
Rangga mematikan lampu kamarnya ,setelah beberapa hari bergabung dengan Devon ,wijaya Corp semakin menunjukan kemajuan,harapan tak terlalu tinggi karena Rangga hanya ingin agar ia kembali bekerja dengan nyaman .
Meskipun beberapa hari ini ia belum dapat bertemu dengan Shanum namun ia tak lagi merasa gundah gulana karena hatinya yang ketar-ketir mengingat Shanum akan bertemu dengan kedua orang tua Devon ,namun ternyata dugaannya salah karena Shanum tetap berada di negara ini untuk tetap mengawasi situasi perusahaannya yang belum sepenuhnya stabil .
Dengan langkah pasti ,Rangga menuju ke perusahaan Wijaya Corp ,setelah tidur malam yang lumayan cukup ,membuat badan Rangga terasa segar dan mungkin karena suasana hatinya yang tak lagi murung setelah mengetahui bahwa CEO Wijaya Corp .masih selalu standby di kantornya .
"Pagi Nu ,pagi Dik?"sapa Rangga pagi ini ,sontak kedua kembar beda prinsip itu pun terheran-heran di buatnya ,entah sarapan apa pagi ini hingga membuat Rangga nerubah menjadi mahluk yang ramah tak seperti biasanya dingin dan datar .
"Ehmm pagi juga Ngga ,sehat kau Ngga?"tanya Danu balik.
"Tentu saja,seperti yang kau lihat ,aku segar bugar "Rangga mengedikan bahunya dengan senyum masih ceria.
"Syukurlah jika sehatmu tak hanya lahir ,tapi batinmu pun ku harap begitu juga "ujar Danu lagi ,membuat orang yang di maksud pun terbengong karena tak paham dengan maksud dan tujuan ke arah mana yang Danu harapkan .
"Sudahlah jangan ambil pikir,nih ada berkas yang harus kau serahkan pada Nona Shanum "Rangga pun melangkah dengan semangat empat lima menuju ke ruangan CEO dengan membawa berkas yang di maksud .
Pintu ruangan CEO terbuka perlahan ruangan yang tak begitu luas namun terkesan hangat dan nyaman ,Anggrek bulan menghiasi berbagai sudut membuat ruangan tampak cantik dan elegan .
Rangga melangkah perlahan setelah Harun sang asisten mempersilahkannya untuk langsung memasuki ruangan .
__ADS_1
Rangga memindai ke seluruh ruangan setelah melihat kursi CEO yang tampak kosong ,namun nihil .
Dari keterangan asisten Harun bahwa sang nona CEO masih berada di ruangan ,Rangga melihat pintu kamar kecil tertutup namun suasana hening tak terdengar tanda-tanda aktifitas di kamar kecil itu .
Hati kecil Rangga menuntunnya ke arah kamar kecil tersebut karena hanya kamar itulah ruangan yang tak terlihat .
Seandainya Shanum tidak berada di dalam ruangan tentu Harun pun tak memintanya untuk langsung masuk ke ruangan ,debaran jantung Rangga semakin bergerak cepat,bayangan menakutkan terlintas dalam benaknya ,apa yang terjadi dengan nona CEO nya ,suasana hening kian lama kian membuat Rangga semakin cemas .
Tok tok tok .
Dengan cepat Rangga mengetok pintu kamar kecil ,namun tak ada sahutan .
Tok tok tok .
"Nona Shanum ,apakah anda di dalam "Rangga memperkeras teriakannya dengan tangan mengetok pintu keras .
"Egghhhhh...."terdengar erangan lemah dari dalam ruangan .
"Shaaa....buka pintunya cepat "Rangga panik bukan main ,suara Shanum terdengar sangat lemah .
__ADS_1
Rangga menempelkan satu sisi telinganya ke arah pintu berharap Shanum kembali bersuara ,namun hanya keheningan .
Braaaaaakkkkk
Rangga menendang pintu dengan kekuatan penuh ,namun pintu kokoh itu sama sekali tak bergerak.
BraaakÄ·kkk.
Kembali Rangga mendorong pintu namun kini ia menggunakan satu sisi bahunya .
Asisten Harun yang mendengar suara keras terdengar dari dalam ruangan pun segera memasuki ruangan ,dan iapun terkejut bukan main saat melihat Rangga tampak bersimbah peluh sedang berusaha mendobrak pintu kamar kecil .
"Maaf tuan Rangga ,apa yang anda lakukan "asisten Harun bertanya panik .
"Nona Shanum di dalam pingsan "Jawab Rangga masih berusaha mendobrak pintu kamar kecil ,meski usahanya tampak sia-sia karena pintu kamar kecil itu yang terbuat dari bahan material bukan kaleng-kaleng .
Harun segera berlari keluar ruangan ,nafas Rangga tampak tersengal ,butir keringat mulai keluar membasahi kemeja nya .
"Ini ..."Harun menyerahkan kunci cadangan yang ia simpan di loker meja nya .
__ADS_1
"Hah"ingin rasanya Rangga meninju asisten Harun ,setelah tulangnya terasa remuk karena menghantam pintu kamar kecil itu kini dengan enteng Harun menyerahkan kunci duplikat dengan wajah merasa tak berdosa sama sekali .
"Kenapa tidak dari tadi kau bilang samsuuuul "geram Rangga dalam hati dengan perasaan dongkol tingkat dewa .