Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Tak Lebih Dari Tiga Detik


__ADS_3

Jangan lupa komen, vote dan hadiahnya ya😘😘😘


Jaga kesehatan kalian ,happy reading 🤗🤗.


💦💦💦💦


Rangga dan Shanum memasuki mansion pukul sebelas malam.


Penghuni mansion yang sebagian sudah tertidur membuat suasana terasa sepi.


"Non baru pulang, mau makan sekarang non, tuan?"tanya salah satu bibi senior yang rupanya masih terjaga karena sengaja menunggu kepulangan nona muda dan suaminya.


"Ehm, kita sudah makan bi, bibi istirahat saja, kami juga akan langsung ke kamar"Shanum memang terlebih dahulu mampir ke sebuah restoran untuk makan malam, tenaganya seakan terkuras habis setelah Rangga mengajaknya melakukan olah raga panas di rumah barunya.


"Baik non".


Shanum hanya mengganti bajunya dengan baju tidur, karena sudah mandi.


Kembali ia hanya dapat menghela nafas panjang, dengan kedua mata membukat setelah melihat hasil karya suaminya yang membuat tubuhnya sebatas dada ke bawah kini bagai corak batik totol-totol.


******


Pagi hari Rangga bangun lebih awal, ia ingin mempersiapkan dirinya lebih paripurna untuk berangkat ke kantor sebagai wakil CEO.


Beberapa kali Rangga berusaha mengatur nafas untuk menguasai kegugupannya.


Hardy yang melihat tingkah aneh menantunya pun tampak heran.


"Kamu kenapa Ngga?"tanya Hardy di meja makan.


"Ehm, tidak apa-apa yah".


"Lalu kenapa kau hanya sarapan sedikit, apa badanmu tidak enak?"sambung Hardy.


"Dia hanya gugup Yah, ini hari pertama kalinya dia akan bekerja sebagai wakil CEO"Shanum menjawab dengan senyum manis dan memandang Rangga.


Rangga hanya diam dengan senyum masam.


"Tenanglah, jika ada yang belum kau mengerti bisa kau tanyakan pada istrimu, atau Harun atau langsung padaku"ucap Hardy bijak.


"Baik yah"jawab Rangga singkat.


Mereka pun berangkat bersama, Rangga mengemudikan mobilnya masih dengan sedikit bicara.


Shanum paham dengan apa yang Rangga rasakan karena dirinya pun pernah berada di situasi yang sama seperti itu.


Dengan langkah tenang Shanum berjalan di samping Rangga, meski mereka telah resmi menikah tapi masih banyak karyawan yang belum mengetahui hal itu.


"Selamat pagi Nyonya Shanum, Tuan Rangga".


Sapaan hormat dari satpam di pintu lobi perusahaan di balas dengan anggukan senyum dari Shanum, sementara Rangga tetap memasang wajah yang masih tegang.

__ADS_1


"Mentang-mentang sudah naik jabatan jadi wakil CEO, sombong amat "batin satpam yang hanya terpaut beberapa tahun usianya dengan Shanum.


Rangga memasuki ruangan khusus untuknya yang berada di samping ruangan Shanum.


Sengaja Hardy menyiapkan satu ruangan yang sama besar dengan milik Shanum untuknya.


Ruangan yang dahulu di gunakan untuk menyimpan data dan berkas-berkas, Hardy sulap menjadi ruangan wakil CEO yang kini Rangga tempati.


Rangga menghela nafas panjang, sendiri di satu ruangan besar dengan furnitur berkualitas tinggi sungguh bukan impiannya.


Itu bahkan terlalu tinggi dari mimpinya.


Hari pertama tak ada tugas penting, hanya beberapa point yang harus di lakukan agar Rangga dapat menyesuaikan diri, karena tugas wakil CEO tidak berbeda jauh dengan sang CEO itu sendiri, seorang wakil harus selalu siap mewakili CEO jika sedang berhalangan data ke sebuah rapat penting atau kunjungan rutin ke perusahaan cabang maupun rekan kerja sama nya.


Dengan langkah pasti, Rangga berniat untuk menuju ke ruang Shanum untuk menanyakan beberapa point yang belum di pahaminya.


Meski sebenarnya ada hal lain yang lebih penting baginya, yaitu menjumpai sang istri.


"Tuan, anda mau kemana"tiba-tiba asisten Harun memanggilnya saat langkahnya sudah berada di depan pintu ruang CEO.


"Ehm, aku mau menemui Shanum ..ehm Nyonya Shanum, ada hal yang aku mau tanyakan padanya"ucap Rangga.


"Tapi maat tuan, non.. ehm maksud saya nyonya Shanum sedang ada tamu"jawab Harun sedikit gugup.


"Ohhh, kalau begitu saya balik ke ruangan dulu pak Har, kasih tahu saya jika mereka sudah selesai"pinta Rangga lalu berbalik lagi ke ruangannya.


Ceklek.


Rangga pun menoleh.


"Selamat tinggal Sha, samapai jumpa lagi"seorang pria bertubuh tegap dengan rambut bergelombang dan senyum yang sungguh manis, Sedang melambaikan tangannya pada Shanum.


Rangga melihat sepintas pria gagah itu menatap Shanum dengan penuh kekaguman.


"Ehm ehmm"Shanum menatap Rangga yang baru ber dehem dengan wajah tak senang.


Sebagai sesama lelaki ia juga paham pada pandangan yang di berikan pria itu, dan hatinya begitu tak senang melihat istri tercinta di lihat dengan rasa penuh kagum oleh pria lain.


Rangga dengan tatapan dingin melangkah masuk ke ruangan CEO melewati Shanum yang masih berdiri di depan pintu.


Shanum mengerutkan keningnya, tak biasanya Rangga mengacuhkannya seperti itu.


Harun yang menyadari suasana mencekam sepasang suami istri itu merasa tak enak hati, lalu segera pergi diam-diam.


Shanum menutup pintu lalu melangkah ke sofa di mana Rangga sudah duduk dengan sikap dingin.


"Ada apa sayang?"tanya Shanum, jarang Rangga datang tanpa ada keperluan ke ruangannya.


"Memang seorang suami salah jika mendatangi ruangan istrinya?"tanya Rangga terdengar ketus.


Shanum menghela nafas.

__ADS_1


"Maksudku, kau biasanya tidak mau ke ruanganku jika tanpa kepentingan"ucapan Shanum tak ia teruskan saat Rangga tiba-tiba menatap tajam ke arahnya.


"Jadi pria lain bisa dengan bebas ke ruanganmu, sedangkan aku harus ada keperluan dulu agar bisa menemuimu, huum"Rangga mengedikan alisnya.


Shanum kini baru menyadari apa yang membuat sikap suaminya berubah begitu ketus, rupanya karena tamu salah satu investornya tadi.


Shanum berdiri lalu mengambil air di kulkas dan menyodorkannya ke arah Rangga.


"Minumlah dulu, tenangkan hati dan kita bicara dengan tenang"ucap Shanum bijak.


Rangga tak bergeming dari tempat duduknya, hanya melirik sekilas tanpa berniat mengambil gelas yang Shanum sodorkan.


Shanum menghela nafas berat lalu melangkah ke meja kerjanya, bingung rasanya menyikapi tingkah suaminya.


Ish kalau suami sedang marah di rayu kek, malah aku di tinggalin.


Rangga membatin kesal.


"Ehmm hmm"kembali terdengar suara deheman Rangga.


Sebenarnya Shanum ingin tertawa namun ia tahan.


"Minumlah sayang, mungkin tenggorokanmu kering"ujar shanum tapi kini fokus pada layar laptopnya.


Semakin panas hati Rangga di buatnya.


Punya istri dingin, gini amat, kalau nggak ada CCTV aku habisin kamu di sini sayang.


Eh.....ternyata tak ada CCTV di ruangan ini.


Rangga menyisir ke setiap sudut ruangan, ternyata memang tak ada satupun kamera pengintip di situ.


"Huaahhh"Rangga bernafas lega.


Shanum menoleh dan sontak terkejut karena Rangga sudah berdiri tegak di belakangnya.


"Sayang kau.."Rangga tak memberi ampun pada Shanum.


Dengan gerakan memburu, ia mencium bibir mungil sang istri seakan ingin memberinya hukuman atas kekesalan hatinya.


Rangga begitu tak rela jika Shanum masih di idolakan oleh para pria, Ia ingin Shanum hanya miliknya dan tak ada pria lain yang berani memandangnya.


Rangga menekan tengkuk Shanum agar memudahkannya untuk memperdalam pagutannya.


Dengan panas Rangga menumpahkan hasrat di hatinya.


"Emmmmpph"Shanum mencubit pinggang Rangga agar melepaskan ciumannya.


Rangga tersenyum dan mengusap sisa saliva di bibir Shanum yang kini bertambah tebal karena ulahnya.


Kamu hanya miliku, tak ada yang boleh memandangmu lebih dari tiga detik atau terpaksa ku congkel matanya.

__ADS_1


__ADS_2