
Tubuhnya terbaring di ranjang besar nan nyaman namun Rangga masih tak bisa memejamkan kedua matanya.
Sementara Shanum sudah terbang ke alam mimpinya.
Nafasnya terdengar teratur, tubuh yang membalik berlawanan membuat Rangga tak dapat menikmati wajah cantik sang istri.
Ada sedikit kesal di hati Rangga kenapa sampai ia seceroboh itu, entah makanan apa yang nasuk ke dalam perutnya yang membuat kepalanya terasa begitu pusing, hingga tak sadar kejadian sebenarnya.
Pagi menjelang, Rangga bangun setelah mendengar bunyi gemericik air di kamar mandi, di lihatnya jam menunjukan angka lima lebih tiga puluh menit.
Di pijitnya batang hidungnya dengan perlahan, durasi tidur yang hanya empat jam, membuat kepalanya terasa berat.
Ceklek.
Shanum muncul dari kamar mandi dengan bathrobe berwarna biru laut dan lilitan handuk kecil di kepalanya.
"Kau sudah mandi sayang" sapa Rangga.
"Heum" lagi-lagi hanya jawaban singkat yang membuat hati Rangga berdenyut nyeri.
Sampai kapan kau akan tetap dingin padaku Sha?.
"Mandilah, lalu kita sarapan bersama" ujar Shanum tiba-tiba.
Rangga tertegun, apakah sekarang Shanum sudah berhenti menghukumnya, batin Rangga.
"Kenapa masih diam? apa hari ini kau tidak berangkat ke kantor?"
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya merasa sedikit pusing" ujarnya dengan nada sedikit di dramatisir sambil memijit pelipis.
Shanum mendekat dan menempelkan punggung tangannya di kening Rangga, dan terasa hangat.
"Kau sakit? Tunggu sebentar aku akan mengambil obat untukmu."
Namun langkah Shanum tertahan saat Rangga kembali meraih tangannya.
"Jangan pergi, biarkan seperti ini dulu sebentar."
Rangga memeluk pinggang sang istri dengan erat, ia begitu rindu akan kehangatan Shanum, rindu wangi tubuh Shanum dan rindu peluk hangat Shanum.
__ADS_1
"Sayang pusing kepalamu harus di obati segera."
Rangga menggeleng cepat.
"Aku tak mau obat, aku hanya ingin kamu sayang, jangan jauhiku ku mohon, sudahi marahmu itu membunuhku sayang...maafkan atas semua salahku atas kecerobohanku."
Shanum mengusap kepala Rangga dengan lembut, tak di pungkiri bahwa ia pun sebenarnya sangat tersiksa saat tak merasakan dekapan dan pelukan hangat Rangga di saat mereka tidur, bahkan tubuhnya bagai layu saat tidak merasakan tangan Rangga yang biasanya bermain nakal di tubuhnya.
Shanum pun di landa rindu belaian Rangga.
"Sayang, tolong jangan lagi mendiamkan aku seperti ini, hatiku sakit sayang...katakan apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku." Rangga menatap Shanum intens, semua daya dan upaya yang di lakukannya tak dapat meluruhkan keteguhan sang istri.
Shanum meenghela nafas panjang, dua hari ia mengacuhkan suami yang sebenarnya hatinya pun sangat tersiksa.
"Aku hanya ingin kau berjanji tak akan membuatku cemas lagi" ucap Shanum terbata.
Shanum bahkan merasa sesak dadanya bagai jantungnya berhenti, tak ada kabar berita dari Rangga membuat dunianya seketika menjadi gelap, ponsel yang menjadi kunci terhubungnya berita tak aktif bahkan sang asisten pun tak mengetahui keberadaannya.
"Aku tah bisa berjanji, aku hanya akan buktikan jika tak akan lagi ku buat hatimu cemas" ucap Rangga pasti.
Shanum tersenyum dan mengecup ringan bibir Rangga lalu melangkah ke arah lemari pakaian untuk menyiapkan baju Rangga.
Rangga tersenyum haru, hatinya begitu lega, perang dingin akhirnya usai, salju kini mulai mencair, kebisuan yang membuat hatinya perih kini kembali seperti semula.
Ciuman panas sebagai ucapan selamat bekerja dari Shanum pagi tadi adalah moodboster terbaik baginya.
Stamina yang tadi tampak loyo dan tak bertenaga kini bagai sebuah motor yang kehabisan bensin yang sudah di isi full tank kembali, dan siap meluncur membelah jalanan.
David yang menyadari wajah sang bos sudah kembali cerah ceria kini tersenyum lega.
Semoga saja akan menjadi awal hari baik, batinnya.
"Vid, mana berkas yang harus gue tanda tangan?" tanya Rangga antusias yang melihat rak file masuk masih tampak kosong.
Cih mentang-mentang sudah dapat vitamin, pagi-pagi sudah nangtangin tanda tangan, lupa kemarin setumpuk berkas hampir lolos bos.
"Belum pak." David menjawab singkat lalu lembali fokus pada tugasnya.
"Oiya Vid, lu tolong informasikan pada pihak personalia dan front office kalau ada tamu buat gue harus melewati konfirmasi elu dulu, gue tidak mau kejadin kemarin terjadi lagi, tak ada yang boleh masuk ke ruangan ini tanpa se ijin gue dan elu, mau itu klien Testafood ataupun perusahaan lain, tak perduli sebesar apa saham mereka di Wijaya Corp. Titik."
David mengangguk patuh, iapun merasa kecolongan atas kejadian Linda yang masuk ruangan atasannya tanpa konfirmasi padanya terlebih dahulu, ia tak menyalahkan pihak personalia karena memang Linda sudah sering bahkan hampir seminggu tiga kali ia datang ke gedung Wijaya.
__ADS_1
Jadi mereka pikir pimpinan Testafood tersebut merupakan sahabat dekat dari Tuan Rangga yang merupakan wakil CEO dari Wijaya Corp.
Rangga melangkah ke luar ruangan, makan siang ini sengaja ia ingin menikmati suasana bersama Kevin sahabatnya.
"Lu kapan nikah sama Rara?" tanya Rangga di tengah mereka nikmati hidangan makan siang.
"Ehm dua minggu lagi, kebetulan lu ada, sekalian gue mau ngundang lu buat hadir besok."
"Ok sipp pasti gue datang."
"Ehm, jangan lupa ajak Nona Shanum."
"Hei, dia istri gue napa lu masih panggil dia Nona?"
Kevin tersenyum masam.
"Dia masih tetap cantik bahkan semakin cantik, panggilan Nyonya menurutku terlalu tua untuknya, lebih pantas Nona Muda Shanum he hee"
Rangga mencebik kesal, memang di mansion pun masih banyak yang memanggil istrinya dengan sebutan nona meski mereka tahu Shanum sudah memiliki suami bahkan sebentar lagi akan melahirkan.
Jangan sampai saat sudah memiliki anak pun mereka masih memanggil Nona, yang tentu akan membuat para lelaki berfikir bahwa Shanum belum bersuami.
"Akan ku usahakan kami datang bersama."
"Terima kasih, oiya kemarin Rara mengatakan padaku, dia melihat kau di sebuah restoran dengan wanita petinggi Testafood" ucap Kevin di tengah mulutnya mengunyah makan siang.
Rangga menatap Kevin lekat.
"Rara lihat gue sama bu Linda?"
"Heum"
"Oh i iya itu saat bu Linda ngajak makan sebagai tanda terima kasihnya atas kerja sama dengan perusahaan kita."
"Apa hanya itu?" tanya Kevin penuh selidik.
"Maksud lu apa Vin?" tanya Rangga dengan tatapan penuh selidik.
"Gue hanya berharap lu nggak berubah Ngga, gue masih mengharap lu adalah sahabat gue yang selalu menghargai wanitanya, yang selalu menjaga hatinya hanya untuk wanita yang sudah menyerahkan jiwa dan raganya untukmu, gue akan sangat kecewa jika ternyata lu membuat hati Nona Shanum terluka.."
Nada ucapan Kevin begitu tenang dan dalam.
__ADS_1
"Kami hanya makan malam tidak lebih, itupun dia yang meminta"
"Baguslah, ku harap begitu, karena yang kami tahu, hati bu Linda tidak secantik raga nya."