Nona Mudaku Separuh Nafasku

Nona Mudaku Separuh Nafasku
Bulan Madu


__ADS_3

Seorang satpam sedang merutuki nasibnya setelah Linda menyuruhnya membeli makanan ber cita rasa pedas asam dan manis.


Lelah yang di rasa oleh sang satpam, setelah jalan lebih dari empat puluh menit, tak satu pun gerobak yang menjual makanan yang bercita rasa seperti yang Linda inginkan.


Waktu menunjukan angka sebelas di ponsel satpam tersebut, keringat keluar dari pori-pori keningnya dan mengalir lewat pelipis, seragam biru navy nya pun sudah tampak lepek.


Entah mimpi apa dia semalam, di pagi menjelang siang yang sangat terik ia harus mencari makanan yang aneh menurutnya.


Jika di sebutkan makanan tersebut ber rasa pedas asam manis dan segar.


Gerobak yang berjejer tersebut kebanyakan menjual makanan sejuta umat, alias baso atau mie ayam, ketoprak, batagor dan sebagainya.


Namun dari semua makanan tersebut Linda menolak tegas, bahkan lewat pesan teks yang di kirimnya, satpam mendapat amukan amarah dari CEO Testafood tersebut.


Di tengah kebingungannya satpam tersebut mendengar bunyi nyaring yang berasal dari sebuah gerobak yang baru datang.


Ting ting ting.


Satpam menoleh ke arah gerobak yang hendak di parkirkan di barisan paling ujung.


Tanpa bertanya dulu pada Linda lewat pesan singkat, satpam langsung memesan satu porsi pada penjual tersebut.


Bodo amat, dari pada pulang dengan tangan kosong, pikir sang satpam.


Pria bertubuh tinggi tegap tersebut bergegas ke ruang Linda.


Linda tersenyum senang dengan mata tertuju pada bungkusan di tangan satpam.


"Terima kasih bang" ucap Linda.


"Ini kembaliannya Bu"satpam menyodorkan uang kembalian berjumlah tiga lembar puluhan ribu.


"Ah buat abang saja."


Linda tak sabar membuka bungkusan yang masih terasa hangat tersebut.


Tak ingin mendapat amukan singa betina yang sedang kelaparan, satpam bergegas pergi dari ruangan, kalau perlu ke kutub pun ia mau, agar Linda tak lagi menyuruhnya mencari makanan aneh yang sangat sulit di temui.


Mulut Linda membulat, bayangan seporsi rujak buah yang di bawa sang satpam ternyata bukan.


Linda membuka plastik berisi kuar berwarna coklat pekat.


Dengan bungkusan lain berisi irisan mentimun dan dua buah adonan berbentuk lonjong terbuat dari tepung yang di kukus lalu di goreng kemudian di iris dan tampaklah di dalamnya berisi telur.


Dengan sepucuk sendok, Linda mencoba kuah pekat tersebut.


Matanya berbinar lebar, tak beda jauh dengan rasa rujak buah di rumah Anah, pikirnya.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk" titah Linda sambil terus mengunyah makanan yang belum pernah ia makan sebelumnya itu.


"Lin, bagaimana dengan...." Lefrant tak melanjutkan kalimatnya, bahkan langkahnya terhenti saat di lihatnya sang adik tengah asik melahap makanan dengan begitu bernafsu.


"Heh, lu berapa hari belum makan?" tanyanya sarkas.


Linda mengacuhkan sang kakak, hanya acungan jempol yang ia perlihatkan bahwa makanan yang sedang di nikmatinya terasa enak.


Lefrant memutar matanya jengah, lalu membanting kertas file di meja.


"Lu lihat, itu daftar daerah dengan penghasil ikan terbesar di kota x, lu kirim orang ke sana dan segera buat perjanjian dengan para nelayan tersebut, untuk memasok hasil tangkapannya pada kita."


"Siap kak" jawab Linda singkat.


Sementara di ruangan lain di gedung Wijaya Corp.


Rangga mencak-mencak di ruangan Divisi keuangan di mana sahabatnya Kevin ternyata telah melangsungkan pesta pernikahan di kampung tanpa mengundangnya.


"Lu tega bener dah Vin, udah dari jauh hari lu bilang nyuruh gue supaya dateng sama Shanum, tapi apa hah?, ternyata malah lu rayain tanpa ngundang gue ke pesta elu."


Kevin hanya bisa diam di tempat duduknya, ia tak bisa mengubah keputusan keluarganya yang menginginkan pesta di kampung Rara.


"Sorry bro, gue nggak punya hak veto, seluruh keluarga gue dan keluarga Rara, menginginkan pesta di kampung."


"Ya se tidaknya lu ngasih kabar ke gue kek biar gue kalaupun nggak bisa bareng Shanum, gue bisa kok datang sendiri."


Rangga menatap Kevin lalu menghela nafas panjang, ia pun tak bisa menyalahkan sahabtanya itu, di tengah kesibukannya mengurus acara pernikahan mana sempat mikirin sahabat karibnya yang lupa di undang, pikir Rangga.


Maafin gue Ngga, batinnya.


Rangga pergi ke ruangannya setelah mengirim pesan pada sang asisten.


David mengerutkan kening, atasannya memintanya untuk mengurus dua tiket perjalanan pulang pergi ke pulau dewata, lengkap dengan vila tempat untuk menginap selama satu minggu.


Rangga menghempaskan pantat ke kursi dengan kesal.


"Bos, bukannya di tanggal ini ada pertemuan penting?" tanya David.


"Bukan buat gue."


Semakin David di buat penuh tanda tanya.


"Buat sahabat gue Vid, lu jangan berpikiran macam-macam" ujar Rangga karena jengah mendapat tatapan aneh dari asistennya.


"Siapa sahabat bos?."


"Kevin, bagian Divisi keuangan" lanjutnya.


David hanya ber 'oh' ria tanpa suara.

__ADS_1


Enak banget jadi sahabatnya, bisa dapat liburan bulan madu gratis selama satu minggu dengan vila paket lengkap, gumam David.


"Bos ehm, kalau misalnya suatu saat saya menikah, apa bos juga akan memberi saya hadiah paket bulan madu gratis seperti ini?" tanya David asal.


"Hah tentu saja, mulai sekarang kau cepatlah cari pasangan agar segera ku siapkan hadiah bulan madu istimewa buat elu."


"Beneran bos?" tanya David tak percaya dengan perkataan bosnya, ia baru bekerja beberapa bulan, rasanya mustahil jika atasanya akan memberi hadiah istimewa saat ia menikah nanti.


Rangga menatap asistennya tajam.


"Gue nggak pernah obral janji Vid, lu bisa pegang omongan gue, jika nanti lu nikah tanpa gue beri hadiah paket bukan madu satu minghu menginap di vila, maka kau bisa menuntutku."


"Heum" David menaikan alisnya dan memajukan bibir, tak percaya.


"Lu masih nggak percaya gue, apa harus pakai materai agar lu percaya hum?"


"Ya ...jika semua janji manis bisa di percaya, buat apa materai di ciptakan" ujar David santai.


"Sialan lu, udah sono lu cari betina mana yang cocok buat lu ajak kawin, lalu pilih pulau mana yang lu mau, buat destinasi bulan madu elu."


"Jia sadis amat bos, emang ane domba, nyari betina buat di ajak kawin" David berucap santai sambil berlalu.


Bersamaan dengan David yang hendak memasuki pantry, munculah bang Asep dari dalam lift.


"Eh bang, bang Asep dulu waktu bulan madu sama istri abang, pergi kemana bang" tanya David santai.


Asep memandang David dengan dada sedikit sesak.


"Jangankan bulan madu pak David, buat beli satu unit kompor baru saja, saya harus ngumpulin duit dulu, kami nikah sangat sederhana pak, tak ada pesta apalagi bulan madu, kita mah yang penting nikah sah, sudah sangat bersyukur pak, tidak neko-neko, kami hanya ingin hubungan kami sah di mata hukum dan Tuhan, agar kami terhindar dari zina pak."


Glek.


David menelan saliva yang terasa pahit.


"Eh pak David nanyain bulan madu, apa pak David sudah punya calonnya pak?" tanya Asep penuh selidik.


"Ah b belum bang, do'a in ya biar saya cepat dapat jodoh."


"Yah pasti pak David, saya do'akan bapak cepat bertemu dengan wanita impian bapak dan di satukan dalam ikatan pernikahan."


"Aamiin bang, oiya bagaimana acara tujuh bulanan kemarin bang? Lancar kan?" tanya David lagi.


"Alhamdulillah pak, semua berjalan dengan lancar, bahkan bapak Rangga dan bu Shanum datang ke rumah kami pak, juga ada bu Linda CEO dari Testafood ikut bersama mereka, sungguh kami sangat haru dan bahagia mereka mau hadir di rumah sempit kami."


"Hah, bu Linda?"


"Iya pak, bu Linda yang cantik dan sexy itu, bahkan beliau sangat suka rujak buatan istri saya pak, sampai habis dua mangkuk."


"Rujak, bu Linda makan rujak?" David seakan tak percaya.

__ADS_1


"Iya pak, rujak tujuh bulanan, saya rasa bu Linda sangat menyukai rujak, jadi lucu saat lihat beliau makan dan begitu menikmatinya, persis seperti wanita yang sedang ngidam rujak."


Hah ngidam????


__ADS_2