
"Apa kita langsung pulang pak?" tanya David.
"Iyaa pulang lah memang ke mana lagi?" jawab Rangga cepat.
David mengulas senyum, atasannya hari ini sangat bersemangat berkali-kali ia melihat jam di pergelangan tangannya dan senyumnya langsung terbit saat jam kerja usai, sudah tentu ada penyemangat di mansion yang tak lain adalah Nyonya muda Shanum, David membatin.
Dengan langkah penuh semangat Rangga memasuki pintu mansion.
Jika Shanum tak ada di ruang tengah, biasanya ia tengah menikmati sore hari di taman dengan teh kesukaannya.
Bergegas Rangga mandi dan menyusul Shanum ke taman.
"Selamat sore cantik, muuacch" kecupan hangat Rangga mengagetkan sang istri.
"Tumben pulang sore?" tanya Shanum penuh selidik.
"Aku ingin menikmati sore hari di taman bersama istriku tercinta."
Shanum mencebikan bibirnya.
"Sayang, apa kau tidak bosan terus berada di mansion?"
Shanum menatap suaminya tak mengerti.
"Sebaiknya kita jalan-jalan menikmati suasana sore di sekitar mansion, bagaimana? sekalian melemaskan otot kakimu."
Shanum tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
Keduanya berjalan mengitari lingkungan mansion.
Rangga mengandeng tangan Shanum erat, menikmati sore hari yang cerah bersama sang istri sunguh baru pertama kali untuknya.
Senyum selalu tersungging dari bibir mungil Shanum.
"Kau senang sayang?" tanya Rangga.
"Heum, rasanya damai menikmati sore sambil jalan-jalan."
Rangga tersenyum masam, karena kesibukannya ia melewatkan waktu berharga bersama sang istri yang tengah hamil dan membutuhkan perhatian extra darinya.
"Mulai besok, kita akan menikmati sore bersama seperti ini" ucap Rangga.
__ADS_1
"Sungguh?"
"Ya, mulai besok aku tidak akan lembur lagi, aku akan pulang setiap pukul lima sore ah ...sebaiknya pukul empat aku sudah harus pulang, agar kita bisa lebih lama lagi menikmati sore bersama."
Shanum tersenyum bahagia.
Di tengah asiknya menikmati suasana keduanya di kagetkan dengan suara dengungan nyaring yang berasal dari sebuah sepeda ontel kuno.
Mata Rangga berbinar dan segera melambaikan tangan agar pengendara sepeda tersebut menghentikan laju sepedanya.
"Sayang apa yang kau lakukan" tanya Shanum panik.
"Heum, tunggulah di sini, kita akan menikmati makanan tempo dulu yang sangat lezat" ujar Rangga pasti.
"Makanan apaan" Shanum masih tak percaya apa yang suaminya katakan.
Sepeda ontel yang membawa sebuah gerobak yang merupakan asal sumber nyaring tersebut berhenti.
"Bang minta sepuluh biji bang" pinta Rangga.
"Hah biji apa sayang?" bisik Shanum pelan.
Rangga tertawa keras melihat keluguan sang istri, anak sultan mana kenal makanan model seperti ini, batinnya.
Tak berapa lama, akhirnya pesanan sudah terbungkus rapi.
"Bang jadi berapa?" tanya Rangga.
"Jadi lima belas ribu pak" jawab sang penjual.
Rangga menyodorkan uang lima puluhan dari dompet di kantong celananya.
"Ini bang, nggak usah di kembalian" Rangga menyerahkan uang tersebut.
"T tapi ini terlalu banyak pak" ujar penjual tersebut bermaksud untuk tetap mengambil uang kembalian di tas selempang miliknya.
"Sudah bang tidak apa-apa kami ikhlas"
Sang penjual menatap Rangga dengan haru, matanya tampak berkaca-kaca.
"T terima kasih pak, terima kasih atas kebaikan hati bapak" ucap sang penjual yang masih berumuran dua puluhan itu dengan haru.
__ADS_1
"Bang kenapa malah nangis?" tanya Shanum mendekat ke arah sang penjual yang kini terisak dengan mencium uang pecahan lima puluh ribu yang di berikan oleh Rangga.
"Ah maaf bu, saya hanya merasa sungguh bersyukur, entah kenapa hari ini dagangan saya sepi, untunglah ada bapak hingga saya bisa mendapat uang untuk membeli obat istri saya" terang sang penjual dengan mata masih berkaca-kaca.
"Memang istri bapak sakit apa pak?" insting Shanum yang sesama perempuan terusik.
"Sudah dua hari ini dia ngeluh kepalanya pusing, dan berkunang-kunang, sudah di beliin obat warung tapi belum ada perubahan, saya takut kalau terus-terusan minum obat warung akan berbahaya bagi bayi yang di kandungnya, jadi saya berniat untuk membawanya berobat ke bidan" jelasnya lagi.
Shanum dan Rangga tercekat, kerasnya hidup di ibukota membuat kaum lemah tak bisa berbuat banyak, biaya hidup sehari-hari tidaklah murah apalagi dengan fasilitas kesehatan yang masih tergolong mahal bagi mereka yang berpendapatan pas-pas an.
Bahkan seorang ibu yang sedang mengandung pun masih harus menahan sakit karena tak adanya uang untuk berobat.
Shanum menatap Rangga lekat, seakan mengetahui isi hati sang istri, Rangga pun kembali merogoh dompet yang ada di saku celananya.
"Bang, ini tolong di terima, dari istri saya untuk berobat istri abang" ujar Rangga sambil menyerahkan lima lembar uang ratusan ke arah sang penjual.
"Ah t tidak pak, jangan tidak usah, ini pun sudah terlalu besar bagi saya, terima kasih atas kebaikan bapak tapi maaf saya tidak bisa menerimanya" tolak sang penjual dengan halus.
Rangga dan Shanum saling pandang.
"Abang, kalau begitu kami beli saja semua jualan abang, bagaimana?" usul Shanum tiba-tiba.
"Ah tidak perlu bu, ibu dan bapak pasti hanya tinggal berdua dan dagangan saya masih banyak bu, nanti tidak akan ke makan, sayang bu, pak" alasan logis sang penjual membuat Rangga tersenyum.
"Bang, kami tinggal di mansion yang ada di ujung jalan sebelah sana, dan di sana ada beberapa orang yang mendiami mansion, ada empat orang bibi yang bertugas di dapur, satpam ada dua, sopir ada satu, tukang kebun satu, banyak kan? Jadi makanan abang tidak akan terbuang, dan saya yakin para bibi di mansion juga akan menyukai makanan ini bahkan mungkin mereka sangat rindu makanan yang sudah jarang kami temui ini, dan ngomong-ngomong bagaimana bisa abang masuk ke area privat ini bang?"
"Ah kebetulan ada satu penghuni rumah di sebelah sana yang berlangganan dengan jajanan saya tapi hari ini rupanya mereka sedang pergi pak" ucapnya dengan lesu.
"Nah kebetulan bang kami borong semua dagangan abang , pasti kami makan bang, banyak penghuni mansion kok, jadi abang tidak usah khawatir, jajanan abang tidak akan mubazir" Shanum berucap dengan nada pasti.
Penjual itu pun tampak tersenyum dan mulai mempercayai Rangga dan Shanum
"Baiklah pak, kalau memang jajanan saya tidak akan mubazir, saya akan buatkan semua untuk bapak dan keluarga di rumah" ucapnya dengan semangat.
Di sebuah pembatas jalan Rangga dan Shanum duduk menikmati jajanan kue tradisional bercira rasa manis dan lembut tersebut.
Mata indah Shanum berbinar saat kue tradisional berwarna hijau dan beraroma wangi gula aren masuk ke mulutnya.
"Bagaimana? Enak?" tanya Rangga."
Shanum mengangguk cepat, baru kali ini ia menikmati rasa kue yang begitu wangi dan lembut bercampur sedikit gurih dari rasa kelapa muda parud yang di aplikasikan di atas permukaan kue yang bernama kue putu tersebut.
__ADS_1
kedua sudut bibir Rangga naik dan membentuk setengah lingkaran.
"Ini kue kesukaanku waktu kecil sayang, setiap sore hari aku dan Ardi selalu menunggu di depan rumah untuk menanti abang penjual kue putu seperti ini."