
Asep tersenyum senang, bu Shanum tampak menikmati masakan yang di buat oleh istrinya.
"Jangan terlalu banyak makan pedas sayang , kasihan baby nya nanti panas dalam perutmu" ujar Rangga lembut.
Shanum tetap mengunyah makannya tanpa mengindahkan ucapan suaminya.
Masakan Anah sungguh lezat, membuat lidahnya menari karena di manjakan dengan masakan rumahan sederhana, namun ber cita rasa bak masakan yang di buat oleh chef ternama , Shanum enggan melewatkan satupun jenis makanan yang ada di hadapannya.
Anah mengerutkan keningnya, kalimat pak Rangga saat menyebutkan bahwa ada baby di dalam perut bu Shanum membuatnya tersentak.
"Bu, apa ibu sedang hamil?" tanya Anah panik.
Shanum mengangguk sambil mengunyak makanan serba mentah, sungguh segar rasanya menikmati karedok buatan istri Asep.
Anah dengan sigap mengambil piring berisi karedok yang saat ini sedang di hadapan Shanum.
"Bu maaf bu, ibu tidak boleh makan ini" ujarnya sambil menahan piring di tangannya.
"K kenapa Anah, tidak terlalu pedas kok, perutku masih bisa menerimanya" protes Shanum yang seakan tak rela makanan segar itu di ambil alih kembali oleh Anah.
Asep memandang istrinya dengan tatapan kaget, betapa tidak sopan sang istri pada pasangan tersebut, batinnya geram.
"Maaf bu, ibu hamil tidak boleh makan karedok ini, soalnya ada bahan yang tidak boleh wanita hamil memakannya" terang Anah polos menjelaskan alasannya melarang Shanum memakan karedok buatannya.
Shanum menatap piring berisi karedok dengan tatapan tak reka untuk melepasnya.
"Apa sungguh tidak boleh Nah" kali ini Rangga bertanya karena merasa iba dengann wajah Shanum yang terlihat begitu memelas.
Anah menggeleng pelan, sungguh ia tak tahu jika saat ini bidadari penolongnya tengah tengah berbadan dua, andai ia tahu sebelumnya maka ia pun tak akan membuat makanan berbahan mentah dengan bumbu kencur yang sebagian wanita hamil di larang mengkonsumsinya, bukan hal baru bagi Anah mengetahuinya karena iapun pernah mengalaminya saat awal kehamilan yang begitu menginginkan makanan sayuran segar tersebut namun di larang oleh almarhumah ibunya.
Rangga dan Shanum memaklumi ke khawatiran istri Asep, karena memang untuk kebaikan maka Shanum pun menurut dan tak lagi memakannya.
Anah segera membereskan peralatan sisa makan mereka, ia bersikeras menolak Shanum yang ingin membantu.
"Bang Asep, Anah, terima kasih sudah mau menerima kami, maaf jika kedatangan kami merepotkan kalian" ucap Rangga wibawa.
__ADS_1
"Ah tidap pak, kami yang seharusnya minta maaf, jamuan kami sangat tak layak kami sajikan untuk bapak dan ibu, dan keadaan kami tentu membuat kalian merasa jijik dengan rumah kumuh dan masakan sederhana yang tak pantas kami hidangkan" ujas Asep lugu.
Wajah Anah menunduk dalam, ada rasa sesal di hatinya saat tak dapat memberikan yang pantas untuk tamu istimewanya.
Shanum tersenyum, wajah polos Anah yang menyiratkan raut sesal tergambar jelas.
Shanum meraih tangan Anah dan menggenggamnya erat.
"Nah, kamu kenapa jadi murung seperti itu, maafkan kami kalau kedatangan kami membuatmu tak nyaman apalagi dengan usia kehamilanmu tentu sangat lelah sudah masak sebanyak ini"
Anah tergagap dan memandang wanita cantik bak bidadari yang tengah memegang tangannya.
"T tidak bu, sungguh kedatangan kalian adalah berkah untuk kami, kami sangat senang bapak dan ibu sudi datang ke rumah kumuh kami sungguh kami sangat, sangat berterima kasih atas kebaikan bapak dan ibu selama ini" ucap Anah dengan kepala tertunduk dengan kedua mata yang kini berembun.
Shanum merasa trenyuh, Anah di usianya yang masih terbilang belia, sudah di hadapkan dengan kerasnya dunia.
"Kami mohon pamit, jaga kandunganmu Anah, makanlah yang banyak, biar bayimu sehat, dan kau juga harus minum vitamin dan makan banyak buah-buahan."
Anah mengangguk-anggukan kepalanya bagai seorang adik yang sedang mendapat wejangan dari sang kakak.
Asep dan Anah melepas pasangan tersebut dengan penuh haru.
"Sudah cantik seperti bidadari, hatinya juga baik dan lembut, ah sungguh beruntung pak Rangga mendapatkannya, akupun merasa kagum pada bu Shanum, sungguh cantik"
Membayangkan wajah putih halus Shanum, Anah tak sadar mengusap pipinya.
"Sudah ayo neng, kita masuk, sudah mau maghrib" ajak Asep.
Anah tersenyum bahagia, berkali-kali ia mengucap rasa syukur yang tak terkira.
Perlengkapan bayi pemberian bu Shanum sangat bagus, semua terbuat dari bahan yang nyaman untuk kulit bayi, juga perlengkapan mandi untuk bayi pun sangat banyak bahkan mungkin baru akan habis beberapa tahun ke depan.
Mata Anah terpaku pada satu kertas berwarna putih polos yang terdapat di salah satu bungkusan tersebut.
"Ya Tuhan baang, abaang ke sini cepat."
__ADS_1
Teriakan Anah membuat Asep bergegas ke kamar melihat apa yang membuat sang istri berteriak histeris.
"Ada apa neng, kenapa kamu?"
Asep diam berdiri di ambang pintu melihat Anah memandang tak berkedip pada kertas putih di tangannya.
Asep mendekat perlahan dan ia pun terkesiap.
Kertas putih yang tak lain adalah sebuah amplop berisi uang kertas puluhan lembar berada di tangan Anah yang sedang memegangnya dengan tangan gemetar.
Terima kasih kalian sudah menerima kami, mohon terimalah sedikit uang dari kami, simpanlah untuk persiapan biaya persalinan kalian, kami harap bantuan kecil kami bisa sedikit membantu kalian.
Air mata mengalir dari sudut mata Asep saat membaca secarik kertas tulisan dari pak Rangga.
Anah mendekap amplop putih erat di dadanya, tak henti sara syukur ia panjatkan.
Sementara itu di sebuah ruang apartemen, Linda masih duduk dengan wajah layu, rasa pening di kepalanya masih sedikit terasa.
Namun begitu ia masih bisa merasa lega, karena tak ada yang mengusiknya saat dalam keadaan mabuk berat.
Pembalut yang sengaja ia pakai untuk melindungi tubuhnya berfungsi baik.
Memang sudah biasa Linda akan mengenakan perlengkapan wanita tersembunyi itu untuk menyamarkan keadaan tubuhnya.
Linda merasa dengan menggunakannya akan membuat pria perfikir ulang untuk menjamah tubuhnya saat ia dalam keadaan tak sadar.
Senyum masam Linda terbit, ia sudah paham dengan sifat Peter, lelaki casanova sahabat Lefrant kakaknya yang beberapa minggu ini mendekatinya secara intens.
Lelaki buaya tersebut tentu saja tak mungkin me lepas Linda dengan mudah, jika saja ia tak melindungi dirinya dengan perlengkapan rahasianya pastilah Peter sudah dengan mudah menjamah tubuhnya.
Lefrant beberapa kali berkunjung ke apartemen Linda dengan mengajak lelaki itu, tentu saja kode rahasianya pintu apartemen sudah ia hapal di luar kepala.
Bukan rahasia lagi, kehidupan liar Peter yang terbiasa dengan bergonti-ganti wanita sudah di ketahui Linda sejak dahulu.
Karena itu dia tak pernah merespon saat Peter mengutarakan rasa suka pada dirinya.
__ADS_1
Meski dengan berbagai cara Peter menarik hati Linda agar gadis itu luluh.
Hati Linda sudah terpatri, tak ada tempat untuk lelaki lain di hatinya, meski ia sadar perasaannya sudah berlabuh di dermaga yang salah namun Linda tetap akan berusaha semampunya.