
Rangga tersenyum menyalami sang ibu, perasaan bersalah karena telah berprasangka jelek pada pemegang pintu surganya itu.
Pelukan erat ia lakukan pada tubuh sang ibu yang kini sudah termakan usia, seakan ingin menebus kesalahannya.
Hana tersenyum haru memandang putra sulung kesayangannya, setelah perjuangannya selama ini merawat keduanya tanpa seorang pendamping hidup di sisinya, membuat Hana begitu menyayangi keduanya, kini tiba saatnya melepas sang putra untuk menempuh kehidupan baru bersama seorang gadis yang di cintainya.
"Makanlah Ngga, setelah itu istirahat, karena sore ini kita harus langsung kembali ke kota untuk melamar neng shanum"ucap Hana lembut namun dengan bahagia terlihat jelas dari matanya, karena waktu yang mendesak Rangga harus menggunakan sebaik mungkin.
*
*
Vina tampak terlihat fokus memilih beberapa desain baju pengantin yang di sodorkan sahabatnya Mery, permintaanya agar baju itu terlihat cantik dan elegan namun tidak terlalu glamour, itulah permintaan Shanum.
"Lu kayak pesen baju buat lu aja Vin, teliti banget" ujar Mery yang untuk kesekian kali mendapat protes dari Vina yang meminta di jahit ulang baju yang telah di pilihnya karena kurang sesuai dengan permintaanya.
"Aju ingin hasil yang sempurna Mer, karena ini adalah gaun untuk teman istimewaku juga"sahut Vina dengan tatapan menerawang, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
__ADS_1
Saat Shanum menerima permintaan maafnya dengan ikhlas meski dapat di katakan bahwa ia adalah seorang wanita yang telah merebut sang tunangannya sendiri, saat itulah Vina bertekad ingin menebus kesalahannya pada Shanum, dan apapun akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik untuknya.
"Apa dia saudara lu Vin?"tanya Mery penasaran, karena tak biasanya Vina begitu perhatian pada teman wanitanya, apalagi dengan memberinya sebuah baju pengantin hasil master piecenya untuk hadiah.
"Dia adik gue"ujar Vina tersenyum bahagia, kini ia sudah menganggap Shanum sebagai adiknya sendiri karena usia mereka memang terpaut dua tahun.
Mery hanya menggelengkan kepala, karena ia tahu Vina adalah seorang anak tunggal, dan jika ia menganggap adik pada seseorang maka tentulah orang itu sangat spesial baginya, tak ingin mengorek kehidupan pribadi customernya lebih dalam, Mery pun kembali melanjutkan kegiatannya, menyempurnakan gaun pengantin sesuai yang Vina pinta.
Shanum memandang layar ponselnya, senyumnya mengembang saat melihat lambaian dan kecupan perpisahan saat panggilan vidio berakhir dari Rangga.
Geli rasanya membalas salam perpisahan yang bagi Shanum seperti sepasang remaja yang sedang di mabuk cinta, jika dulu ia mengenal Rangga begitu datar dan cenderung dingin namun kenapa kini berubah seratus delapan puluh derajat, sejak bersama dengannya.
Terlihat tadi baru satu kalimat yang Shanum katakan namun di balas beberapa kalimat panjang dengan bonus wanti-wanti agar selalu menghindar jika ada lelaki yang mendekatinya.
Setelah begitu lama hidup tanpa perhatian dari orang lain, kini shanum begitu bersyukur Rangga begitu menyayangi dan memperhatikannya.
"Ehmm hmmm"suara bariton terdengar di dekatnya membuat Shanum spontan mengalihkan pandanganya dari layar ponselnya.
__ADS_1
"Maaf, sudah mengagetkanmu"ujar pemilik suara yang tak lain adalah Joy.
Shanum tersenyum sekilas lalu mengangguk ke arah Joy yang kini menatapnya dengan tajam.
Merasa kikuk akhirnya Shanum pun memberanikan diri untuk mempersilahkan pria berparas babyface itu untuk duduk.
"Ah terima kasih"Joy terbata karena tersadar dari hayalan indah tentang gadis cantik di depannya.
Mata, bibir, hidung dan alis yang begitu mempesoan, seakan sayang rasanya jika ia melewatkannya begitu saja.
Senyum Joy merekah melihat Shanum tampak bingung dan salah tingkah setelah beradu pandang dengannya.
Joy merasa hari ini begitu indah, apalagi makan malam di temani dengan gadis pujaan, senyum terus saja mengembang dari bibir pemuda yang sedang di mabuk cinta itu, tanpa tahu kenyataan jika kini hati gadis di depannya ternyata telah menjadi milik pria lain.
Hatinya penuh dengan bunga warna-warni saat ini, impiannya memiliki sang pujaan kini telah di depan mata, bayangan untuk hidup bahagia seakan tinggal selangkah lagi, itulah yang ada dalam benak Joy.
Beberapa rencana besar telah ia siapkan dengan sang mamah yang selalu mendukungnya, tanpa Joy sadari kenyataan di balik itu, yang pasti akan membuat hatinya kembali terluka.
__ADS_1
Shanum menikmati jamuan makan malam istimewa yang telah Joy sediakan di salah satu ruang VVIP restorannya.