
Shanum terdiam membeku di tempatnya berdiri.
Ia benar-benar tak menduga apa yang membuat ibu mertuanya berfikir jika ia harus menggunakan kursi roda.
"T tapi apa harus dengan kursi ini bu" wajah Shanum terlihat begitu melas, ingin rasanya ia menolak.
Membayangkan harus di dorong menggunakan kursi roda saat bepergian, sedangkan tubuhnya tidak sedang terluka sedikitpun, bagaimana nanti pendapat orang lain.
Mungkin cibiran dan tatapan penuh kebencian akan ia terima, sebagai anak manja ataupun anak durhaka yang membiarkan ibu mertuanya mendorong kursi roda sedangkan dirinya sehat-sehat saja.
Hana tersenyum melihat raut muka sang menantu, ia pun paham jika Shanum merasa keberatan jika harus menggunakan kursi itu sedangkan tubuhnya baik-baik saja.
Shanum terdiam mencoba memahami setiap kalimat yang mertuanya sampaikan.
Memang kekhawatiran ibu mertuanya tentu saja beralasan kuat.
Kondisi kesehatannya dengan janin yang rentan, membuatnya harus extra hati-hati menjaga kandungan.
Dan Hana tak ingin sesuatu yang buruk menimpa menantu dan calon cucunya.
Tak ingin mengecewakan Shanum, maka inilah jalan terbaik yang Hana lakukan.
"Bagaimana, apa tidak jadi kita pergi ke mall, kita ganti dengan menikmati sore di taman?"
Hana mencoba menawarkan alternatif lain agar Shanum tak kecewa.
"Baiklah bu, kita pergi ke mall, dan aku mau memakai kursi roda itu."Shanum tersenyum masam.
Hana tersenyum mendengar kalimat yang keluar dari sang menantu.
"Baiklah sayang, ini untuk kebaikan kita semua" ucap Hana.
Shanum terdiam.
"Untuk kebaikan kita semua?" ujarnya tak mengerti.
Hana mengangguk.
"Ibu tak ingin sesuatu yang buruk menimpa kau dan calon cucu ibu, begitupun Rangga tentu akan sangat sedih jika melihat kau sakit dan kau pun tak mau membuat ayah Hardy cemas bukan?"
Shanum mengangguk penuh haru, kini ia sadar, perhatian dari ibu mertua merupakan bentuk rasa sayang padanya.
Kini Shanum tak perlu lagi berfikir tentang pandangan orang lain, selama itu tak merugikannya maka ia tak perlu membuang waktu percuma untuk memikirkan pendapat mereka.
Yang shanum perdulikan adalah ia tak ingin mengecewakan orang-orang yang perduli dan menyayanginya.
Hana tersenyum melihat Shanum muncul dari kamarnya dengan dandanan rapi.
Dress berwarna nude sebatas lutut dengan bahan karet di pinggang, terlihat manis di tubuh Shanum.
Apalagi dengan rambut kuncir kuda, sungguh imut bahkan layaknya seorang gadis ABG yang sedang menikmati sore ibunya di mall
Wajahnya yang putih mulus hanya ia poles dengan bedak tipis dengan olesan lipstik berwarna pink natural.
"Sudah siap sayang?".
Shanum mengangguk penuh semangat.
Ia mengggandeng sang ibu mertua lalu memasuki mobil sedan hitam dan di ikuti sang pengawal yang mengikuti dengan mobil lain di belakang.
Shanum sudah me wanti para pengawal agar jangan terlalu mencolok menjaganya.
Sang pengawalpun mengangguk patuh, meski diam-diam mereka selalu berada tak lebih dari lima meter di belakang Shanum dan ibu mertuanya.
__ADS_1
Karena atas permintaan Shanum, kali ini mereka tidak mengenakan seragam hitam seperti biasa, melainkan pakaian casual layaknya pengunjung mall lain.
Senyum manis Shanum selalu terbit di sepanjang jalan.
Meski dengan kursi roda tapi ia merasa nyaman karena Rangga memilihkan kursi dengan bahan premium hingga nyaman di pakai.
Beberapa kali Shanum menanyakan apakah Hana merasa lelah karena mendorongnya, namun Hana menggeleng pasti.
Perhatian Hana teralihkan saat Shanum yang tak melepas tatapannya pada satu gerai yang menjual makanan viral dari negeri ginseng.
"Ada apa Sha?" tanya Hana lembut.
"Ehm tidak apa-apa bu."
Hana melihat Shanum intens, wajahnya berubah murung.
Hana menghentikan kursi roda yang di dorongnya.
Pandangannya kini tertuju pada gerai yang Shanum lihat dari tadi.
"Apa kamu mau membelinya Sha?" lanjut Hana yang merasa tak tega melihat wajah sang menantu menjadi murung.
Shanum mengangguk pasrah.
"Aku ingin makan itu bu, tapi makanan itu di larang untuk kita."
Hana membulat lalu menutup mulutnya, rupanya makanan yang sedang shanum inginkan mengandung satu bahan yang di larang bagi umat muslim.
Hana terdiam, di amati nama makanan yang tertulis di gerobak.
"Sha, coba kau lihat bahan-bahan untuk membuat makanan seperti itu di ponsel, mungkin ibu bisa membuatkan untukmu."
Kalimat yang sungguh membuat Shanum seketika tersenyym lebar dan tatapan mata yang berubah terang seterang lampu taman yang baru di ganti bohlamnya.
Matanya dengan seksama melihat di laman pencarian tentang apa yang Hana minta.
"Ini bu bahan-bahan dan cara membuatnya" Shanum menunjukan layar ponsel pada Hana antusias.
Hana membaca dengan teliti.
"Baiklah, kita beli bahan-bahannya sekalian di mall ini lalu nanti ibu akan mencoba membuatnya, ibu pikir tidak terlalu sulit."
Shanum mengangguk penuh semangat.
Mall besar ini tentu saja sangat lengkap, berbagai bahan makanan semua tersedia.
Dan tak membutuhkan waktu lama, semua bahan untuk membuat makanan viral itupun sudah lengkap.
karena hari mulai gelap, mereka pun berjalan menuju pintu keluar mall.
"Nona Shanum..." samar terdengar suara memanggil Shanum.
Hana pun menoleh ke asal suara.
Wanita paruh baya yang terlihat cantik dan elegan, berjalan mendekati Shanum dengan mata yang tak lepas memandang ke tubuh Shanum yang mengenakan kursi roda.
"Kamu kenapa Sha, apa kamu sakit? Kenapa memakai kursi roda?"
Maharani melangkah mengelilingi Shanum dan meneliti tubuhnya.
"A aku tidak apa-apa tante, aku hanya tidak boleh bergerak terlalu banyak, jadi dengan kursi roda ini membuat kaki dan tubuhku tak terlalu lelah" terang Shanum.
Maharani tersenyum lega, tak sadar tangannya mengusap kepala Shanum dengan lembut.
__ADS_1
Hana yang melihat pun merasa ikut terharu, menantunya begitu banyak yang menyayangi rupanya, batin Hana.
Keduanya pun pamit untuk pulang, karena hari mulai gelap.
"Sepertinya tante itu begitu menyayangimu Sha?" ucap Hana.
"Oh, dia tante Maharani bu, dia punya butik di mall ini."
Hana hanya mengangguk.
Pengawal yang tak jauh dari mereka pun bergegas naik ke mobil untuk mengawal mereka pulang.
Shanum tak henti menebar senyum saat kembali ke mansion, bayangan makanan viral kini akan ia nikmati.
Keberadaan ibu mertua di mansion sungguh membuat hari nya bersemangat.
Setelah membersihkan diri Shanum pun segera membaur dengan ibu mertua dan para bibi di mansion yang sudah mulai membuat makanan yang nona muda mereka inginkan.
Berkali-kali Hana meminta Shanum untuk tetap duduk, namun jiwa kepo yang begitu besar membuatnya tak mau mengikuti larangan Hana.
Ia bahkan ikut membuat adonan berbahan tepung hingga bajunya kini berubah menjadi putih karena percikan tepung.
Ceklek.
Rangga masuk ke mansion, tak biasanya sore ini dapur mansion masih terlihat rame, bahkan ibu dan sang istri tampak serius dengan kegiatan mereka.
Tak ingin mengganggu keasikan mereka, Rangga langsung beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat melewati ruang makan tadi, meja makan terlihat sudah penuh dengan menu makan malam, namun apa lagi yang sedang mereka buat, tanya Rangga dalam hati.
Tubuh yang sudah segar kembali, Rangga pun berniat pergi ke dapur untuk bergabung dengan istri dan ibunya.
Ceklek.
"Kau sudah pulang sayang?"
Ternyata Shanum kini sudah di kamar dengan baju penuh tepung.
"Heum, apa yang kau buat di dapur mansion, hingga kepulanganku pun tak kau sadari." Rangga merengkuh tubuh Shanum dan mencium puncak kepalanya.
"Ehm ibu buatin aku makanan yang lagi viral, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu, kita makan bersama" ucap Shanum antusias.
Rangga mengangguk paham lalu duduk di sofa dan menunggu Shanum.
Setelah berganti baju rumahan keduanya menuju lantai bawah untuk makan bersama, Hana tersenyum melihat kedatangan sang putra.
"Masak apa bu?" tanya Rangga.
Hana tak menjawab namun tersenyum dan mengambil makanan yang baru di buatnya ke piring Rangga, sementara Shanum mengambil buah di kulkas dapur.
"Kau harus bersyukur nak, rupanya banyak yang menyayangi istrimu" ucap Hana lembut.
Rangga menatap sang ibu dengan bingung.
"Maksud ibu apa?"
"Tadi ada wanita mungkin sepantaran ibu, yang melihat kami dan ibu lihat wanita itu begitu cemas melihat Shanum yang memakai kursi roda, dia begitu menyayangi Shanum, mungkin tante dari ibu Shanum" jelas Hana.
Rangga masih belum berfikir dengan jerih.
"Tante siapa bu?."
"Ehm, M maharani, iya maharani."
__ADS_1
Glek..