitnya selama ini.


Rangga menatap gemas pada Shanum yang tengah menggigit bibirnya untuk menutupi kegugupan hatinya.


Kenapa kau megitu menggemaskan istriku, gumam Rangga menatap lekat wajah tirus di hadapannya.


Jarak yang hanya lima senti membuat Shanum dengan jelas merasakan hembusan nafas Rangga.


Rangga mencium lembut bibir mungil sang istri, sapuan bibirnya kini berubah kian menuntut, Rangga meraih tengkuk Shanum untuk memperdalam l*********, bibir k***** yang kini begitu membuatnya semakin candu untuk menikmati lembut dan manisnya.


Bukan hanya b**** Rangga yang bergerak kian menuntut, satu tangannya bahkan kini dengan perlahan membelai lembut dagu Shanum, gerakan-gerakan lembut yang berganti semakin tak terkendali.


Deru nafas kedua insan yang tengah di pacu asmara yang membara membuat suasana ruangan yang dingij kini semakin terasa panas.


Entah sejak kapan, kini Rangga sudah berada di atas brankar di sisi tubuh Shanum.


Kecupan yang tadinya ringan dan lembut kini semakin panas dan menuntut.


Shanum yang kini bagai hanyut dalam belaian dan sapuan lembut bibir Rangga kini tampak pasrah kala gerakan lembut tangan kekar mulai merambah area dadanya, bahkan ******* lembut kini lolos dari bibir mungil itu.


"Ssshhhh" Rangga melepas p****** nya.


Dengan lembut jarinya mengusap sisa saliva di bibir Shanum.


"Cepatlah sembuh, atau kita lakukan saja di sini"bisikan Rangga yang terdengar parau karena menahan hasrat yang membuncah di kepalanya.


Shanum pun menghela nafas panjang, pahanya jelas merasakan ada yang telah mengeras menempel dan menuntut untuk di tuntaskan.


"Sabarlah sayang"jawab Shanum pun sama terdengar menahan sesuatu yang kini membuat jantungnya seakan hendak meledak.


Rangga melepaskan kungkungannya, dan melangkah ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang terpaksa masih tertunda.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Solo lagii solo lagi.


__ADS_2