Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Selamatkanlah Dia


__ADS_3

Joy segera berlari ke arah mobilnya yang di parkir sisi jalan di sebelah gerbang mansion.


Rupanya pria bercadar yang di curigainya bukan pencuri biasa, karena yang mereka incar adalah Shanum, Joy melihat saat pria bertubuh tegap berjalan dengan membopong tubuh Shanum lalu mendudukannya di kursi depan mobil box terbuka tersebut.


"Shitt"Joy merogoh celananya yang ternyata kunci mobil tak berada di kantongnya, pandangan matanya nanar dan gerakan tangan yang gemetar mencari di setiap saku baju dan celananya.


Kian putus asa Joy setelah beberapa menit sama sekali tak menemukan kunci mobilnya.


"Thank's god"


Mata Joy berbinar bahagia saat sudut matanya menangkap benda kecil mengkilap yang terletak di kolong mobil yang rupanya itu adalah kuncinya yang terjatuh.


Dengan kecepatan penuh, Joy segera menyusul mobil box terbuka yang membawa tubuh shanum.


"Brengsek"Joy memukul stir mobil dengan kencang karena kehilangan jejak mobil Box buruannya.


Kini di persimpangan jalan mobilnya berhenti.


"Aahkk"Terdengar suara erangan lemah dari sisi jalan.


Terlihat sebuah gerobak yang dalam posisi terjungkal dengan sisa dagangan berhamburan di tepi jalan.


"Aaaggghhh, apa lagi ini"Joy berucap sambil mengacak rambutnya, kesal sekaligus di landa kebingungan, apakah melanjutkan pengejaran atau menolong pemilik gerobak.


"Aaaiisshh"Joy keluar dari mobilnya lalu melangkah menuju pria paruh baya yang tengah merintih menahan sakit di kakinya.


"Pak, apa yang terjadi, apa luka bapak parah?"tanya Joy lalu memeriksa luka di kaki pria tersebut.


Tampak celana jeans yang sobek bagian lutut dan darah yang tak terlalu banyak keluar dari luka goresan di lutut dan kedua siku tangannya.


"Sshhhh itu mobil tadi nak jalannya kenceng banget, sampai gerobak bapak keseremped, dagangan bapak juga pada berhamburan semua, gerobag rusak, kaki bapak juga pada lecet"rintih si bapak yang masih terduduk meratapi nasibnya di pinggir jalan.


"Mobil, bapak di seremped mobil apa pak, dan melaju ke arah mana?".


Joy bertanya cepat tanpa memperhatikan kondisi si bapak yang sedang merintih kesakitan.


"Sshh, mobil box jalan ke sana"tunjuk si bapak mengacungkan tangannya ke salah satu sisi dimana mobil box yang menabraknya melaju kencang.

__ADS_1


Joy segera berjalan ke arah mobilnya dan kembali berlari ke arah si bapak membawa tisu dan kotak P3K lalu menyerahkan pada si bapak.


"Pak, ini ada ongkos buat biaya pengobatan bapak dan buat ganti dagangan bapak, sebentar lagi ada ambulan yang akan mengantar bapak ke rumah sakit, maaf saya tinggal dulu ya pak"ucap Joy setelah menyodorkan lembaran kertas merah pada si bapak lalu meninggalkannya setelah menelfon ambulan dan memberitahu lokasi kecelakaan.


"Terima kasih ya den"jawab si bapak yang kini wajahnya kembali tersenyum seakan lupa pada luka-lukanya, setelah melihat lembaran kertas di tangannya bapak itu kini tersenyum senang, jika di hitung uang untuk biaya berobat dan gantii dagangannya masih ada sisa banyak, bahkan jika ia membeli gerobag baru pun uang itu lebih dari cukup.


Dengan kecepatan penuh Joy mengejar box terbuka, suasana jalan yang tampak lengang membantunya menyusul mobil yang membawa tubuh Shanum dengan lancar.


Senyum tersungging di bibir Joy saat melihat buruannya terlihat.


Saat jarak yang semakin terkikis rupanya mobil box menyadari keberadaan Joy yang sedang mengejarnya.


Box terbuka itupun menambah kecepatan, tak ingin kembali kehilangan jejaknya, Joy pun memeped mobil box itu hingga gesekan body berdecit terdengar ngilu dan memekakan telinga.


Sekilas Joy melihat ke arah samping dan terlihat tubuh Shanum terkulai lemas di samping sang sopir yang di apit satu pria bertubuh tegap.


"B*******"umpat Joy begitu kesal, kini matanya merah membara, melihat Shanum yang sedang dalam keadaan tidak sadar membuat Joy begitu murka.


Dengan kecepatan penuh Joy menyalip box terbuka dan berusaha untuk membuat mereka menepi, namun nyali kedua pria itu rupanya cukup besar, karena masih terlihat raut wajah keduanya tak ada rasa takut sedikitpun.


Tak ingin membuang waktu sia-sia ,Joy membanting stirnya ke arah mobil box dengan maksud agar mereka segera menepi dan menghentikan mobilnya, namun untung tak dapat di raih dan malang tak dapat ditolak, di saat bersamaan dari arah berlawanan muncul sebuah sepeda motor melaju kencang.


"Shanuuuum"


*


*


Suasana kepanikan kini memenuhi mansion, Hardy mengerahkan seluruh penjaga untuk mencari Shanum,CCTV pun sudah di periksa dengan teliti, namun tak ada jejak yang mencurigakan sama sekali, seakan menghilangnya Shanum sudah di rencanakan dengan matang.


Rangga terlihat fokus di laptopnya,semua CCTV yang mengarah ke jalan menuju Mansion sudah di ceknya, namun hasilnya nihil.


"Mas mas Rangga, bibi mau lapor"bisik salah satu pelayan dapur mansion dengan suara pelan.


Rangga segera menemui asisten Harun yang sedang berada di ruangan tuan Hardy.


Tok tok

__ADS_1


"Masuk"perintah Hardy dengan nada tegas, wajahnya terlihat tegang, begitupun Harun.


"Ada apa Ngga?".


Rangga pun mengatakan satu kejanggalan yang di rasakan oleh pelayan mansion, dimana mobil box terbuka yang membawa buah-buahan yang seharusnya datang pukul dua belas siang, ternyata baru sampai di mansion setelah maghrib.


Ketiga pria beda generasi itupun segera menyelidiki ke anehan tersebut, penjaga gerbang mansion pun tak luput dari interogasi ketat yang di lakukan langsung oleh Hardy dan Harun.


Meski tak ada kejanggalan dari para penjaga gerbang yang ternyata bekerja sesuai prosedur dan tidak menyalahi aturan Hardy pun memerintahkan beberapa orang untuk menyelidiki tempat di mana mobil Box terbuka yang mengirim buah berasal.


Dari alamat surat jalan tertera bahwa pengirim buah berdomisili di daerah X.


Rangga pun segera melajukan mobil yang sudah Hardy persiapkan bersama Harun menuju kota X.


Hana yang masih merasa shock kini terduduk lemas, sementara Ardi mengusap bahu sang ibu dengan lembut.


"Sudahlah bu, ibu istirahat dulu, biar kak Rangga dan tuan Hardy yang akan mencari mba Shanum, mereka pasti menemukannya"ucap Ardi berusaha menenangkan ibunya.


"Iya bu, sekarang ibu istiraha dulu, semua pengawal pun sudah di kerahkan oleh Tuan untuk mencari Non Shanum, pasti tidak lama lagi mereka akan membawa non Shanum pulang"ujar bibi pelayan lembut dan berusaha menenangkan diri karena merekapun merasa cemas karena malam yang semakin larut dan cuaca mendung yang mungkin tak lama lagi hujan akan turun.


"Ibu akan menunggu di sini Di, kau tidur saja dulu" jawab Hana dengan mata sayu.


Mansion yang kini telah sepi karena semua tamu undangan telah pulang, membuat suasana semakin mencekam, sebagian pelayan ada yang sudah tertidur karena lelah setelah bekerja seharian, dan ada sebagian lagi yang masih terjaga dan menunggu sang Nona Muda mereka.


*


*


Joy berlari di samping brangkar yang di dorong oleh beberapa perawat.


Wajah Shanum yang terlihat pucat dengan darah membasahi pelipisnya, begitupun baju pengantin yang kini berwarna merah akibat noda darah dari pelipis dan bahunya.


"Maaf pak, istri anda akan kami tangani mohon bapak isi data identitas pasien dulu di meja depan" perintah salah satu perawat pada Joy.


"Tolong lakukan yang terbaik dok, dokter tolong selamatkan dia"jawab Joy dengan suara keras pada dokter yang memasuki ruang IGD.


Joy masih memegang pintu ruangan IGD yang kini sudah tertutup rapat? Kedua lututnya terasa lemas membuatnya kini duduk bersimpuh.

__ADS_1


Tatapan matanya kosong, debar jantungnya berpacu kencang, benturan mobil Box yang terjungkal setelah menabrak pembatas jalan kini terbayang jelas di pelupuk matanya, matanya terpejam dan air bening pun lolos dari sudut matanya.


"Tuhan,selamatkanlah dia"


__ADS_2