
Firdaus melerai pelukan setelah Devon menepuk pundaknya .
"Tidak ku sangka kita akhirnya bertemu lagi di sini sob"ujar Firdaus dengan tawa renyah serenyah rengginang baru di goreng .
Devon hanya mengangguk dengan senyum masam ,hatinya merasa tak tenang dengan senyum ceria sahabat masa sekolahnya dulu .
Keduanya duduk berhadapan setelah Shanum mempersilahkan kedua pria tampan di hadapannya .
Wajah Firdaus tampak cerah ceria dan senyumnya selalu tersungging memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapih .
Keduanya kini tampak asik bercerita ,mengenang kembali masa indah di sekolah .
Sedangkan Shanum hanya diam sebagai penonton yang setia menyimak setiap adegan .
Drrtt drrtt
Shanum melirik kearah ponselnya yang bergetar ,rupanya pesan dari Rangga ,iapun tersenyum saat membaca pesan yang ia buka ,sekilas Devon melihat dengan tatapan tajam .
"Siapakah pengirim pesan yang membuatmu begitu bahagia Sha ,kukira pesan dan panggilanku pun tak akan mampu membuatmu bersikap seceria itu".gumam Devon perih .
"Oiya bagaimana kalau malam ini kita rayakan pertemuan kita kali ini Dev,Sha"ajak Firdaus pada keduanya ,Shanum yang perhatiannya masih teralihkan pada pesan dari Rangga ,tampak gugup dengan ajakan Firdaus ,bagaimana ia harus menerima ajakan kedua teman pria masa remajanya, jika ia baru saja menyetujui permintaan Rangga untuk bertemu nanti malam .
"Ehm ,bagaimana kalau besok malam ,kebetulan malam itu ada satu teman ku mengadakan pesta untuk acara peresmian pembukaan caffe nya "Devon yang menyadari rona wajah Shanum yang berubah gugup dan penuh kebingungan akhirnya berinisiatif .
__ADS_1
"Kau berhutang padaku kali ini Sha "Devon senyum smirk .
Sementara Firdaus pun mengangguk tanda setuju .
Setelah beberapa saat saling bertukar cerita akhirnya Firdaus pamit undur diri ,iapun menjabat tangan Shanum dengan erat dengan tatapan hangat penuh cinta ,sedangkan keberadaan Devon ia anggap sebagai angin lalu ,tanpa ia sadari bahwa teman sekelasnya itu adalah rival terberatnya ,karena merupakan tunangan dari gadis yang sedang ia genggam erat tangannya .
"Ehmmm hmmm"
Devona yang merasa teracuhkan pun mencoba menarik perhatian Firdaus ,perasaan dongkol memenuhi dadanya ,seakan tak rela jika tangan halus yang seharusnya ia genggam erat kini tengah berada dalam genggaman pria lain .
Firdaus pun akhirnya melepaskan genggamannya ,iapun melangkah keluar ruangan dan tak lupa mengedipkan mata genitnya pada Shanum .
"Ghooekkhhh "
Devon seakan memperagakan tingkah mual dan akan muntah ,membuat Shanum tersenyum masam karena paham apa yang ada dalam otak tunangannya tersebut .
Devon menatap manik mata Shanum tajam ,sementara Shanum hanya memandangnya sekilas dan mengerucutkan bibirnya yang mungil .
"Shaaa..."
Devon meninggikan nada bicaranya ,yang akhirnya membuat Shanum terdiam dengan mode serius .
"Ehhm oke aku akan cerita "ucap Shanum pelan .
__ADS_1
"Kak Daus ke..."
"Jadi kau memanggilnya dengan sebutan 'kak'.."belum sempat Shanum meneruskan kalimatnya tiba-tiba Devon memotongnya dengan pertanyaan penuh emosi.
Shanum hanya memandang dengan pasrah dengan wajah tertunduk .
"Lalu aku harus memanggilnya abang atau mas "tanya Shanum sedikit kesal .
Akhirnya Devon berusaha menahan emosi yang kini menguasai hatinya ,dengan berusaha bersikap setenang mungkin .
"Oke,baiklah kau boleh memanggilnya kak asal jangan sampai kau rubah menjadi panggilan 'sayang ,karena itu hanya panggilan khusus untukku "Devon berucap tegas .
"Huh "Shanum mencebikan bibirnya membuat Devon harus menahan sekuat tenaga keinginan untuk mencium bibir mungil yang begitu menggoda itu .
Devon terdiam menahan gemuruh di dadanya bersiap mendengar yang akan gadisnya katakan .
"Dia bilang kalau ..."Shanum menghentikan kalimatnya dan memandang Devon lekat ,ia tak ingin kesalah pahaman terjadi ,namun ia lihat Devon tetap tenang .
"Dia bilang apa Sha ?" nada tenang namun tetap menegangkan bagi Shanum .
"Kak Daus bilang kalau... ia menyukaiku "
Mata Devon membulat sempurna saat Shanum dengan pelan meneruskan kalimat yang sudah ia duga sebelum nya namun tetap saja membuat dadanya kini bergejolak .
__ADS_1
"Jadi sahabatku sendiri dengan lancang mengatakan suka pada tunanganku sendiri "uajr Devon masih dengan suara penuh geram .
"Tapi dia kan tidak tahu tentang hubungan kita Dev"bantahan Shanum terdengar menyakitkan bagi Devon ,karena baginya itu merupakan suatu pembelaan pada Firdaus sahabatnya yang kini telah berubah menjadi rivalnya.