Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Do'a ku Slalu Bersamamu


__ADS_3

Shanum memandang pria yang terbaring di hadapannya dengan intens, hidung mancung dengan rambut alis yang tebal dan rahang tegas yang memperkokoh ke tampanannya.


Rasa tak percaya jika saat ini dialah yang akhirnya menjadi suaminya.


Teringat memori saat pertama kali berjumpa dengannya.


Sikap dingin dan cuek terlihat dari rona wajahnya, bahkan Shanum sempat di buatnya kesal saat Rangga membentaknya kala itu, namun di balik sikap dingin dan cuek nya, ternyata ada kelembutan yang terlihat jika saat berdua dengannya.


Gerakan telunjuk Shanum yang perlahan mengusap lembut puncak hidung Rangga.


"Bagaimana wajah suamimu ini hum, tampan kan?"kalimat berat keluar dari mulut Rangga yang masih terpejam, membuat Shanum terlonjak kaget.


"Eh ehm, kau sudah bangun?"tanya Shanum kikuk menutupi kegugupannya.


Rangga menarik sudut bibirnya membuat garis lengkung senyum manis.


Shanum segera bangkit dari tidurnya hanya dengan tubuh tertutup selimut yang ia lilitkan di tubuh polosnya lalu melangkah ke kamar mandi.


Rangga tersenyum puas memandang sang istri yang terlihat semakin menggemaskan saat salah tingkah.


Setelah beberapa menit Shanum keluar dengan jubah kimono dan rambut yang basah.


Rangga memandang lekat ke arah Shanum, pemandangan pagi yang menyegarkan, gumamnya lirih.


"Sayang cepatlah kau mandi, kita harus cepat sarapan sebelum ke gedung kejaksaan"ujar Shanum sambil tatapan matanya menghindar dari Rangga yang terus menatapnya tajam.


"Ehm hmm oke"Rangga dengan tenang bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah santai dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun menuju ke kamar mandi, Shanum yang melihat kejadian itupun terkejut dengan mulut yang mengangga dan mata membulat sempurna.


Dengan cepat shanum membalikan tubuhnya ke arah lain, sementara rona wajahnya pun memerah melihat tingkah absurb suaminya.


Sementara Rangga terkikik keras saat melihat tingkah sang istri dari sudut matanya.


Hmm sekarang saja kau merasa malu, tidak ingatkah dia, semalam tadi desahannya begitu panas, gumam batin Rangga.

__ADS_1


Tawanya pun pecah saat pintu kamar mandi telah ia tutup rapat.


Rangga berdendang kecil dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya, begitu gemas melihat wajah berwarna merah muda sang istri, tak tahan rasanya ingin kembali mengulang lagi dan lagi, malam panas yang begitu membuatnya ketagihan.


Sementara di depan cermin, Shanum menepuk-nepuk pipinya untuk meratakan bedak yang sekaligus mendinginkan wajahnya yang tadi terasa begitu panas.


Degub jantung yang belum sepenuhnya kembali normal membuatnya beberapa kali harus mengatur nafas panjang.


Dengan perona bibir pink natural yang terlihat serasi dengan baju kemeja putih yang Shanum kenakan.


Rangga kini keluar dengan celana bahan hitam dan kemeja biru langit lengan panjang dengan lengan yang di lipat sebatas siku, terlihat lebih dewasa dan berwibawa.


Shanum tersenyum puas melihat kedatangan Rangga yang telah rapih.


"Kita makan dulu di restoran bawah, ada menu sehat sudah tersedia di sana"ucap Rangga lalu menggandeng tangan Shanum dan keluar menuju lift.


Beberapa kali Shanum memandang jam di pergelangan tangannya.


Tiga puluh menit lagi sidang akan di mulai, sementara ayah Hardy belum juga datang.


Bukan tanpa alasan Rangga tetap merasa tenang, karena sudah dari beberapa menit yang lalu mertuanya sudah mengirimnya pesan bahwa saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung kejaksaan.


"Sudahlah sayang, ayah pasti datang sebentar lagi" Rangga berusaha menenangkan Shanum.


"Tapi ini sudah sangat meped waktunya, sementara ayah belum juga datang"Shanum membalas dengan sedikit ketus, membuat Rangga menaikan alisnya.


Tak biasanya sang istri berkata ketus padanya.


Tak ingin memperkeruh suasana, Rangga akhirnya kembali fokus pada laptopnya.


Shanum kini semakin kesal dengan sikap Rangga yang masih terlihat tenang.


"Ishh"Shanum mencebik kesal dengan tangan bersidekap memandang ke arah luar.

__ADS_1


"Tenanglah sayang, ayah sudah ada di kantor ke jaksaan beberapa menit yang lalu,mungkin belum sempat menghubungimu"Shanum memandang Rangga tak berkedip, di balik sikap tenangnya rupanya ia sudah mengetahui bahwa ayah sudah berada di kantor kejaksaan.


"Sayang, kenapa kau diam saja dan tidak memberitahukan padaku"Shanum menghampiri Rangga yang masih tetap tenang dengan laptopnya.


"Aku mendapat informasi dari beberapa orang yang aku perintahkan untuk mengawasi kantor tempat kita sidang nanti"mata Shanum semakin membulat mendengar penuturan Rangga.


Melihat fokusnya Rangga dengan laptopnya, barulah Shanum sadar, bahwa Rangga bisa dapat melihat dengan jelas situasi dan ke adaan yang terjadi di suatu tempat hanya lewat laptopnya.


Kemampuan Rangga dalam meretas CCTV tentu saja mempermudah kegiatannya.


Sementara di gedung kejaksaan yang sebentar lagi akan di adakan sidang, Hardy sudah bersiap dengan beberapa pengacara dan Harun tentunya yang selalu siap di sampingnya setiap Hardy membutuhkannya.


Sebenarnya Hardy sudah beberapa menit yang lalu sudah berada di gedung ini, ia ingin melihat Hendy dari dekat, keadaannya saat ini.


Hendy terlihat tenang melangkah ke dalam ruang sidang, tatapannya lurus ke depan.


Berbeda dengan Shanum, Rangga dengan erat memegang tangannya yang sedingin salju, bahkan keringat tampak keluar dari pori-pori di dahinya.


Dengan lembut Rangga mengusap pelipis istrinya dengan selembar tisu.


"Tenangkan hatimu, ada aku di sini"ucap Rangga lembut.


Rangga melepas Shanum yang kini harus duduk terpisah darinya di bagian depan.


Rangga membalas tatapan Shanum dengan senyum hangat dan anggukan kepala sebagai tanda semangat.


Shanum menghela nafas panjang, di tatapnya Hendy sekilas, pria yang akan ia kirim ke dalam jeruji besi.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat Shanum berkeringat dingin saat sidang berlangsung, bahkan menjelang putusan akhir sidang pun masih tegang.


Rangga yang melihat wajah Shanum semakin memucat pun kini menjadi cemas.


Bertahanlah sayang, kuatkan dirimu, do'a yang Rangga ucapkan dalam hati.

__ADS_1


Ingin rasanya Rangga berlari dan memeluknya erat, tak tega rasanya membiarkan Shanum sendiri dalam ketakutan dan kecemasan yang melanda hatinya.


__ADS_2