
Bentar lagi end, jangan lupa like koment dan jangan pelit kasih rate ya ....ππ
Jaga kesehatan dan happy readingπ€π€π€
π¦π¦π¦π¦π¦π¦π¦
Makan malam yang hanya ada Shanum dan Rangga tanpa Hardy.
Kedua pipi kecil yang kini mengembung dengan bibir yang terus mengunyah, terlihat bagai kelinci kecil yang menggemaskan.
Rangga melihat tubuh sang istri yang kini makin padat berisi, tersenyum senang.
Pasti karena hasil karyaku, batin Rangga puas.
Setiap malam tangannya tak pernah absen mempraktekan keahlian baru nya di tubuh Shanum.
Tangan, bibir, dan lidah, semua mempunyai andil dan fungsi masing-masing.
Tak tok tak.
Terdengar suara langkah masuk dari ruang depan.
"Baru pulang Yah?"tanya Shanum berbinar, melihat lelaki paruh baya cinta pertamanya datang.
Hardy tersenyum dan menganggukan kepala.
"Makan Yah" tawar Rangga.
Hardy berhenti lalu memandan ke arah meja makan.
"Heum kelihatannya enak"ujarnya.
"Mari Yah kita makan bareng" Rangga menarik sebuah kursi untuk sang mertua.
Bibi pelayan yang mengetahui kedatangan Tuan besarnya pun segera mengambil sebuah piring kosong lalu menyerahkannya pada Shanum.
Dengan telaten Shanum menyiukan satu centong nasi beserta lauk ke dalam piring lalu menaruhnya ke hadapan sang ayah.
Hardy tampak melihat ke arah piringnya lalu berganti ke arah piring Shanum, terasa ada yang kurang dengan lauk di piringnya.
"Sha, kenapa lauk untuk ayah tidak sama dengan punya mu?"tanya Hardy.
Shanum tersenyum melihat tingkah polos sang ayah.
"Kalau Shanum memang pake sambal ati ayam Yah, dan ayah tak akan sanggup memakannya karena ini sedikit pedas"jawab Shanum tenang.
Rangga pun melihat ke arah piring Shanum, memang terlihat sedikit lebih berwarna merah dari miliknya dan sang mertua.
Tatapan Rangga tajam ke arah Shanum, melihat dari warnanya Rangga tak percaya jika itu ber rasa hanya sedikit pedas.
"Apa benar itu hanya pedas sedikit sayang?"tanya Rangga penuh selidik.
__ADS_1
Menu yang berwarna merah pekat itu menunjukan rasa yang rata-rata pedas menggigit di lidah.
Shanum mengangguk dan meneruskan makannya tanpa sadar ayah Hardy dan Rangga tengah menatapnya tajam.
Rangga menatap Hardy yang mengedikan bahu ke arahnya dengan melirik ke arah piring shanum.
Rangga yang paham isyarat sang mertua pun mendekat kan piringnya sejajar dengan piring Shanum.
"Hmm sepertinya makanan milikmu lebih enak sayang" Rangga mencolek sayur berwarna merah pekat dengan ujung sendoknya lalu mengecap dengan ujung lidahnya.
Matanya membulat sempurna, bagaimana mungkin rasa yang begitu pedas bahkan terasa panas di tenggorokannya itu masih di bilang 'sedikit pedas' oleh Shanum.
Rangga menggelengkan kepalanya sambil memandang Shanum.
Hardy yang tanggap dengan perubahan wajah Rangga, segera memanggil bibi pelayan yang bertugas memasak di dapur mansion.
"Bi, ini masakan apa bi?" tanya Hardy pada pelayan yang menundukan wajahnya.
Pelayan itu tak berani menatap wajah sang tuan besar yang kini tengah menatapnya tajam.
Sebenarnya ia sudah menolak dengan lembut, permintaan nona muda mereka, karena akan berakibat dengan kemarahan tuan besar.
Namun entah mengapa tak ada satupun yang tega menolak permintaan Shanum yang tempo hari meminta dengan wajah memohon agar mereka mau masak balado kentang dengan campuran ati ayam kesukaan nona mereka.
Hardy pun tak dapat menyalahkan mereka, apalagi Shanum yang tampak begitu lahap dengan makannya.
Tak biasanya Hardy melihat nafsu makan Shanum yang melebihi hari-hari biasanya.
Shanum hanya mengangguk ringan namun tetap saja tangannya menyendok dengan porsi besar masuk ke dalam mulutnya.
Tak ada sedikit pun terlihat mulutnya merasakan siksaan pedasnya cabai yang di makan.
Rangga hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.
Shanum menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, di usapnya perut rata yang kini terasa penuh setelah sepiring nasi dengan lauk balado kesukaanya tandas ke dalam perut mungilnya.
Rangga mengusap dahi Shanum yang basah dengan bulir-bulir keringat.
Sementara Hardy yang masih meneruskan makannya yang belum selesai.
"Yah, aku ke kamar dulu ya" ujar Shanum lalu bangkit berdiri.
"Kenapa dengan perutmu Sha, apa terasa sakit?"tanya Hardy cemas.
Namun Shanum menggeleng pasti.
"Aku ngantuk yah, sayang aku ke kamar dulu, tolong kau temani ayah dulu menyelesaikan makannya" Rangga mengangguk lembut.
Hardy menatap kepergian Shanum, ada rasa haru di hatinya, mendapat perhatian yang besar dari putri satu-satunya.
Rangga kini mengambil jeruk dan mengupasnya.
__ADS_1
"Ehm bagaimana persiapan pernikahan kalian Ngga?"tanya Hardy.
"Ehm sudah sembilan puluh persen Yah, baju sudah fitting kemarin"
Hardy manggut-manggut puas, semua relasi bisnis dan rekan kerja sudah ia undang.
"Hmm kapan kalian akan mulai cuti, dan berapa lama?" lanjut Hardy.
"Mungkin aku akan ambil dua hari Yah mulai besok tapi Shanum tiga atau empat hari"jawab Rangga.
Karena memang tak banyak undangan yang mereka sebar, selebihnya mereka telah menyiapkan beberapa ratus box makanan untuk di bagikan ke beberapa panti asuhan.
"Baiklah kalau begitu ayah minta kau selesaikan semua urusan kantor sebelum kau cuti, karena tugas Shanum pun harus kau juga yang meng handlenya"terang Hardy.
"Baik Yah, aku usahakan semua urusan penting sudah ku selesaikan sebelum cuti ku ambil, begitupun tugas Shanum"ujar Rangga pasti.
"Kalau begitu istirahatlah, jaga kondisi tubuh kalian, acara resepsi esok akan banyak menguras tenaga dan fikiran kalian"ujar Hardy.
Rangga mengangguk.
Rasa kantuk berat yang menyerang setelah makan malam membuat Shanum tergolek di atas sofa, nafasnya teratur dengan mulut sedikit terbuka membuat dengkuran kecil terdengar halus.
Ceklek.
Langkah Rangga tertahan, matanya membulat.
Shanum tergolek di atas sofa, bahkan sebelum menggganti bajunya dengan baju tidur.
Dengan perlahan Rangga mengangkat tubuh ramping sang istri dan membaringkannya ke ranjang.
Tak ada adegan panas yang sudah ia rencanakan, dengan berbagai gaya dan posisi terpaksa ia cancel.
Tak tega rasanya membangunkan sang istri hanya untuk memuaskan hasrat ego nya.
Entah beberapa kali Rangga menahan nafas saat melucuti pakaian Shanum, dengan gerakan penuh kelembutan akhirnya berhasil juga baju tidur itu terpasang di tubuh Shanum.
Rasa kantuk yang sudah menyerang membuat Rangga pun ikut terkapar.
Pagi yang cerah Hardy tampak segar keluar dari kamarnya, teh hangat pun sudah di siapkan oleh pelayan mansion seperti biasa.
"Selamat pagi, ini tehnya tuan,"sapaan dan anggukan hormat menyapa Hardy.
"Bi, bagaimana persiapan untuk acara resepsi lusa, apa sudah siap semua?"tanya Hardy.
"Sudah tuan, semua bahan makanan sudah kami pesan dan mungkin sore nanti mereka akan mengirimnya" jawab bibi pelayan.
"Tolong siapakan juga kamar untuk para tamu ku bi, bersihkan beberapa kamar yang kosong di lantai atas"sambung Hardy.
Ia adalah seorang sosok yang sangat menghargai para sahabat dan rekannya, dan ia ingin memberikan yang terbaik untuk para tamunya saat resepsi lusa.
Banyak rekan bisnisnya yang bertempat tinggal di luar kota,maka iapun mempersiapkan beberapa kamar jika di perlukan.
__ADS_1