
Rangga memandang dengan senyum puas, sang istri masih terkulai lemas di pembaringan dengan tubuh polos hanya tertutup oleh selimut tebal.
Leher putihnya kini berhias warna merah karena hasil karyanya, seringai puas tersungging dari bibir Rangga, tak ada lagi yang akan berani memandangmu karena kau adalah miliku.
"Sayang bangun, sudah ku siapkan air hangat, kau mandi lah, lalu kita makan" bisik Rangga lembut di dekat telinga Shanum.
Shanum menggeliatkan tubuhnya di bawah selimut, meski tulang tubuhnya terasa remuk tapi rasa lapar di perutnya memaksa kedua matanya membuka.
"Jam berapa sayang?" tanyanya dengan suara serak.
"Jam sepuluh, kalu lapar kan? Kita makan malam dulu lalu tidur."
Rangga mengecup puncak kepala istrinya yang menyembul dari balik selimut.
Perlahan Shanum bangkit dan melangkah perlahan dengan selimut yang ia lilitkan ke tubuhnya.
Senyumnya mengembang saat bathub sudah terisi air hangat.
Tak lebih dari tiga puluh menit Shanum berendam lalu membersihkan tubuhnya.
"Kenapa wajahmu sayang?" tanya Rangga yang melihat wajah Shanum tampak kesal dengan bibir yang ia majukan membuatnya terlihat semakin imut.
Shanum menggeleng pasrah, dirinya sungguh tak sadar saat sapuan bibir suaminya akan berakibat fatal di kulit tubuhnya.
Kulit lehernya kini banyak terdapat bintik merah tua.
Entah apa yang ada dalam pikiran suaminya itu, dengan keadaan leher berbintik mana mungkin dirinya bisa keluar rumah.
Dengan setelan baju tidur, Shanum melangkah gontai keluar dari kamar mandi.
Tak ada satu baju pun yang memiliki model yang dapat menutup lehernya.
Rangga tersenyum gemas, dari sudut matanya ia melihat Shanum berkali-kali berusaha menutupi lehernya.
Keduanya melangkah ke ruang makan di mana sudah tersaji makan malam yang sudah tampak dingin.
"Maaf Non, Den, apa kalian mau makan sekarang? Bibi hangatkan dulu masakannya" bibi yang melangkah tergopoh menghampiri mereka.
"Ah tidak apa-apa bi, tidak usah di hangatkan lagi, toh nanti kalau sudah hangat kami juga akan meniupnya agar menjadi dingin kembali baru memakannya" jelas Rangga sambil menyiukan nasi ke piring miliknya dan piring Shanum.
"T tapi apa nanti perut Den Rangga dan Nona Shanum tidak sakit?."
"Ah tidak perlu Bi, kami akan makan sekarang" jawab Shanum cepat karena memang ia sudah sangat lapar.
Bibi tersenyum kikuk saat tak sengaja matanya menangkap leher nona muda mereka penuh dengan jejak cinta.
Shanum mengunyah makanan dengan cepat, kedua pipinya mengembung lucu.
__ADS_1
"Sayang kunyahlah dengan pelan, jangan buru-buru" ujar Rangga lembut.
"Kau yang membuatku merasa begitu kelaparan sayang." Shanum menjawab ketus.
Rangga tak melanjutkan lagi ucapannya, berdebat dengan seorang wanita yang sedang hamil dan lelaparan maka mustahil ia akan mengantongi kemenangan.
Setelah menghabiskan sepiring nasi dengan sup ayam dan capcay daging, membuat perut Shanum terasa penuh, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Dengan gerakan lembut, rangga mengusap perut buncit sang istri.
Karena malam yang memang sudah larut, keduanya pun kembali ke kamar.
Makan setelah melakukan olah raga panas membuat keduanya dengan cepat terlelap.
Pagi menjelang, Rangga membuka matanya perlahan, pelukan hangat Shanum di pinggangnya mengentikan gerakan tubuhnya.
Di pandangnya wajah polos yang masih terpejam rapat, meski tanpa make up, Shanum terlihat sungguh cantik, bibir mungil berwarna merah alami selalu berhasil membuat dadanya berdebar kencang.
Dengan gerakan selembut mungkin Rangga mengurai pelukan Shanum, jika saja ia tak ingat dengan tugasnya di kantor, ingin rasanya ia tetap berada di ranjang berdua dengan Shanum, menikmati pagi dengan santai bersama.
Waktu yang kian menipis membuatnya harus mandi dengan cepat.
Senyumnya mengembang, rupanya saat ia mandi, Shanum sudah terbangun dan menyiapkan baju kantornya.
"Sayang aku harus segera berangkat, tolong bilangin sama bibi, aku tak sempat sarapan, karena kau terlalu menggoda, aku jadi bangun kesiangan" bisik Rangga lalu mengecup puncak kepala sang istri dan melangkah bergegas berangkat ke kantor.
Dirinya sungguh tak dapat menolak saat dini hari tadi suaminya merengek minta ijin untuk menambah jam kunjungan menengok debay lagi.
Shanum hanya bisa menghela nafas panjang, bintik merah di lehernya bukannya berkurang, bahkan semakin bertambah banyak.
Bergegas Shanum ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, pagi ini ia ingin melemaskan tubuhnya dengan jalan santai.
"Pagi bi."
"Pagi Non, mau sarapan sekarang?"
"Ah nanti saja bi dan tolong buatin aku jahe madu hangat ya bi" ucap Shanum.
"Baik non"
Dengan jalan santai Shanum mulai mengitari mansion, anggukan satpam penjaga gerbang menyambutnya.
"Pagi Neng, mau olah raga ya" sapa salah satu satpam yang rupanya satpam pengganti karena satpam inti sedang ijin.
Shanum menatap sekilas pria berseragam navy sambil menganggukan kepalanya ringan.
Oh ayolah, aku yang perut buncit seperti ini di panggil dengan sebutan 'neng' dia pikir aku anak sekolah, batin Shanum.
__ADS_1
Untung saja suaminya sudah berangkat, kalau sampai ia melihat ada pria lain yang menggodanya, sudah pasti, ia yang akan menjadi sasaran kemarahannya.
Dan malam panjang pun akan berubah menjadi malam panas penuh rintihan dan *******.
Drrt drrt.
Shanum mengambil ponsel di kantung bajunya.
"Sayang, katanya Anah akan datang ke mansion, mau ngajak bikin rujak nanti siang" kalimat pesan dari Rangga membuat Shanum terpekik girang.
Bahkan tak sadar tubuhnya berjingkrak kecil.
Niat jalan santai beberapa kali putaran mengitari mansion ia batalkan.
Langakahnya cepat menuju dapur mansion.
"Bi, bibi..."panggilnya histeris.
"Iya Non, ada apa, bibi disini" jawab bibi yang ternyata sedang di taman.
"Ayo kita ke pasar Bi"
"Ke pasar? Memangnya Non Shanum mau beli apa?."
"Aku mau beli buah-buahan Bi, nanti siang Anah istri bang Asep mau datang, kita mau bikin rujak buah bersama" Shanum berteriak kegirangan.
Para bibi di mansion saling pandang.
"Non, sebaiknya Non Shanum buat daftar buah apa saja yang harus Bibi beli, nanti biar Bibi yang ke pasar, kami tidak mau Den Rangga marah lagi karena membiarkan Non Shanum belanja ke pasar sendirian, Bibi tidak mau mendapat murka Den Rangga lagi non."
Shanum terdiam sejenak, memang ucapan bibi tidak salah, itu semua karena mereka mengkhawatirkan keadaannya.
"Baiklah bi, tunggu sebentar, aku akan buat daftar belanjaan yang harus bibi beli nanti."
Shanum bergegas ke kamar, namun langkahnya terhenti.
Ia teringat akan bu Linda yang tampak begitu menyukai rujak buah, tentu akan senang jika ia mengajaknya ikut makan rujak, batin Shanum.
Tetapi ia pun kembali berfikir bahwa mungkin saja Bu Linda sedang sibuk dengan kerjaannya di kantor, batinnya lagi.
Sementara itu di ruangannya Linda tampak terus memijit pelipisnya.
Beberapa hari ini kepalanya sering terasa pusing, terkadang sembuh dengan sendirinya dan akan kembali datang di jam yang tak tentu.
Berkali-kali Lefrant sang kakak menganjurkan untuk berobat namun saat itu pusing di lepalanya akan hilang seketika.
Aneh tapi nyata, itulah yang sedang Linda rasakan.
__ADS_1