
Rangga melangkah meninggalkan butik dengan bulu halus tubuhnya masih meremang sempurna.
Ia yang lepas kendali dan menyerang Shanum dengan ciuman panas, ternyata ber efek pada wanita berbahu tegap itu.
Tonjolan benda yang mengeras terlihat jelas menyembul, dari dress sebatas lutut yang di pakai Merry.
Untung saja dapat tersamar karena cardigan yang di pakainya hingga Shanum tak menyadari keanehan itu.
Shanum tampak bingung dengan sikap Rangga yang kini terlihat gugup dan memintanya untuk menyudahi acara fitting yang belum selesai.
Sudah cocok dan sesuai, itulah yang Rangga pakai sebagai alasan agar Shanum segera menyudahi fitting dan pergi dari butik laknat itu, entah kenapa hati Rangga begitu geram.
"Ish kau ini, kenapa sayang? Kenapa mengajak pulang, kau kan belum mencoba jas mu?"Tanya Shanum yang terpaksa masuk ke dalam mobil setelah Rangga dengan pelan namun memaksanya segera masuk ke dalam mobil.
"Jas untuk ku nggak usah di coba, apa pun akan ku pakai" jawab Rangga ketus.
Shanum menautkan alisnya "Ada apa sayang?".
Rangga menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion.
Tak ingin memperkeruh suasana, Shanum pun diam tak lagi bertanya pada suami yang kini wajahnya terlihat tegang dan shock.
Jika meminta Shanum untuk menjaga jarak dengan wanita berbahu tegap itu, rasanya tak mungkin, karena mereka sudah terikat kontrak pekerjaan yang tinggal beberapa hari lagi.
Sesampainya di mansion, Rangga masih menunjukan sifat anehnya yaitu dalam mode diam dengan wajah tegang.
"Bi, ayah mana"Shanum mengedarkan pandangan ke arah ruang keluarga di mana ayah Hardy selalu duduk di dekat jendela sambil memandang taman yang berada di samping mansion.
"Tuan belum datang non" jawab bibi sambil sedikit membungkukan badannya.
"Ya sudah bi, tolong siapin makan ya bi, kami akan turun setelah membersihkan badan" Shanum berucap lembut, lalu melangkah ke lantai atas.
Sedangkan Rangga sudah beberapa menit yang lalu, sudah masuk ke kamar mandi.
Shanum hanya memandang ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan suara gemericik air terdengar jelas dari balik pintu.
Apa yang mresahkan hatimu sayang, Shanum membatin.
Tak lebih dari tiga puluh menit, akhirnya Rangga keluar dari pintu kamar mandi.
Dengan lilitan handuk di pinggangnya Rangga berjalan menuju lemari pakaian.
__ADS_1
Bahu yang kekar dengan perut sixpack sungguh pemandangan yang indah di pandang mata, berkali-kali Shanum melirik ke Rangga yang tengah berdiri fokus memilih baju di lemari.
Seakan tak dapat mengendalikan diri, Shanum perlahan berdiri dan melangkah mendekati Rangga.
Melihat tetesan air yang mengalir dari ujung rambutnya menambah kesan ke sexy an sang suami.
Tangan Shanum bergerak perlahan mengusap air di punggung tegap Rangga.
Seakan tak percaya, Rangga membalikan tubuh saat tangan halus menyentuh kulit punggungnya.
Kedua alisnya terangkat, sungguh di luar kebiasaan, mendapati sang istri yang kini bertingkah tak seperti biasanya.
Shanum sontak menarik tangannya saat Rangga membalikan tubuh menghadap ke arahnya.
Rangga tersenyum kecil lalu kembali menarik tangan kecil sang istri dan kembali mengarahkan ke tubuhnya, kali ini dada bidang dan perut rata miliknya, ia biarkan Shanum meng eksplor tubuhnya dengan sapuan lembut tangan mungilnya.
Saat gerakan tangan terhenti pada batas lilitan handuk di pinggangnya, Rangga kembali menuntun tangan itu agar meneruskan usapannya semakin ke bawah.
Meski sedikit ragu, Shanum pun mengikuti gerakan tangannya, wajahnya kini merona merah saat benda kenyal yang tengah tertidur di balik kain handuk teraba oleh tangannya.
Shanum ingin menyudahi aksinya namun gerakan tangan Rangga menahannya, bahkan dengan sedikit menekan tangan Shanum agar terus mengusap benda kenyal itu.
Senyum smirk Rangga terbit.
"Kau yang membangunkannya, maka kau pun harus bertanggung jawab untuk menenangkannya kembali" bisikan Rangga di telinga Shanum.
Shanum mencebik kesal lalu membalikan tubuhnya hendak ke kamar mandi.
Namun tubuh kecilnya tak kuasa melawan tenaga Rangga yang dengan mudah menariknya ke dalam rengkuhannya.
"Mau di sini apa di kamar mandi" kalimat dengan hembusan fanas yang memburu, terasa jelas di tengkuk Shanum, dan benda tumpul panjang yang kini mengeras sempurna seakan hendak menembus bagian belakang tubuh Shanum.
Glek.
"Tapi kau kan sudah mandi sayang, nanti kedinginan" elak Shanum.
"Jika tubuhku kedinginan maka kau yang akan menghangatkannya"kalimat Rangga berakhir dengan tubuh Shanum yang kini terangkat sempurna saat Rangga membopongnya untuk masuk kembali ke kamar mandi.
Saat itulah handuk yang melilit tubuh Rangga terlepas.
Shanum memalingkan mukanya yang kini bagai kepiting rebus.
__ADS_1
Seakan Rangga tak perduli dengan tubuhnya yang kini polos dan tepat menghadap ke arah Shanum yang ia dudukan di atas kloset.
"Kenapa harus malu sayang, kau bahkan sudah merasakannya berkali-kali" bisik Rangga lalu dengan lembut mengalihkan kembali wajah Shanum agar menghadap ke arah nya.
Shanum tercekat dengan mata membulat sempurna.
Setelah merasakan keperkasaannya, baru kali ini ia melihat begitu dekat benda yang selalu bisa membuatnya terbang ke surga.
Tak menyangka akan bentuk yang di luar nalarnya.
Pantas saja bagian inti tubuhnya selalu terasa begitu sesak saat benda itu sepenuhnya masuk ke tubuhnya.
Rangga membiarkan Shanum yang masih memandang takjub Arjunanya.
Sebagai wanita dewasa yang sudah sering menikmati kehangatan dan belaian manja sang suami, Shanum dengan instingnya perlahan memajukan wajah dan kian mengikis jarak hingga kini Arjuna yang tegak menantang berada tepat di depan bibirnya.
Tubuh Rangga bergetar sempurna, gelenyar panas menjalar di sekujur tubuhnya, ******* halus lolos dari bibirnya yang tanpa henti meracau dengan kedua tangan meremas rambut Shanum.
Erangan keluar tertahan saat lidah Shanum begitu memanjakan Arjunanya.
Nafas yang memburu dan kedua mata terpejam dengan rahang mengembung, Rangga seakan tengah terbang melayang di udara.
Sensasi yang Shanum berikan sungguh memabukkan.
Tak tahan dengan hasrat yang ingin segera di tuntaskan, Rangga mengangkat tubuh Shanum hingga berdiri di atas kloset.
Satu persatu kain di tubuh Shanum di lucuti oleh Rangga.
Dengan gerakan ringan di angkatnya tubuh ramping Shanum dan kini berganti Rangga mendudukan tubuhnya di atas kloset.
Shanum menggerakan tubuhnya perlahan di atas tubuh Rangga.
Keduanya menyatu dengan irama nan lembut dengan posisi duduk berhadapan tubuh Shanum di atas tubuh Rangga.
Kegiatan panas itu baru selesai setelah mereka berganti beberapa posisi.
Dan keduanya pun terkulai lemas saling berpelukan saat penyatuan usai dengan semburan Arjuna memenuhi rahim Shanum.
Dengan senyum bahagia terpacar dari wajah Rangga, yang dengan telaten menyabuni seluruh tubuh sang istri tanpa satu inci pun terlewatkan.
Andai tahu sensasi bercinta di kamar mandi begitu menyenangkan apalagi dengan tingkah Shanum yang kini tampak lebih agresif membuat otak Rangga kini berfikir lebih keras, gaya apalagi yang akan mereka lakukan di kamar mandi nanti.
__ADS_1